Lima pemikir terkenal Minangkabau baik dari Rantau yang diwakili oleh Buya Syafi’i Ma’arif dan Prof. Azyumardi Azra maupun dari Ranah seperti Ustadz Irsyad Syafar, Prof. Shofwan Karim dan Donny Syofyan 2 minggu ini berdialektika dengan cantik terkait dengan Pilkada Sumatera Barat yang genderangnya sudah ditabuh ketika pada beberapa saat lalu KPUD Sumatera Barat menetapkan hanya 2 calon yang akan bertarung, pasangan Irwan Prayitno – Nasrul Abit dan pasangan Muslim Kasim – Fauzi Bahar.

Buya Syafi’i mempertanyakan prestasi yang telah ditorehkan oleh petahana Irwan Prayitno dalam 5 tahun periode kepemimpinannya di Sumatera Barat yang seringkali diidentikkan dengan Minangkabau. Meskipun secara demografis Sumatera Barat agak susah dikatakan Minangkabau karena telah menjadi sebuah daerah yang mulai bergerak ke tatanan masyarakat multikultural lewat kehadiran para pendatang dari berbagai daerah terutama dari Jawa yang berawal dari inisiasi program transmigrasi di zaman Pak Harto (di daerah Pasaman dan Dharmasraya serta etnis Melayu Lama yang bermukin sejak dahulu di Kepulauan Mentawai) dan beberapa pendatang etnis Batak yang memberikan warna pluralitas keberagamaan di Sumatera Barat serta kehadiran etnis Tiongha yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan Sumatera Barat dari zaman kemerdekaan hingga saat ini.

Kegelisahan Buya Syafi’i disambut dengan tulisan bernada pembelaan dari ustadz Irsyad Syafar dengan menghadirkan capaian-capaian yang telah diperbuat oleh Irwan Prayitno selama menjabat BA 1 serta diakhiri dengan ajakan kepada Buya Syafi’i untuk meninggalkan Jogja serta bersama-sama memperbaiki Minang langsung dari Sumatera Barat. Melihat jawaban yang terlalu berpihak, Prof. Shofwan Karim yang dikenal sebagai akademisi – ulama Sumatera Barat, mempertanyakan basis data yang dipakai oleh Ustadz Irsyad yang tak lain adalah politisi dari PKS yang dulu mengusung Irwan Prayitno sebagai Gubernur serta mencoba untuk membandingkan piagam-piagam penghargaan yang didapatkan Irwan dengan kesuksesan gubernur-gubernur Sumatera Barat pada masa Orde Baru.

Secara terpisah Prof. Azyumardi Azra juga menyinggung Pilkada Sumatera Barat di kolom Resonansi Republika dengan gugahan, mampukan Pilkada Sumatera Barat mengembalikan kejayaan Minangkabau lama dan melahirkan lagi sosok-sosok yang mampu mewarnai panggung politik dan intelektual Minangkabau. Azyumardi menantang, akan munculkah “pemimpin yang berani” yang mampu melakukan terobosan yang tidak biasa-biasa saja di Sumatera Barat. Terakhir adalah tulisan Donny Syofyan, dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, yang memberikan penafsiran kultural filosofis atas debat suksesi kepemimpinan Sumatera Barat antara Buya Syafi’i Ma’arif dan Ustadz Irsyad Syafar dengan mengatakan perdebatan tersebut merupakan kekhasan intelektual dialektis orang Minangkabau yang mengutamakan perang tulisan dibandingkan pendekatan kekerasan atau pengambilan jalur hukum atas sebuah serangan naratif yang cenderung subjektif sarkastif di media.

Namun amat disayangkan, semua tulisan di atas melupakan kondisi riil terkait PILKADA Sumatera Barat yang tak memberikan pilihan alternatif kepada masyarakat ber-KTP Sumatera Barat. Cuma ada 2 pasangan calon yang sama-sama petahana. Irwan pecah kongsi dengan Muslim yang dulu tak lain dan tak bukan adalah wakilnya.

Dua tahun sebelum pendaftaran Pasangan Calon dibuka oleh KPU Provinsi Sumatera Barat, berbagai nama telah mendeklarasikan diri maju bertarung menjadi Gubernur. Baik para politisi, akademisi dan pengusaha (urang kayo) dari Rantau maupun tokoh-tokoh yang selama ini sudah dikenal baik oleh masyarakat Sumatera Barat. Bahkan wajah-wajah mereka menghiasi berbagai sudut perempatan dan melintang di atas jalan-jalan negara dan jalan-jalan kampung menghiasi kemeriahan Lebaran. Ya, lebaran adalah momen potensial untukmengenalkan diri dan berpromosi karena ada sekitar 2 juta perantau Minang yang pulang kampung dan kebanyakan mereka telah “sukses” di negeri orang. Karena pantang bagi orang Minang balik ke kampung halaman jika tidak bisa membawa oleh-oleh kesuksesan karier dan finansial. Hiruk-pikuk kampanye dini itupun dalam perjalanannya hilang tak berbekas, ketika hanya 2 pasangan saja yang mendaftar dan kemudian ditetapkan oleh KPUD Sumatera Barat sebagai kandidat resmi. Yang dulu berapi-api dan sudah mengambil ancang-ancang untuk maju lewat jalur independen kehabisan nafas dan energi serta tak cukup nyali untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh penyelenggara PILKADA.

