Tersisa kurang dari 1 bulan lagi, Indonesia akan menjadi tamu kehormatan (Guest of Honor) Frankfurt Book Fair, salah satu pameran buku tingkat internasional yang prestisius dan sering disebut-sebut sebagai pameran buku terbesar sedunia. Waktu yang tersisa akan terasa sangat singkat buat Komite Nasional Persiapan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015 untuk finalisasi segala hal yang berkaitan dengan status Indonesia sebagai Guest of Honor.

Namun amat disayangkan, energi Komite Nasional harus terbagi untuk memberikan berbagai penjelasan kepada pihak-pihak yang merasa ada persoalan dan ketidakadilan dalam proses keberangkatan ke Frankfurt di bulan Oktober nanti. Paling tidak ada 3 persoalan besar yang menjadi kritikan terhadap Komite Nasional: seleksi penulis dan penggiat literasi yang akan hadir di Frankfurt dengan biaya negara, kentalnya nuansa peristiswa 1965, dan ketidakterwakilan penerbit-penerbit kecil Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015.

Jika ditelisik jauh ke belakang, gaung Indonesia sebagai Guest of Honor Frankfurt Book Fair 2015 sudah digaungkan secara massif sejak 1,5 tahun yang lalu. Bahkan sejak akhir 2013,  Goethe Institut Indonesia, Vice President Frankfurt Book Fair, dan Pengurus IKAPI Pusat bersama Kemendikbud sudah melakukan berbagai rangkaian sharing session yang melibat berbagai elemen insan perbukuan Indonesia dengan berbagai pembahasan dari masalah buku sastra, novel, buku-buku anak, dan buku masakan hingga persoalan international marketing dan copyright. Sharing session ini terus dihelat Goethe Institut Indonesia hingga November 2014 di panggung Indonesia International Book Fair 2014 (1-9 November 2014) ketika saya bersama belasan teman-teman penerbit Indonesia barusan pulang dari Frankfurt Book Fair 2014 (8-12 Oktober 2014) diminta untuk memberikan testimoni dan sharing pengalaman selama kami berada di Frankfurt. Tentu amat disayangkan apabila suara-suara miring dan kritis baru muncul di detik-detik terakhir menjelang keberangkatan.

Dari sekian banyak penulis, sastrawan, penggiat literasi dan pakar-pakar keindonesiaan, tentu Komite Nasional tidak bisa memberangkatkan mereka semua. Apalagi budget yang diberikan oleh negara yang sebenarnya tidak terlalu besar (Rp. 146 Miliar) dipakai tidak hanya untuk biaya akomodasi 123 orang yang telah dipilih oleh Komite Nasional, tetapi harus juga dibagi dengan anggaran penerjemahan, pembuatan stand yang mewah dan elegan, serta berbagai biaya administratif dan pengangkutan berbagai perlengkapan, souvenir dan barang yang akan ditampilkan di Frankfurt nanti. Termasuk 15 ribu batang bambu yang lagi diekspedisikan ke Frankfurt untuk menguatkan warna “Indonesia” di hall paviliun nanti. Jika ada penulis, sastrawan, penggiat literasi dan pakar Indonesia (yang diplot untuk “berseminar” di Frankfurt), maka itu bisa dimaklumi dengan berbagai pertimbangan, baik itu masalah kuota, keterbatasan dana, dan skala prioritas.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah kehadiran para juru masak dalam daftar rombongan Komite Nasional yang akan berangkat ke Frankfurt. Kenapa pameran buku harus mengikutsertakan tukang masak? Pengalaman saya menjadi delegasi Indonesia di Frankfurt Book Fair 2014 kemarin, masakan nusantara menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung mampir di Boot Indonesia. Setiap makanan yang disuguhkan oleh panitia disantap habis oleh para pengunjung dari berbagai negara. Poin penting untuk mengusir kecurigaan apa pentingnya koki hadir di pameran buku, adalah karena buku resep masakan menjadi salah satu buku terlaris dan mendapatkan perhatian pengunjung Frankfurt Book Fair beberapa tahun terakhir.

