mungkin sebagian kita bertanya2.. kenapa bu erlinda dari KPAI sangat keras banget bicara soal LGBT… begini teman2… LGBT bukan sekedar soal pengakuan hak2 warga negara… lebih dari itu, ini soal MASA DEPAN SEBUAH BANGSA… kalau teman-teman baca sebuah publikasi riset di amerika, teman-teman akan mendapati informasi bahwa di tahun 2002 sekitar 6 sampai 14 juta anak di amerika diasuh oleh orang tua LG… mereka kebanyakan adalah anak adopsi…. bahkan ada ditemukan anak adopsi yang dibeli dari praktek human trafficking… terkhusus untuk yang “L” mereka sekarang mendapatkan akses untuk memiliki anak lewat bank sperma… teman-teman bisa bayangkan apabila para gadis di indonesia jadi nasabah bank sperma…

 
kalau semisalnya LG hanya cukup memuaskan diri dengan pasangannya dan tidak mengajak atau mencari korban dari orang “normal”, terlepas dari pelanggaran norma agama, mereka boleh saja2 mengatakan “itu hak saya dan kami melakukannya suka sama suka”…
 
tetapi apabila sudah bersinggungan dengan masa depan anak yang sangat rentan dengan kejahatan dan implikasi berbagai persoalan sosial yang baru, rasanya tak salah kemudian bu Erlinda sangat marah sekali kepada gerakan LGBT yang massif dan bersponsor….
 
kita tentu bertanya-tanya, jika LG kemudian membenci menjadi hetero, kenapa kemudian mereka masih sangat ingin mempunyai anak yang prosesnya melibatkan sel laki-laki dan perempuan…
 
untuk mendapatkan hak pengasuhan anak adopsi, pasangan LG terhalang dengan aturan konstitutif undang-undang di indonesia yang mengatakan perkawinan adalah antara laki-laki dan perempuan… oleh karena itulah yang diserang kemudian adalah UU perkawinan lewat jalur JR di MK… usaha mereka di tahun 2015 kandas… tetapi mereka tidak akan lelah meloloskan misinya melalui MK…
 
kita berharap masih banyak petinggi negeri ini yang memegang religiusitas pancasila sebagai jatidiri bangsa… kita salut dengan bu erlinda… kita salut dengan pak ryamizard ryacudu yang dengan tegas mengatakan gerakan LGBT adalah bentuk proxy war yang mesti diwaspadai oleh bangsa indonesia…
 
kita memilih tetap menjadi “normal” karena kita menghargai perjuangan ibu yang telah mengandung dan melahirkan kita… capek, lelah dan harus bersabung nyawa… beliau tetap menyintai kita meski hidupnya sendiri menderita… beliau besarkan kita untuk tetap punya “cinta normal” yang beliau rasakan dari ayah kita…
 
kebangkitan LGBT belakangan ini menjadi PR besar buat kita yang masih mempercayai bahwa fitrah manusia itu adalah menjadi hetero… PR buat siapapun yang telah berkomitmen untuk tetap menyintai pasangan dengan setia dan tidak selingkuh… karena beberapa kaum L punya luka batin dengan ayah yang jahat dan sering menyakiti ibunya lewat perselingkuhan…
 
buat pemuda jadilah laki-laki yang punya kehormatan… jangan jadi laki2 pengecut yang berani nikahi anak orang tapi tak mampu bertanggung jawab dan memberikan nafkah… jangan jadi laki-laki bejat yang mengotori para gadis atau bahkan menjadi pemerkosa… LUKA BATIN itulah yang kemudian menjadi pemicu para wanita membenci laki-laki…
 
buat para ladies, jangan buat hati laki-laki hancur berantakan… hingga dia tak mampu bangkit dan tak bisa menyintai gadis lain… perlakukan laki-laki dengan baik hatta itu anda tidak bisa menerima cintanya… meskipun laki2 cenderung memakai logika, sebenarnya mereka punya perasaan yang sangat halus yang seringkali disembunyikan karena mereka dituntut untuk selalu tegar…
 
mudah2an kita masih cukup waras untuk membedakan mana yang sakit dan mana yang sehat… mudah2an kita masih cukup waras untuk melihat realita… menolak LGBT bukan soal sikap premanisme yang kemudian menggiring kita untuk melakukan tindak kekerasan… tetapi kita ingin mengatakan posisi kita… jika para psikiater dan dokter mengatakan LGBT itu adalah penyimpangan psikologis dan fisiologis, tentu rehabilitasi adalah solusi terbaik… bukan malah membiarkan virus LGBT dilegalisasi dan dibiarkan menjalar ke semua lini kehidupan…