Tanpa perdebatan dan kendala berarti, akhirnya Haedar Nashir terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 lewat sidang formatur 13 yang hanya berlangsung sekitar 10 menit. Haedar mengawali status barunya itu dengan mencanangkan tekad membawa Muhammadiyah menuju gerakan pencerahan untuk Indonesia berkemajuan. Sebuah misi yang ambius sekaligus masih membutuhkan rancangan dan tafsiran implementatif sehingga Muhammadiyah bisa memberikan peran-peran yang lebih praksis di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Keberhasilan Haedar Nashir mendapatkan suara terbanyak dari muktamirin bisa dilihat sebagai harapan warga Muhammadiyah akan seorang pemimpin yang mengakar dan tidak terlalu disibukkan dengan wacana-wacana idealis walaupun berhasil merambah tataran internasional yang selama 10 tahun ini dilakoni oleh Din Syamsuddin. Dari sisi internasionalisasi dan penguatan Muhammadiyah dalam isu-isu global seperti pencegahan terorisme dan radikalisme, dialog antar umat beragama dan kampanye wajah Islam Indonesia yang ramah, Din Syamsuddin bisa dikatakan berhasil membawa dan menempatkan posisi penting Muhammadiyah dalam diskursus dan forum-forum Internasional. Namun, di sisi lain warga Muhammadiyah mengeluhkan minimnya perhatian Din terhadap warga Muhammadiyah di daerah-daerah dan pengembangan internal amal-amal usaha Muhammadiyah yang meskipun terus menunjukkan grafik membaik dan tren progressif tetapi diyakini lebih disebabkan oleh faktor peran pemimpin amal usaha itu sendiri, baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pelayanan sosial kepada umat.

Visi internasionalisasi bagi sebagian warga Muhammadiyah harus diprioritaskan. Hal ini terutama disuarakan oleh anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang bergabung dalam PCIM-PCIM berbagai negara di luar negeri. Sebagai satu dari dua ormas Islam terbesar di Indonesia, mereka melihat Muhammadiyah punya kekuatan strategis untuk mewarnai dan berkontribusi dalam penyelesaian masalah umat Islam di berbagai belahan dunia dan persoalan-persoalan kemanusian universal. Apalagi selama kepengurusan Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum, langkah-langkah strategis internasionalisasi itu sudah mendapatkan landasan yang lumayan mapan.

Memperhatikan sepak terjang Haedar Nashir yang tidak terlalu banyak dikenal dan tak terlalu aktif di forum-forum internasional, ke depan sepertinya kiprah internasional Muhammadiyah tidak segiat ketika masih dinahkodai Din Syamsuddin. Untuk menutupi sisi ini, rasanya Haedar bisa lebih mengaktifkan dan mendelegasikan keterlibatan Muhammadiyah di level internasional kepada anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di PCIM-PCIM berbagai negara.

Dari segi ideologis, Haedar bisa dikatakan sebagai pilihan terbaik dalam mengkompromikan garis kanan dan kiri atau kubu fundamentalis-purifikatif dengan kubu liberal-modernis yang bersemi di tubuh Muhammadiyah. Berbagai pihak mengapresiasi kemampuan Haedar dalam merumuskan visi ideologis Muhammadiyah, yang berhasil mengolaborasikan paham-paham modernis dengan tetap mempertahankan aspek puritanifikasi Muhammadiyah sebagai gerakan permurnian dan pembaharuan Islam Indonesia yang terinspirasi dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Haedar sangat berpengalaman ketika Muhammadiyah dilanda krisis identitas dan infiltrasi dari gerakan-gerakan Islam baru yang tumbuh subur pasca reformasi yang tidak saja mengrongrong kaderisasi Muhammadiyah tetapi juga telah memasuki wilayah “pencaplokan” amal usaha. Berbagai tulisan ia buat untuk meredam “pembusukan ideologis” warga Muhammadiyah dari dalam termasuk membuat buku serius yang berjudul “Gerakan Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia” yang diangkat dari disertasi beliau di program Doktoral Sosiologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Tantangan lain yang akan harus diwasdapai sejak awal oleh Haedar adalah independesi Muhammadiyah dalam relasinya dengan pemerintah atau penguasa. Adanya beberapa nama di jajaran Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang memiliki latar belakang politik yang kental membuat Haedar harus bisa bekerja ekstra untuk istiqomah memposisikan diri sebagai mitra pemerintah. Mendukung program-program pemerintah yang memberikan maslahat kepada umat sekaligus kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang mendzolimi dan tidak berpihak kepada rakyat. Sehubungan dengan godaan politis ini, Muhammadiyah juga harus bisa bermain cantik dalam berbagai pesta demokrasi langsung terutama Pilkada serentak 2015 dan Pileg-Pilres 2019. Bermain cantik di sini dalam artian bisa memberikan panduan praktis kepada warga dan simpatisannya yang diklaim berjumlah puluhan juta orang serta bisa memunculkan calon-calon pemimpin bangsa terbaik  di level daerah maupun nasional, sehingga rakyat memiliki pilihan-pilihan pemimpin yang berintegritas dan bisa membawa kemajuan yang mencerahkan.