Jika pilihan yang disuguhkan kepada masyarakat adalah sama-sama petahana, maka ketidakberhasilan dan berbagai kekurangan program pembangunan fisik dan intelektual 5 tahun terakhir di Sumatera Barat tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Irwan dan Muslim. Akhirnya membawa diskursus suksesi di Sumatera Barat kepada komparasi sepak terjang dari kandidat yang akan bertarung tidak berarti apa-apa. Apalagi masih dibumbui romantisme akan kejayaan Minangkabau di masa lalu.

Seharusnya yang mesti ditawarkan oleh para tokoh-tokoh di atas adalah konsep-konsep Sumatera Barat ke depan lewat analisis tajam tentang apa sebenarnya yang mesti dilakukan Gubernur Sumatera Barat 2015-2020. Masalah pengangguran, ancaman bencana, kerusakan moral, kontestasi kemajemukan pendudukan Sumatera Barat dengan penguatan identitas keminangkabauan dan pengembangan sentra-sentra pertanian potensial seperti gambir di daerah Payakumbuh, sawit di Pesisir Selatan, Dharmasraya dan Pasaman, serta beras dan kulit manis di Solok dan Tanah Datar.

Kehadiran kolonial Belanda dimanfaatkan dengan cerdas oleh orang Minang lewat akses mereka menjadi pegawai pemerintah kolonial dan dengan memasuki program-program pendidikan yang disediakan oleh Belanda. Mereka yang kemudian menjadi para pejuang dan masuk dalam nama-nama yang “founding fathers” Republik Indonesia. PRRI telah mengakibatkan eksodus besar-besaran orang Minang setelah tak nyaman dan sengsara di kampung halaman. Orde Baru berhasil membangkitkan kembali harga diri orang Minang setelah terpuruk sebagai “komunitas kalah perang”. Nah, di era Reformasi ini formulasi Minangkabau mau dibawa kemana belum sepenuhnya disepakati oleh para stakeholders Ranah dan Rantau. Masing-masing masih bersikukuh dengan tawaran pemikiran dan ide masing-masing.

Dalam pikiran saya, perlu ada usaha-usaha praktis selain tetap mengukuhkan identitas “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” untuk memberikan solusi atas masalah kemiskinan, pengangguran dan ketersediaan pangan di Sumatera Barat. Di titik ini saya ingin memberikan sumbangsih pemikiran, alangkah baiknya Gubernur Sumatera Barat 2015-2020 yang akan dipilih pada bulan Desember nanti memberikan perhatian lebih untuk usaha-usaha pemenuhan pangan secara mandiri dan giat mengembangkan potensi-potensi komoditi pertanian unggulan di masing-masing kota/kabupaten di Sumatera Barat.

Saya tak pernah khawatir dengan proyek intelektualitas orang Minang. Karena kesadaran itu sudah tumbuh cukup kuat pada keluarga Minang baik yang ada di Ranah maupun di Rantau.  Saya pun tak khawatir akan kemampuan institusi pendidikan di Sumatera Barat untuk melahirkan para ulama kaliber nasional maupun internasional. Yang saya khawatirkan adalah mentalitas pedagang telah membuat masyarakat Minang mengukur semuanya dengan uang. Keenganan untuk mengurusi lahan-lahan pertanian dengan komoditi potensial karena stigmasisasi lebih baik jadi buruh di Rantau daripada jadi petani di kampung halaman akan membuat Sumatera Barat ketergantungan dari sisi konsumsi bahan makanan pokok.

Proyek intelektual itu penting, institusi pengkaderan ulama itu juga urgen, namun orang akan kehilangan identitas, tak lagi menjadi ideologis dan agamis ketika ia tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi saya, syarat utama menjadi Gubernur Sumatera Barat tidaklah muluk-muluk. Cukuplah seorang pemimpin yang mampu menyediakan kebutuhan dasar masyarakat dengan baik dan memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kerohanian secara gratis. Mungkin terkesan sangat pragmatis. Namun, kalau kita belajar falsafah dan sejarah Minangkabau dengan cermat, sebenarnya kepragramatisan itulah yang membuat masyarakat Minangkabau berkembang dan tak gamang dengan perubahan zaman.