MULIAKAN DIRI DENGAN ALQUR’AN

tulisan ini merupakan tanggapan reflektif saya atas pernyataan mahasiswa tingkat 5 UIN Sumatera Utara yang merasa sok hebat dengan pemikirannya dengan menghina alqur’an, nabi muhammad dan ajarannya… kuliah aja keteteran, sudah berani macem… bayar uang kuliah aja masih menadahkan tangan sama orang tua, sudah lancang menghina agama… IPK aja entah seberapa, sudah berlagak kayak ulama… ke eropa aja belum pernah, eh sudah merasa tahu dengan barat…  http://jambi.tribunnews.com/2015/09/23/inilah-komentar-mahasiswa-uin-yang-hina-nabi-muhammad

nabi muhammad hanyalah seorang yang ummi (the unlettered prophet)… tapi Allah muliakan beliau dengan alqur’an…

masyarakat arab hijaz di zaman rasulullah, hanya masyarakat padang pasir yang tak terlalu dikenal oleh masyarakat dunia lainnya… mereka jauh ketinggalan dari imperium romawi, persia, china dan india… tetapi hanya selang beberapa tahun sepeninggal rasulullah. para sahabat di masa umar berhasil menaklukkan beberapa daerah kekuasaan persia dan romawi…

mereka bukanlah komunitas yang punya tradisi peradaban panjang.. tetapi mereka adalah kaum yang mengisi dada-dada mereka dengan alqur’an… mengisi hati-hati mereka dengan alqur’an… dan menghiasi kehidupan mereka dengan alqur’an…

saat melihat kemajuan negara-negara barat, kemudian kita silau dan menuduh alqur’an sudah ketinggalan zaman… ketika negara-negara islam mengalami persoalan kemiskinan dan terus dibombardir dengan berbagai keterpurukkan, kita kemudian mengatakan ajaran rasulullah tak lagi relevan dengan perkembangan zaman…

kita alfa bahwa keterpurukan kita karena kita meninggalkan alqur’an… kita disuruh untuk meninggalkan riba… tapi kita mencari rizki dan mengelola negara ini dengan sistem ribawi… kita disuruh alqur’an untuk hidup sederhana… tetapi kita lebih senang berfoya-foya dan keranjingan membeli barang-barang bermerk untuk meningkatkan status sosial… alqur’an memerintahkan kita untuk menjadi “abdullah”… tetapi kita lebih senang menjadi hamba manusia, sehingga kita terjerumus pada penyakit psikologis akut yang bernama “inlander” yang membuat kita sangat mudah menjadi kaum terjajah…

mudah2an kita masih ingat dengan kisah umar bin khattab ini (dikutip dari https://ksatriaputih.wordpress.com/tag/khalifah-umar/):

Ketika menerima utusan dari negara-negara di jazirah arab yg pernah ditaklukan, khalifah umar bin khattab menyambutnya dengan menggunakan jubah satu-satunya yg lusuh dan banyak memiliki tambalan. Jumlah tambalan yg ada pada jubah tersebut ada dua belas.

Sebagai pengganti khalifah Abu Bakar, mestinya khalifah Umar mendapat gaji lebih banyak dari Abu Bakar, sebab wilayah kekhalifahan islam semakin luas, sehingga semakin banyak pula tugas dan kewajiban khalifah Umar, rakyatpun semakin makmur.. Tetapi ia meminta penerimaan gajinya sama dengan khalifah Abu Bakar pendahulunya.

Para sahabat merasa iba dan prihatin atas sikap dan kesederhanaan khalifah Umar itu. Beberapa kali mereka mengusulkan agar khalifah umar mau menerima gaji yg sesuai dengan tanggung jawabnya, namun usulan itu selalu ditolaknya.

“kenapa kalian memaksaku untuk menerima gaji yg melebihi dari kebutuhanku?” kata khalifah Umar. “Ketahuilah meskipun Rasulullah diampunkan dosanya yg telah lewat dan yg akan datang, namun beliau tetap memilih hidup melarat, tetapi tetap bersemangat dalam beribadah, apalagi aku?”.