Isu terkait Komite Nasional berambisi membawa tema Peristiwa Berdarah 1965 ke panggung internasional sebenarnya telah dijawab oleh Goenawan Mohamad di blog pribadinya dan di berbagai kesempatan press conference. Saya hanya ingin menambahkan sedikit saja bahwa kecurigaan ini sepenuhnya tidak terlalu memiliki alasan yang terlalu kuat. Kehadiran sastrawan kawakan Taufik Ismail dan berbagai penulis muda yang mengusung genre Islam telah membuktikan Komite Nasional tidak mengutamakan isu dan ideologi tertentu untuk Frankfurt Book Fair 2015. Sudah diketahui bersama, Taufik Ismail merupakan pelaku sejarah dan sastrawan kanan yang banyak membuat syair-syair puisi anti kiri. Bahkan ketika acara pembukaan Frankfurt Book Fair 2014, di depan gedung Frankfurt Messe, ratusan aktivis kiri radikal melakukan protes penolakan atas penyelenggarakan Frankfurt Book Fair yang dianggapnya sebagai bagian dari cengkraman kapitalisme global.

Dapat juga saya tambahkan, menjual copyright bukanlah hal yang mudah. Tampil di berbagai forum-forum diskusi yang disediakan oleh panitia (selama beberapa penyelenggaraan Frankfurt Book Fair ada ratusan forum diskusi yang dipersiapkan oleh panitia, sehingga mungkin hanya beberapa belas atau puluh forum saja yang bisa diikuti oleh pengunjung ataupun penerbit yang hadir di sana) tidaklah menjadi jaminan seorang penulis menjadi terkenal. Jangan pula dibayangkan hall tempat penyelengaraan Frankfurt Book hanya sebesar istora Senayan yang sering dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan book fair di Indonesia dan hanya satu lantai. Satu hall saja kurang lebih 2 kali besarnya istora.

Di tahun 2014 kemarin ada 8 hall besar yang terisi oleh penerbit-penerbit dari seratusan lebih negara di dunia. Staf pencari naskah dari penerbit biasanya hanya bisa menghadiri beberapa forum saja karena mereka sendiri juga sibuk dengan transaksi jual beli copyright buku penerbitnya dan pembicaraan pembelian copyright buku dari penerbit negara lain yang itupun mereka sudah punya gambaran cukup tentang kualitas buku yang akan dibeli hak penerjemahannya itu serta telah melakukan kontak-kontak awalan sebelum kopi darat di Frankfurt.

Di tahun 2014 kemarin novel, buku-buku anak dan buku-buku resep masak mendapat perhatian luar biasa dari exhibitor dan pengunjung. Kalaupun ada tudingan Komite Nasional menganakemaskan karya-karya novel dengan tema 1965, itu masih bisa dikritisi dengan sulitnya membaca selera penerbit-penerbit dari 100 lebih negara yang akan berpartisipasi di Frankfurt Book Fair 2015. Mungkin pembaca di Jerman lagi gandrung dengan karya-karya berlatar belakang peristiswa tragedi sejarah. Tapi apakah tema-tema itu juga disukai oleh pecinta buku di Amerika, Amerika Latin, Asia Selatan, Asian Barat, Afrika, Australia Oceania dan pembaca buku di Asia Tenggara terutama Malaysia yang selama ini menjadi pembeli copyright paling besar untuk buku-buku Indonesia.

Persoalan terakhir yang ingin saya bahas di sini, kurang terwadahinya penerbit-penerbit kecil untuk tampil di Frankfurt Book Fair. Tudingan ini lagi-lagi tak sepenuhnya benar. Saya termasuk penerbit kecil yang beruntung bisa menjadi exhibitor di Frankfurt Book Fair 2014 lewat program yang diselenggarakan oleh Goethe Institut bekerjasama dengan IKAPI. Tidak hanya sekedar numpang tampang di Frankfurt, sebelum keberangkatan saya bersama 3 teman dari penerbit indie dan komunitas baca lainnya serta beberapa teman dari penerbit kelas atas Indonesia dipersiapkan secara serius oleh Goethe Institut dalam Workshop “International Marketing and Copyright” di Jakarta dan di Frankfurt. Seleksi itu dilakukan secara terbuka dan informasinya disiarkan melalui website resmi Goethe Institut Indonesia dan dipublikasi melalui berbagai sosial media. Tak hanya itu, penyelenggara Frankfurt Book Fair sendiri setiap tahun memberikan scholarship kepada penerbit-penerbit indie, penulis, desaigner, ilustrator dan penggiat literasi dari berbagai belahan dunia dengan label “Frankfurt Invitation Programme for Publishers” untuk mengikuti workshop penerbitan sekaligus menjadi exhibitor di Frankfurt Book Fair. Tahun kemarin Penerbit Margin Kiri mendapatkan kesempatan emas itu.

