malam tadi bapak kembali harus dibawa ke rumah sakit… menuju RS Stroke Nasional Bukittinggi… kembali ibu yang mengurus semua.. 2 malam sudah ibu di bukittinggi… 2 hari juga ngak masuk ngajar di sekolah dan meninggalkan kedai sayur di solok…
biasanya jam 3 pagi ibu sudah bangun, berangkat ke pasar dinihari untuk membeli sayur yang diantar dari daerah perbukitan sentra penghasil sayur di beberapa daerah di sumatera barat… kemudian dijual lagi secara borongan ke pedagang-pedagang kecil…

jam 7 pagi ibu baru pulang dari pasar, kemudian mandi dan langsung berangkat ke sekolah…. selepas pulang mengajar di SD, sorenya ibu kembali ke pasar.. kali ini yang dikejar adalah pembeli ibu2 rumah tangga dan pegawai kantor yang akan masak untuk makan malam… baru magrib ibu pulang… kadang harus ngejar masak untuk makan malam di rumah…
aku sering menangis sendiri kalau mengingat ibu… kata nenek sejak masih gadis ibu sudah jadi tulang punggung keluarga… sudah jualan makanan ringan sambil bergelantungan kereta yang di tahun 70-80an masih jadi transportasi andalan di kampung kami… yang berada di pertengahan jalan padang dan padangpanjang… kepala hilalang, nagari kecil dekat kayu tanam yang punya stasiun kecil kereta api… di antara 9 anak nenek… hanya 3 yang kuliah dan jadi sarjana… ibuku dan 2 adiknya… ibu selalu percaya bahwa pendidikan bisa merubah nasib dan ekonomi keluarga..
papaku anak nomor 2 dari 3 bersaudara.. hanya beliau yang kemudian bisa kuliah, karena keluarga bapak juga dari keluarga petani biasa… pas masih SD sekolah PGA di payakumbuh, selepas sekolah bapak lebih banyak menghabiskan hari di sawah dan di ladang… salah satu keahlian bapak adalah mengasah parang dan sabit yang digunakan untuk menebang kayu dan menyabit rumput buat hewan ternak… sering orang minta tolong ke bapak untuk mengasah pisau, parang dan sabit… karena asahan bapak memang moncer dan sangat tajam….
bapak pernah cerita, kalau salah satu teman PGA nya adalah professor sejarah terkenal di indonesia.. Prof. Dr. Mestika Zed… yang sekarang jadi dosen dek Zikri Fadhila di UNP.. dan mudah2an bisa dibimbing beliau untuk merampungkan skripsinya..:) dulu rangking bapak di kelas selalu di atas pak mes… tapi kemudian bapak dapat kerja di Departemen Penerangan setelah kerja dakwah di mentawai…
ya, jurusan beliau memang penyiaran dan komunikasi dakwah di IAIN Imam Bondjol Padang… untuk bertahan hidup di padang, bapak tinggal di masjid… jadi garin, sekaligus bisa dapat uang saku… sebenarnya bapak mau ambil jurusan komunikasi… tapi di padang kala itu belum ada kampus yang membuka jurusan komunikasi… kerja, berkeluarga, punya anak telah membuat bapak tak lagi kepikiran ambil S2… toh gelar Drs zaman dulu memang setara dengan S2…:) di deppen dapat kesempatan untuk aktif di golkar dan jadi anggota DPRD yang masih diperbolehkan dari PNS pada zaman orde baru..
ketika deppen dihapuskan gus dur, bapak kemudian memilih mutasi ke sekretariat dprd… beberapa tahun di sana kemudian pindah ke KPU dengan jabatan terakhir sebagai Sekjen KPU Kota Solok…
hari-hari pensiun beliau kemudian lebih banyak dihabiskan di ladang… tanam jahe, cokelat, cengkeh, dan bikin kolam ikan… jadi ketua takmir masjid lubuk sikarah, masjid tertua di kota solok… aktivitas itu yang 2 bulan terakhir tak lagi bisa dijalani bapak, karena sakit yang membuat badan beliau lemah dan sekarang harus dirawat di rumah sakit stroke bukittinggi…
perjuangan ibu dan bapak telah mampu menguliahkan 4 orang anaknya.. 2 di UGM, 1 di UNRI pekanbaru dan 1 UMMY solok… di antara keluarganya, mungkin bapak dan ibu yang bisa menguliahkan anaknya seperti ini.. meskipun harus dengan tetesan keringat, tangis dan tentunya menggadaikan SK PNS di bank..
malam ini adalah malam kedua ibu menjaga bapak berbaring lemah di rumah sakit stroke bukittinggi… dari jauh aku hanya do’a yang bisa kupanjatkan… aku harus semangat bekerja dan mempersiapkan kuliah s2 ku di jogja… karena aku harus berjuang mengangkat muruah keluarga kami… membuat bangga bapak dan ibu…