Muhammadiyah sudah punya sekian ratus perguruan tinggi, ratusan ribu sekolah, ratusan rumah sakit dan klinik kesehatan serta berbagai panti asuhan serta badan-badan keuangan mikro dan lembaga-lembaga pers dan penerbitan. Namun ada dua hal yang dirasa perlu dihadirkan dan dibesarkan oleh Muhammadiyah: Bank Muhammadiyah dan TV Muhammadiyah. Kelesuan ekonomi akhir-akhir ini akibat inflasi dan terpuruknya harga rupiah terhadap dollar telah membuat masyarakat kesulitan untuk meningkatkan pendapatan dan memenuhi kebutuhan hidup. Muhammadiyah sangat intensif melakukan kampanye zakat, infak dan sadaqah serta telah bisa mengelola LAZIS nya secara profesional. Akan tetapi sumbangsih dari lembaga filantropis ini masih bersifat global dan menyentuh aspek-aspek perekonomian yang lebih luas. Kehadiran Bank Muhammadiyah tidak saja meningkatkan gairah Bank Syariah yang akhir-akhir ini semarak di tanah air, tetapi juga mencari solusi pemberdayaan ekonomi umat terutama dalam soal pemberian kredit lunak dan mudah dalam pembiayaan kebutuhan masyarakat untuk membuka usaha mikro, pinjaman pendidikan dan kredit perumahan. Perlunya TV Muhammadiyah dikembangkan menjadi TV nasional menjadi keniscayaan untuk menguatkan dakwah Muhammadiyah di tengah-tengah masyarakat. Dibandingkan dengan komunitas Salafi yang baru menggeliat selepas Reformasi, Muhammadiyah jauh ketinggalan terutama dalam pengembangan TV ini.

Seorang Buya Syafi’i Ma’arif berulang kali membujuk anak-anak muda potensial Muhammadiyah yang tidak mendapatkan tempat di amal usaha Muhammadiyah untuk memilih berkiprah, mencari penghidupan dan menempa potensi diri di luar Muhammadiyah. Namun apabila berhasil, jangan lupakan Muhammadiyah. Sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan, “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tapi hidup-hidupilah Muhammadiyah”. Namun, tidak boleh dilupakan juga adalah perhatian PP Muhammadiyah terhadap regenerasi kepemimpinan di amal-amal usaha Muhammadiyah. Sedikitnya ruang yang diberikan kepada anak-anak muda Muhammadiyah untuk berkiprah dan berkarier di amal usaha Muhammadiyah telah menjadi keluhan luas bagi kader-kader muda Muhammadiyah yang sudah berdarah-darah di berbagai organisasi pelajar, mahasiswa dan kepemudaan Muhammadiyah.

Sebagai penutup, terpilihnya Haedar Nashir sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan optimisme sendiri bagi warga Muhammadiyah terutama yang selama berada di daerah-daerah. Internalisasi ideologi dan penguatan organisasi rasanya bisa ditangani baik oleh Haedar dengan melihat sepak terjangnya selama ini. Namun, bagaimana Haedar tetap mempertahankan visi internasionalisasi yang sudah dirintis dengan baik oleh Din Syamsuddin masih menjadi tanda tanya dan menunggu pembuktian. Selamat bekerja Pak Haedar.