saya punya banyak kenalan yang baru mendapatkan IELTS 6,5 setelah belajar bahasa inggris bertahun2… setelah mengambil beberapa kelas persiapan IELTS… beberapa yang lainnya harus mengambil tes IELTS lebih dari 5 kali sebelum mendapatkan nilai yang representatif untuk kuliah lagi di luar negeri… beberapa yang lain harus setiap hari begadang di kala malam, suntuk membahas satu per satu soal2 IELTS….

 
kita tak akan pernah lelah dan menyerah apabila melihat proses yang para awardee universitas luar negeri lalui.. bukan hanya terpaku kepada foto senyuman mereka di depan universitas luar negeri yang berhasil mereka masuki…
 
seorang teman yang saat ini kuliah s3 di UK mengatakan kepada saya, perjuangan mencari beasiswa dan mengejar IELTS untuk kuliah ke LN belum ada apa2nya dengan hari2 berat yang harus dilalui di bangku kuliah…
 
ada ratusan halaman buku dan jurnal yang harus dibaca setiap hari.. menulis paper setiap minggu yang harus berdasarkan textbook berbahasa akademik yang seringkali harus dibaca berulang2 untuk dipahami…
 
berapa banyak teman2 yang merasakan pahitnya bagaimana proposal riset langsung dihabisi oleh professornya.. berapa banyak yang kemudian tidak bisa mengulangi prestasi bisa lulus dengan predikat cumlaude seperti IPK saat S1 untuk kuliah s2 dan s3 nya di luar negeri..
 
buat teman2 yang saat ini berjuang untuk IELTS dan kuliah ke luar negeri tetaplah bersabar melalui proses berat ini… karena ini hanyalah training awal untuk menghadapi tantangan sebenarnya nanti… tantangan beratnya kuliah.. tantangan apa yang bisa kontribusikan dan perbuat setelah mendapat gelar master dan doktor…
 
========================
 
menutup threat ini, saya ingin menampar diri sendiri dengan sebuah artikel yang dibuat oleh seorang awardee lpdp di salah satu universitas di inggris…
 
bagi yang ingin ke LN, jangan pernah terpikirkan untuk memakai cara ‘licik’ dengan cara mendaftar untuk tujuan DN terlebih dahulu dengan harapan bisa diterima karena persyaratan bahasa lebih rendah dari tujuan LN dan seleksi tidak memakai bahasa Inggris, lalu berencana untuk pindah universitas LN saat sudah diterima nanti karena LPDP tidak lagi memperbolehkan pindah universitas dari DN ke LN.
 
Akhir kata, jika anda memang belum siap, persiapkanlah dulu diri anda dengan sebaik-baiknya. Jangan tergesa2 karena kuliah di LN tidak semudah kelihatannya, karena walaupun seleksi LPDP itu berat, kuliah di LN jauh lebih berat. Bahkan yang sudah diterima di universitas dan jurusan yang mensyaratkan IELTS minimal 7 saja masih sering kesusahan.
 
Jika menghadapi persyaratan dan proses seleksi LPDP saja anda tidak mampu dan terus saja berkoar dan sibuk menyalahkan, bagaimana anda akan menghadapi perkuliahan di LN?
Bagimana nanti anda akan menghadapi tugas-tugas dan presentasi yang banyak sekali dengan deadline berdekatan?
Bagaimana nanti akan menghadapi reading lists berupa daftar buku dan jurnal yang harus dibaca yang jumlahnya tidak hanya satu atau dua?
 
Bagaiman nanti anda akan berdiskusi di dalam kelas dan menyampaikan pendapat anda?
 
Bagaimana nanti anda menghadapi standard penilaian di LN yang sangat ketat dan tinggi?