pagi ini selepas sholat shubuh di masjid dekat kos.. langkahku terhenti oleh sapaan seorang ibuk2 yang pada usia mudanya adalah aktivis tulen HMI dan suaminya adalah ketua PB HMI di awal tahun 1990-an… “mas anggun, ngak ikut LK 3??…. kemarin anak2 ngadain LK 3 lho.. setelah 6 tahun vakum.. lumayan yang ikut.. ada 26 orang….”

obrolan singkat yang membuatku sadar bahwa idealisme dan gerak organisasi islam masih terus berjalan dan bertahan di tengah tidak begitu kuat lagi euforia untuk menjadi aktivis organisasi keagamaan bagi sebagian besar mahasiswa… untuk LK 3 yang merupakan jenjang pengkaderan tertinggi di HMI, para senior2 yang sudah hampir punya cucu akhirnya turun gunung untuk mempersiapkan training..

jenjang dan jaringan pengkaderan di organisasi kemahasiswaan islam saat ini harus bertarung dengan oportunisme politik indonesia… selepas menjadi aktivis mahasiswa biasanya langkah aktivis ini bermuara dalam pertarungan politik praktis.. menjadi politisi dan anggota parlemen…

tetapi para aktivis ini kemudian kebanyakan kalah bersaing dengan pengusaha kaya raya yang lebih disukai oleh partai politik.. kalaupun ada yang bisa survive, mereka pun harus punya kekuatan modal atau mencari donatur dalam proses meraih kursi untuk jabatan tertentu… atau jaringan kekuasaan yang melihat kecakapan komunikasi massa pada sosok aktivis itu… kemudian mereka menjadi penyokong intelektual dan pembela retorika dari pemimpin parpol yang melamarnya…

namun godaan untuk menjadi kaya seketika, telah membuat beberapa nama aktivis mahasiswa islam terjerembab dalam kubangan korupsi…

di antara yang masih tetap bertahan dan istiqomah kebanyakan adalah yang kemudian memilih untuk berkarier di dunia pendidikan… sebagai dosen…

mudah2an masih survivenya beberapa organisasi mahasiswa Islam di kampus-kampus memberikan harapan bagi Indonesia untuk terus melahirkan anak2 muda yang idealis… yang kemanapun mereka berkarier, ada ideologi dan semangat kebaikan yang mereka perjuangkan untuk Indonesia…

aku masuk HMI pada semester 2 kuliah.. bergabung dengan salah satu komisariat HMI paling keren di Indonesia.. HMI komisariat ekonomi UGM… namun interaksi yang cukup intens antara HMI komisariatku dengan salah satu organisasi intelektual syiah di jogja dan beberapa trainernya bermahzab syiah membuatku merubah haluan pergerakan… masuk salafi untuk memperkuat pondasi akidah… pertarungan antara ustadz salafi yang saling menghajr di kala itu menghadirkan rasa damai dalam islam hambar kurasakan… hingga kututup pengembaraan spiritual dan intelektual semasa mahasiswa dengan menjadi aktivis ikatan mahasiswa muhammadiyah…

sebuah pengalaman berharga yang membuatku mengalami berbagai warna corak keislaman.. dan merasakan di masing2 organisasi pergerakan islam punya kelebihan masing2 yang bisa dipadukan untuk menjadi sebuah kekuatan besar…

kalau kita belajar sejarah, kita akan menemukan kisah bahwa panglima pasukan dimana ibnu taimiyah (seorang sosok ulama rujukan utama gerakan salafi masa kini) bergabung adalah sosok dengan pemahaman aqidah asy-sya’irah.. tetapi ibnu taimiyah yang keras secara aqidah masih mau berjuang di bawah satu panji islam…

ketika gerakan2 islam masih di bawah 1 bendera ahlul sunnah, insya Allah persatuan dan gerak2 bersama itu masih sangat mungkin untuk digalang..

bahkan banyak kita temukan aktivis HMI yang kemudian bekerja di amal2 usaha muhammadiyah… banyak aktivis PKS yang ngaji sama ustadz2 muhammadiyah… ustadz2 salafi sangat nyaman ngobrol dengan ustadz2 muhammadiyah…

usaha persatuan umat islam perlu terus digerakkan di level elite dan grassroot.. di kalangan mahasiswa dan golongan tua…

alhamdulillah gerakan persatuan itu sudah coba digerakkan oleh MIUMI dalam ranah intelektual… dan kita berharap koalisi aktivis gerakan islam di ranah mahasiswa bisa juga terjalin.. sehingga ada kolaborasi untuk meraih jabatan2 penting di berbagai lembaga intra kampus…