saya sangat menyayangkan ada dosen UGM yang mencoba menggiring wacana LGBT hanya sebatas masalah hak-hak sebagai warga negara…
 
bagi saya pernyataan ingin menarik persoalan LGBT sebatas masalah hak2 sebagai warga negara sama saja PENGGIRINGAN PENYEMPITAN keberadaan UGM itu sendiri… UGM punya 18 fakultas… membahas dari segi filosofis, medis, psikologis adalah domainnya UGM…. karena di UGM ada fakultas filsafat, kedokteran dan psikologi… belum lagi fakultas-fakultas lain… UGM itu bukan hanya fakultas hukum atau fisipol saja yang memang konsen dengan masalah2 hak2 warga negara dan HAM… mudah2an kita tidak terjebak pada pengerdilan keilmuan UGM secara tidak sadar….

 
yang perlu juga diingat bahwa UGM itu sangat menjunjung tinggi PANCASILA… dosen UGM pasti tahu kalau landasan ideologis UGM itu adalah PANCASILA… sungguh sangat menarik apabila kemudian perdebatan ini juga dibawa kepada diskursus apakah LGBT sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang ketika wisuda dijadikan sebagai janji ikrar alumni UGM…
 
masalah diskriminasi pelaku LGBT di ruang publik harus dibuktikan dengan data yang pasti… ada angka2nya.. dan kita juga harus juga sandingkan dengan data-data diskriminasi terhadap kelompok yang lain.. kepada perempuan yang bercadar misalnya… kepada orang-orang biasa yang jadi korban praktisi LGBT…kepada para difabel… atau perhatian negara kepada anak jalanan… ketika kita meluaskan pandangan kita dalam perspektif yang variatif, kita tidak terlalu lebay atau mengikuti kelebayan LGBT yang sedikit2 minta dikasihani dan ngadu ke komnas HAM serta funding mereka dari luar….
 
harus juga diperhatikan.. bahwa korban kekerasan sekesual LGBT tu banyak dari orang biasa.. memang orientasi seksual lebih kepada masalah pribadi masing2.. tapi satu hal yang kita lupa bahwa ada banyak korban kekerasan dari pelaku LGBT ini… pelaku LGBT ini merasa aman, karena korbannya malu untuk melaporkan ke polisi atau ke psikiater…
 
sebagai akademisi saya pikir kita wajib melihat fakta tidak hanya dari satu arah.. tapi dari berbagai arah.. dari situlah kemudian kebebasan dan kekritisan akademis itu tercipta… rasanya kita perlu lebih bersimpati dengan teman2 yang menjadi korban pemerasan LGBT… mereka diancam.. dan pada saat melakukan hubungan sejenis itu pertama kali, ada unsur paksaan…
inilah cerita tentang komunitas LGBT di indonesia… setiap saat mereka selalu merengek untuk diakui… baru diejek sedikit saja, sensitifnya bukan main… sudah lapor sana lapor sini… teriak HAM dan diskriminasi…
 
apakah solidaritas di antara mereka kuat??? rasanya tidak.. saya pernah mengurusin jenazah seorang LBGT berdarah minang di jogja… teman2nya cuma nangis… tak berinisiatif mencarikan kuburan untuk temannya sendiri… bahkan saya dan teman-teman harus menelpon salah satu orang minang terkaya di jogja untuk proses pemakaman si mayat LGBT itu… sementara kalangan LGBT KAYA kelas elite tak pernah tahu atau tak mau tahu dengan teman-temannya yang sealiran dan seorientasi…
 
ketika di antara sesamanya saja tidak ada rasa persaudaraan bahkan seringkali terjadi tindak kekerasan dan pembunuhan, apakah mereka bisa menyebarkan rasa kasih sayang kepada sesama manusia… saya melihat perjuangan LGBT hanyalah sekedar perjuangan untuk komunitas sempit mereka saja… mereka selalu menempatkan diri sebagai orang yang tersisihkan, sehingga selalu ingin diperhatikan…
 
harus diakui, beberapa LGBT punya pekerjaan yang keren dan penghasilan yang besar… tapi kemudian mereka sering alfa untuk memperhatikan nasib teman-teman mereka yang harus ngamen dan menjalani dunia prostitusi hubungan sejenis… mereka sendiri pun takut memperkerjakan teman-temannya yang punya orientasi sama…