Mungkin ada yang merasa sudah memiliki karya hebat dan berdarah-darah mengembangkan dunia literasi di Indonesia, tetapi tidak dilibatkan dalam even perbukuan prestis kaliber internasional seperti Frankfurt Book Fair. Harus disadari bahwa label menjadi sastrawan hebat dan penulis hebat di Indonesia tidak otomatis menjadi jaminan untuk menuai sukses secara global. Kisah Andrea Hirata yang tidak punya latar belakang di dunia sastra dan hanya menjadikan tulisannya sebagai ungkapan pengalaman masa kecilnya, bisa menjadi contoh bagaimana label sastrawan nasional tidak menjadi parameter untuk terkenal di luar negeri dan mendapatkan tawaran penerjemahan karyanya ke bahasa asing. Apalagi si penulis sendiri tidak terlalu serius memasarkan bukunya dalam edisi bahasa Inggris dan melakukan promosi dalam bahasa Inggris.

Dalam sebuah percakapan dengan direktur sebuah penerbitan besar Finlandia (Guest of Honor Frankfurt Book Fair 2014), saya melihat persoalan bahasa ini menjadi persoalan serius. Kebanyakan penerbit-penerbit di Finland masih memproduksi buku dalam bahasa Finnish. Sementara saya pada waktu itu hanya membawa katalog buku berbahasa Inggris tetapi buku penerbit saya sendiri masih berbahasa Indonesia. Menemukan orang Finland yang bisa berbahasa Indonesia bisa menjadi kesulitan tersendiri, begitu juga sebaliknya. Sehingga dari sana saya menyadari bahwa modal awal untuk go international adalah dengan mempublikasi buku dalam bahasa Inggris. Klaim ini mendapatkan justifikasi bagaimana intensnya jual beli copyright di boot penerbit-penerbit buku berbahasa Inggris selama Frankfurt Book Fair berlangsung.

Daripada menggerutu karena tak mendapatkan tempat dalam rombongan Komite Nasional Frankfurt Book Fair 2015, saya pikir akan lebih produktif apabila penulis, sastrawan, penerbit dan penggiat literasi Indonesia memberikan perhatian serius untuk masalah publikasi dan promosi dalam bahasa Inggris ini. Karena toh Frankfurt Book Fair akan ada setiap tahun. Di Eropa sendiripun ada sekian book fair yang dihelat sepanjang tahun, dari Leipzig Book Fair, London Book Fair, Moscow International Book Fair, Bologna Children’s Book Fair. Belum lagi pameran-pameran buku internasional di kota-kota lainnya seperti Cairo International Book Fair, Kolkata Book Fair, New Delhi World Book Fair, Buenos Aires Book FairAbu Dhabi International Book Fair, BookExpo America New York City USA, South African Book Fair, Tokyo International Book Fair, Hong Kong Book Fair, Beijing International Book Fair, Guadalajara International Book Fair Guadalajara Mexico. Sehingga siapapun yang memang ingin merintis jalan internasionalisasi dalam dunia perbukuan tidak akan pernah kehilangan momen.

Di sisi lain, ada baiknya kita mengapresiasi kerja-kerja berat yang telah dilakukan oleh Komite Nasional dalam upaya penyuksesan Indonesia sebagai Guest of Honor Frankfurt Book Fair 2015. Dari seleksi karya-karya yang layak mendapatkan donasi penerjemahan, panas-dingin dengan kepastian dana dari pemerintahan yang berdinamisasi dengan situasi politik 2014, sampai persoalan mepetnya waktu persiapan serta sulitnya mencari penerjemah berkualitas tetapi bertarif murah sehingga dimungkinkan semakin banyak buku-buku Indonesia yang bisa diterjemahkan dan dibawa ke Frankfurt. Belum lagi kerja-kerja pikiran untuk melahirkan ide dan mengejewantahkan konsep 17000s Islands of Imagination sehingga bisa memukau exhibitor dan pengunjung Frankfurt Book Fair 2015 dari seluruh dunia.

Menutup tulisan ini, saya hanya menghimbau kepada seluruh pihak yang menyintai dunia penerbitan dan dunia buku di Indonesia untuk tidak menghabiskan energi dengan hal-hal negatif yang mungkin saja dipicu oleh persoalan pribadi dan kekecewaan karena tidak dilibatkan dalam persiapan Indonesia menjadi Guest of Honor Frankfurt Book Fair 2015. Siapapun yang berangkat dan siapapun yang terlibat mari kita dukung bersama-sama. Karena siapapun mereka, orang hanya melihat mereka dalam satu wajah, INDONESIA. Kita semua berharap menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015 bisa menjadi “kado istimewa” yang dipersembahkan oleh dunia penerbitan Indonesia untuk HUT RI ke 70, bukan jadi “kado sengketa” apalagi “kado petaka”.