MEMAKSA DOSEN JADI PENELITI


Mari sedikit bicara dosen dan peneliti. Di indonesia, dosen dibebani dengan tugas mengajar seabrek dan tuntutan untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas. Kalau bisa riset implementatif yang mudah  dikembangkan secara massal oleh dunia industri.

Sebenarnya tidak ada masalah apabila pemerintah dan beberapa kalangan ilmuwan meminta dosen untuk memberikan kuliah berdasarkan riset terbaru yang dilakukannya. Hanya saja saya agak khawatir apabila permintaan itu tidak diiringi kesadaran akan kenyataan sosial dan budaya yang dihadapi oleh para dosen di Indonesia.

Rata-rata dosen di Indonesia punya beban mengajar 20 sks. Itupun masih akan bertambah apabila ada permintaan mengajar dari perguruan tinggi lain di luar homebase-nya. Persoalan belum selesai, karena masih ada kewajiban menjadi pembimbing tugas akhir mahasiswa (skripsi, tesis, disertasi)) dan menghadiri undangan-undangan rapat, upacara ini dan itu, seminar, lokakarya, workshop dan lain sebagainya. Untuk dosen yang sudah terkenal, masih ada tawaran menjadi konsultan, staf ahli dan permintaan menulis di media massa serta menjadi mitra bestari oleh berbagai jurnal.

Semua bertumpuk ketika masih ada kewajiban sosial yang mesti dipenuhi oleh seorang dosen agar dia tidak dianggap asosial. Undangan pernikahan di akhir pekan, undangan sunatan, syawalan, tahlilan, tirakatan, rapat RT/RW, ngisi kajian dan khutbah Jum’at. Beban itu semakin complicated kalau sang dosen juga memegang jabatan di kampus, jabatan keprofesian, buka praktek di rumah (dosen-dokter), serta menjadi pengurus berbagai macam organisasi sosial, budaya dan keagamaan.

Mempertimbangkan kenyataan di atas, apakah cukup logis apabila kemudian pemerintah menuntut dosen untuk melakukan penelitian serius yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, bangsa dan negara, yang kalau bisa bisa merubah dan menggemparkan dunia?

Sementara di sisi lain, dana penelitian tak pernah mencapai angka fantastis. Ya, hanya cukup makan dan bertahan hidup 3 bulan. Paling sisanya hanya bisa untuk nambah tabungan buat mengisi modal beli mobil baru.

Ketika ada dosen yang sibuk dengan riset, maka timbul stigmatisasi dari kolega dan mahasiswa. “Dasar Dosen Proyekan”. Mahasiswa mengeluh ketika ditinggal dalam beberapa kali pertemuan, karena sang dosen lagi berada di luar kota untuk melakukan penelitian. Mahasiswa harus gigit jari, karena hanya diajar oleh asisten yang kapasitasnya tak setara dengan dosen asli pengampu mata kuliah tersebut.

Saat seabrek tanggung jawab dilimpahkan ke pundak dosen, berkawan dengan budget penelitian yang kunjung naik signifikan, rasanya riset-riset yang dibuat hanya riset-riset dangkal yang paling banter berhenti meja seminar dan prosiding. Padahal ada harapan, riset-riset itu bisa diteruskan oleh dunia industri dan dijadikan kebijakan oleh pengambil policy. Karena risetnya masih separoh-separoh, dilakukan dalam waktu singkat dan dana yang minim, yang terjadi kemudian hanyalah proses mengkonfirmasi hipotesis-hipotesis awal apakah benar atau tidak lewat penelitian singkat.

Kalaupun ada riset-riset serius dalam jangka panjang di Indonesia dalam bidang sains maupun bidang sosial, itu kebanyakan didanai oleh sponsor asing atau dibiayai oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang beroperasi di Indonesia.

Jika demikian situasinya, rasanya perlu sebuah kesadaran bersama dan keinsyafan akan kapasitas dan keterbatasan yang ada. Untuk kasus Indonesia, dimana beban mengajar masih menjadi nomor satu, rasanya memberikan dosen waktu untuk membaca riset-riset yang ada sudah merupakan langkah yang bagus.. memberikan kesempatan kepada dosen membuat slide baru tiap semester dengan semakin luasnya bacaan dan referensi yang dipakai, rasanya sudah menjadi capaian yang luar biasa. Memberikan dosen waktu yang luas untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris dan belajar bahasa asing ke-2 dan ke-3, rasanya lebih siginifikan. Daripada pemerintah dan beberapa pihak di dunia perguruan tinggi menuntut ekspetasi yang terlalu tinggi..

Biarlah kemudian riset-riset ditangani oleh orang-orang yang berprofesi dan menamakan diri sebagai “peneliti”. Mungkin mereka berada di LIPI, pusat-pusat kajian, lembaga-lembaga penelitian, pusat-pusat studi dan badan-badan pengembangan keilmuan lainnya. Bukalah seluas-luasnya lowongan kerja dengan kualifikasi “peneliti”. Jadikan itu sebagai “profesi yang bergengsi”. Biarkan mereka fokus dan serius melakukan berbagai riset sekaligus ada topangan dana yang besar entah itu dari pemerintah ataupun dari dunia industri.

Dengan demikian, kita tak lagi mengeluh kenapa hasil riset dosen Indonesia ngak berkualitas. Kenapa dosen lebih banyak di luar kampus dibanding di ruang kelas. Profesi sebagai dosen dan peneliti biarlah terpisah secara jelas, dan masing-masing kemudian bisa saling memanfaatkan produk masing-masing.

Dosen memang harus tahu bagaimana membuat sebuah penelitian yang bagus dan harus punya karya brilian dari hasil penelitian. Tapi di sisi lain, dosen semestinya juga harus mengutamakan tugas mengajar dengan dukungan bacaan-bacaan berkualitas dan selalu up to date. Jika para pengamat dari kalangan universitas sering mengatakan setiap orang dan pemangku kekuasaan harus tahu batas-batas kewenangan dan kapabilitasnya, seharusnya juga ada keinsyafan dari dunia akademis sendiri tentang pembagian ranah yang jelas antara dosen dan peneliti. Agar riset-riset yang dilakukan selama ini oleh kalangan kampus tak hanya berhenti di ruang seminar serta tak punya relasi dengan dunia industri – eskalator perbaikan society.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s