Tak ada yang salah dengan tulisan Prof. Rhenald Kasali, tidak ada yang sumir dari quote menyentuh dari Om Mario Teguh, semua baik-baik saja dengan tausiyah dari akhi Salim Al Fillah, semua terhibur dengan status kece Tere Liye dan semua tertarik dengan status cinta Setia Furqon Kholid. Namun hal-hal di atas bermetamorfosis menjadi masalah intelektual serius ketika kebanyakan dari orang Indonesia terlalu sering menjejali sosial medianya dengan threat copy paste dari orang-orang hebat itu.

Masih berbekas jelas dalam ingatan kita, ketika seorang akademisi rising star dan pakar ekonomi hebat di negeri ini tersandung kasus plagiasi karena tak teliti membaca kembali artikelnya yang hendak dikirim rubrik OPINI sebuah koran nasional sehingga terpaksa menutup malu dengan menanggalkan status sebagai pengajar dari sebuah perguruan tinggi tempat Presiden Jokowi meraih gelar sarjana.  Tetap belum ada perubahan berarti di negeri ini setelah dengan sangat sadis dan kritis Prof. Anthony Reid, seorang Indonesianis berkebangsaan Inggris, menulis sebuah artikel yang menyoroti betapa minimnya karya ilmiah bertemakan Indonesia dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh para ilmuwan dan cendikiawan asli Indonesia sendiri. Bahkan dengan halus Professor pakar sejarah Sumatera ini menyindir halus, “Indonesia adalah salah satu negara yang gagal mengenalkan dirinya sendiri kepada dunia.”

Di kampus-kampus pun masih sering didapati kasus mahasiswa yang mengupahkan skripsi untuk meraih gelar sarjana. Sayapun punya seorang teman yang rela merogoh kocek sekian juta demi kelulusan dari sebuah perguruan tinggi negeri yang memakai nama patih terkenal dari kerajaan Majapahit. Jika skripsi sudah bisa dibeli, apalagi hanya sekedar makalah dan laporan pratikum. Terlalu banyak di antara intelektual muda kita yang menyandarkan diri pada kemampuan browsing dan memindahkan apa yang ada di internet ke dalam beberapa lembar kertas sebagai makalah ataupun tugas kuliah.

Sebagai sebuah budaya negatif yang harus dibuang jauh dari denyut nadi bangsa Indonesia, terutama para cendikiawan muda generasi penerus estafet perjuangan bangsa, sebenarnya plagiasi dan menyadur tanpa penyantuman referensi bisa dimulai dari tabiat dan kesenangan kita bercopy paste di sosial media. Dari sisi pencitraan, bisa jadi mengshare ataupun memajang kata-kata hikmah ataupun untaian kalimat inspiratif dari motivator terkenal, orang-orang hebat dan ustadz-ustadz fenomenal bisa menaikkan pamor dan citra diri, namun sesungguhnya kita sedang menjebak diri kita dalam lingkaran berbahaya, terperosok dalam lubang “Generasi Copy Paste”.

Generasi copy paste sebenarnya adalah generasi yang malas berpikir dan sudah berpuas diri dengan motivasi dan inspirasi dari orang lain. Untuk masa singkat, kata-kata mutiara memang bisa memukau dan menghipnotis para pembaca dan penyimaknya. Namun, semangat yang lahir selepas membaca kemudian hilang tak berbekas ketika berhadapan dengan dunia dan problematika nyata. Sehingga terjadi proses ketergantungan, setiap hari sibuk mencari quote-quote motivasi dan kehilangan waktu untuk berkreasi dan melahirkan ide-ide sendiri.

Sudah saatnya kita mengimbangi budaya “tweet” dengan kebiasaan memperbanyak “credit” penulisan artikel-artikel ilmiah. Mestinya kita bersegera mengurangi status galau di facebook dengan menyibukkan diri dalam kerja “writing book”.

Dunia sosial media dengan ribuan informasi yang berseliweran setiap menit, dihiasi berbagai luahan perasaan dan emosi, telah menjadi tempat persaingan baru dalam aktivitas kehidupan manusia. Masyarakat dipecah dalam barisan “haters” dan “lovers”. Para haters membully dan mencaci sosok/sesuatu yang tidak disukainya, sementara para lovers membela mati-matian sosok yang dipuja atau sesuatu yang dikaguminya. Semuanya bermuara pada hal-hal yang kontraproduktif dan tidak memberikan solusi atas kondisi yang ada.

Yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah generasi literasi. Generasi tipe ini dibangun di atas budaya membaca. Mereka melahirkan karya setelah mengambil pelajaran-pelajaran dari orang-orang telah lebih dahulu melewati jalan yang saat ini sedang ditempuhnya. Agar tidak terjadi pengulangan ketergelinciran dan keteperosokan di lubang yang sama. Mereka mahir membuat imajinasi dan membentuk persepsi orang terhadap diri, bukan lewat polesan ataupun penyandaran diri kepada orang-orang terkenal, tetapi membangun image lewat kekuatan kata dan karya-karya orisinal mereka sendiri.

Mari hentikan gelombang besar plagiasi lewat minimalisir copy status di sosial media. Dan kita kitapun bisa bermetamorfosis menjadi generasi kreatif dengan kekuatan catatan kaki.