Itulah khalifah umar bin khattab yg terkenal dengan kezuhudanya. Meski dia sebagai kepala negara atau amirul mukminin, dia tak tergiur oleh gemerlapnya harta benda. Jangankan untuk korupsi, mengambil yg menjadi haknya sendiri saja ia enggan melakukannya.

Karena jubah yg dikenakan selalu itu saja, jubah yg lusuh dan penuh tambalan, para sahabat mengusulkan agar khalifah umar mau menggantinya dengan yg baru. Hal itu merupakan pertimbangan para sahabat, demi menjaga kewibawaan seorang amirul mukminin. Untuk itu, para sahabat bersepakat menunjuk Ali bin Abi Thalib mewakili mereka menyampaikan usulan itu. Mengingat Ali adalah menantu Rasulullah.

“Aku tak berani menyampaikan usulan kalian,” kata Ali bin Thalib, sebaiknya kalian menemui para istri Rasulullah. Mereka adalah ummul mukminin, jadi lebih pantas untuk menyampaikannya. Para sahabat kemudian menemui Aisyah dan Hafsah, dua istri rasul yg tinggal serumah. Karena diminta kedua ummul mukminin itu datang menemui khalifah Umar.

“Bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu wahai amirul mukminin?” kata Aisyah.
“Silahkan,” jawab khalifah Umar.

“Khalifah Umar anda adalah seorang pemimpin negara. Anda mewarisi kekayaan kaisar romawi dan persi, pada saat anda menerima para utusan bangsa arab, mengenakan jubah yg lusuh, bagaimana kalau anda mengganti jubah yg anda kenakan dengan yg baru agar tampak anggun dan berwibawa sebagai khalifah. Bukankah Allah telah melimpahkan harta yg berlebih dihadapan anda?”. Belum sampai aisyah menghabiskan ucapanya, tiba-tiba khalifah Umar menangis.

“Demi Allah aku bertanya kepadamu. Pernahkah rasulullah merasa kenyang karena malam roti mewah selama berhari-hari dalam hidupnya?” tanya khalifah Umar.

“Tidak pernah, jawab Aisyah.

“Pernahkah Rasulullah minta diberi hidangan makanan yang enak-enak dan pakaian yang bagus-bagus?”

“Belum pernah.” Jawab Aisyah
“wahai istri Rasulullah, jika kalian tak pernah menyaksikan rasulullah makan dan berpakaian serba merah, lalu mengapa kalian berdua datang mengusulkan agar aku hidup mewah sepeninggal beliau?

JANGAN PERNAH MENUDUH ALQUR’AN ITU KUNO, SEMENTARA DALAM SEHARI KITA ENGGAN MELUANGKAN WAKTU BERINTERAKSI DENGAN ALQUR’AN BARANG 1 JAM SAJA… JANGANKAN 30 JUZ, JUZ 30 SAJA KITA MASIH BELUM HAFAL… APALAGI KALAU SUDAH MASUK WILAYAH TAFSIR DENGAN SEGALA KOMPLEKSITASNYA…

JANGAN PERNAH MENUDUH AJARAN NABI MUHAMMAD ITU SUDAH KETINGGALAN ZAMAN.. SEMENTARA KITA BELUM MENGKHATAMKAN KUTUBUT TIS’AH DAN PAHAM SYARAHNYA…

LEBIH BAIK MULIAKAN DIRI DENGAN MEMBACA ALQUR’AN, MENGHAFAL ALQUR’AN DAN MEMPELAJARI TAFSIR ALQUR’AN…. LEBIH BAIK MULIAKAN DIRI DENGAN MEMBACA HADIST, MENGHAFAL HADIST DAN MEMAHAMINYA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH… DARIPADA HANYA BERANI MENGKRITIK ALQUR’AN DAN HADIST SUDAH NGAK LAGI RELEVAN DNEGAN ZAMAN YANG KATANYA KONTEMPORER SEMENTARA DALAM KESEHARIAN KITA, JAUH DARI 2 SUMBER MATA AIR YANG TERAMAT JERNIH INI…