Masyarakat Sumatera Barat patut bergembira dengan kehadiran Universitas Mohammad Natsir (UMN) yang pada 2015 ini resmi dibuka. Kehadiran UMN lewat inisiasi Yayasan Yarsi Sumatera Barat semakin menyemarakkan dunia pendidikan di Sumatera Barat. Menyandang nama besar Mohammad Natsir, Universitas yang berlokasi di Bukittinggi ini mengusung semangat “mengembangkan pemikiran M. Natsir yang dikenal sebagai arsitek pendidikan Islam dan aktivis pendidik bangsa”. Itulah misi UMN yang disampaikan oleh Zainul Daulay pada 6 Januari 2015 yang lalu dalam acara launching dan tasyakuran dikeluarkannya izin pendirian universitas tersebut oleh Dirjen Pendidikan Tinggi pada 23 Desember 2014.

Fenomena menyematkan nama seorang tokoh sejarah pada sebuah lembaga pendidikan bukanlah sesuatu yang baru di Sumatera Barat. Sebelumnya kita telah mengenal Universitas Bung Hatta yang berhasil merebut hati dan perhatian banyak mahasiswa lewat jurusan-jurusan Ekonomi dan Teknik. Ada juga Universitas Muhammad Yamin yang populer dengan jurusan Hukumnya.

Meskipun jarang terdengar terobosan-terobosan pemikiran dari civitas akademika 2 kampus tersebut terkait isu-isu nasional yang bersinggungan dengan konsep-konsep ekonomi kerakyatan dan koperasi ala Bung Hatta ataupun pemikiran konstitusi dan hak asasi manusia yang pernah disampaikan oleh Yamin, paling tidak kedua universitas ini sukses dengan program studi yang dulu ditekuni oleh Hatta dan Yamin. Bedanya hanya, UBH mampu menjadi universitas swasta yang cukup diminati dan disegani di Sumatera bagian Tengah, sementara UMMY masih terseok-seok dengan berbagai konflik dan masih terbatas pada kawasan Solok dan sekitarnya dalam rekruitmen mahasiswa.

Menelisik langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh pendiri UMN, saya menemukan 2 persoalan serius. Pertama, soal relasi jurusan yang akan dibuka dengan misi pengembangan pemikiran Natsir. Berbagai pemberitaan menyebutkan bahwa pada tahap awal Universitas Mohammad Natsir akan menyelenggarakan tiga program studi; S1 Farmasi, S1 Ilmu Gizi dan S1 Akuntansi.

Merujuk kepada background pendidikan Natsir, ketiga bidang keilmuan tersebut bukanlah “spesialisasi” nya Natsir. Jurusan yang beliau ambil di AMS Bandung yang merupakan jenjang pendidikan formal tertinggi yang ditempuhnya adalah A2 atau jurusan Klasik Barat. Tiga gelar Doktor honoris causa yang pernah diangerahkan kepada Natsir pun (Universitas Islam Lebanon untuk Bidang Politik Islam, Universitas Kebangsaan Malaysia untuk Bidang Sastra, dan Universitas Sains dan Teknologi Malaysia untuk bidang Pemikiran Islam) jauh dari 3 jurusan awal yang akan dibuka.

Tak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan Indonesia lagi mengalami fase “tergila-gila” dengan jurusan-jurusan kesehatan. Di berbagai daerah para pemain bisnis pendidikan berlomba-lomba mendirikan Stikes, Akper dan Akbid karena melihat kebutuhan tenaga kerja di bidang medis tersebut sangat besar untuk beberapa puluh tahun ke depan. Yarsi Sumatera Barat pun sudah berpengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan kesehatan lewat kehadiran STIKES YARSI Bukittinggi yang cikal bakalnya telah dimulai sejak 1970-an.

Natsir juga menginisiasi pendirian Balai Kesehatan Ibnu Sina pada tahun 1960-an untuk menghadang laju kristenisasi berjubah layanan medis dan membangkitkan ekonomi masyarakat Sumatera Barat pasca PRRI lewat pendirian Yayasan Harapan Umat. Secara historis, jurusan-jurusan kesehatan dan ekonomi yang hendak dibuka UMN mendapatkan justifikasi.

Namun harapan akan kontinuitas dan reaktualitas pemikiran Natsir yang membutuhkan kajian mendalam, berbasis telaahan historis, analisis sosiologis, dan pemikiran kontemplatif tidak menemukan tempat pada 7 jurusan yang akan dibuka pada tahap kedua; S1 Fisika, S1 Kimia, S1 Biologi, S1 Administrasi Rumah Sakit, S1 Ilmu Hukum, S1 Administrasi Negara dan S1 Sastra Arab. Sulit dimengerti kenapa tidak ada usulan untuk membuka program studi Dakwah, Pendidikan Islam, Politik Islam dan Filsafat yang sebenarnya lebih relevan untuk terus menghidupkan nyala api perjuangan Natsir.

Persoalan kedua adalah kegamangan Yarsi sebagai pendiri UMN terkait aspek bisnis harus diperhitungkan dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Untuk jurusan kesehatan, tentu sepak terjang Yarsi selama ini bisa menjadi promosi efektif untuk menjaring mahasiswa. Tetapi saya tidak menemukan alasan kuat yang membuat orang tua ataupun calon mahasiswa untuk mengambil “jurusan-jurusan mediocare” seperti S1 Fisika, S1 Kimia, S1 Biologi, S1 Ilmu Hukum, S1 Administrasi Negara, dan S1 Sastra Arab yang juga telah dimiliki oleh berbagai perguruan tinggi yang lebih dulu mengembangkan sayapnya di Sumatera Barat.

Melihat kecenderungan lulusan Sekolah Menengah di Sumatera Barat yang lebih antusias meneruskan studi di perguruan-perguruan tinggi swasta di pulau Jawa, saya mengkhawatirkan serapan mahasiswa baru yang akan diperoleh oleh UMN jika tidak ada sesuatu hal baru dan menarik yang ditawarkan. Belum lagi dengan persaingan ketat dengan ratusan perguruan tinggi di Sumatera Barat yang sudah mengantongi akreditasi.

Berkaca kepada kesuksesan Diniyah Putri dan Thawalib yang sampai saat ini masih mampu mendapatkan siswa dari berbagai penjuru Nusantara dan negara-negara tetangga, saya malah berpikir UMN berpotensi akan dilirik dari berbagai penjuru apabila serius mengembangkan pemikiran Natsir di bidang Politik, Dakwah dan Pendidikan Islam. Apalagi tren pendidikan tinggi saat ini adalah research university, dimana kekuatan universitas tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga menghasilkan temuan-temuan baru baik itu inovasi teknologi ataupun gagasan teoritis untuk kemajuan kemanusiaan. Melihat masih banyaknya ilmuwan-ilmuwan Melayu dan Barat yang menjadikan Natsir sebagai objek penelitian, saya melihat peluang UMN akan mendapatkan perhatian dari komunitas akademisi internasional apabila menjadikan dirinya sebagai Pusat Kajian dan Dokumentasi Mohammad Natsir.

Terus terang saya tidak ingin UMN hanya menjadi universitas biasa-biasa saja sementara nama Natsir sudah mendunia. Semakin menyedihkan UMN terjebak pada dinamika bisnis pendidikan yang menggiurkan dan kehilangan semangat ketulusan Natsir untuk memberdayakan, mencerahkan dan mencerdaskan umat. Semoga ketakutan saya tidak terjadi.