Tahun ini kaum muslimin di Indonesia lagi-lagi dibuat binggung oleh 2 keputusan yang berbeda terkait penetapan Hari Raya Idul Adha. Jauh-jauh hari Majelis Tarjih Muhammadiyah sudah menyebarkan Edaran Keputusan bahwa di Indonesia Idul Adha jatuh pada tanggal 23 September 2015. Sementara Kementerian Agama menetapkan bahwa 10 Zulhijjah 1436 jatuh pada 24 September 2015. Keputusan pemerintah ini mendapatkan penguatan karena pemerintah Saudi Arabia sendiri menetapkan bahwa Idul Adha tanggal 24 September 2015. Berbeda dengan tahun 2014 kemarin dimana keputusan pemerintah Indonesia dianggap kontroversial karena Idul Adha ditetapkan jatuh 2 hari setelah wukuf di Arafah.

Menanggapi kegalauan itu Majelis Tarjih dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan penjelasan sebagai berikut:

Jawaban resmi dari Ketua PP Muhammadiyah yg membidangi Tarjih:

Prof.Dr.Yunahar Ilyas,Lc,MA

Assalamu’alaikum.wr.wb, kita tetap konsisten dengan hasil hisab Tarjih. Puasa Arafah tgl 9 Zulhijjah (22 Sept 2015) shalat ‘Ied 10 Zulhijjah (23 Sept 2015). Karena tidak libur resmi menyembelihnya bisa 11 Zulhijjah (karena waktu penyembelihan sd 13 Zulhijjah) .
PP tidak boleh merubah dan menyalahi keputusan Tarjih. Itu domain Tarjih. Wassalam

Untuk lebih memperkuat: KAPAN PUASA ARAFAH ITU?

Asalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuh

Kemarin malam Senin 13 september Kemenag melalui Dirjen BIMAS Islam menyampaikan hasil siding itsbat sebagai hasil dari penggunaan metode imaknur ru’yat terkait dengan penentuan hari arofah dan hari raya Idul Adha. Pemerintah memutuskan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa 15 September 2015 sehingga hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015.

Sementara Muhammadiyah dengan metode wujudul hilalnya sudah menetapkan jauh sebelumnya bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Senin 14 September 2015 sehingga hari arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu 24 September 2015.

Adapun pemerintah Arab Saudi, menurut informasi juga menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa 15 September 2015 sehingga hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015.

Keputusan pemerintah Arab Saudi terkait dengan hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015 yang berbeda dengan jadwal perjalan haji yang sudah dirilis oleh kemenag dimana dicantumkan bahwa wukuf di Arofah jatuh pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu 24 September 2015 mungkin sedikit membuat ragu beberapa warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Untuk itu perlu dijelaskan kepada warga Muhammadiyah dan simpatisan Muhammadiyah meskipun keputusan Muhammadiyah terkait dengan penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H, Hari Arofah dan hari idul Adha berbeda dengan pemerintah dan bahkan juga berbeda dengan Arab Saudi, bahwa keputusan itu benar adanya berdasarkan metode Hisab Wujudul Hilal yang dipedomani Muhammadiyah. Penjelasan tersebut diberikan agar mereka tidak ragu ketika melaksanakan puasa Arofah besok selasa 22 September 2015 dan shalat Idul Adha besok Rabu 23 September 2015.

Apakah Puasa Arafah harus dikerjakan bersamaan dengan jama’ah haji yang sedang berwukuf ?

ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ ﺃَﺣْﺘَﺴِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺑَﻌْﺪَﻩُ
“Puasa hari Arofah aku berharap kepada Allah agar penebus (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya” (HR Muslim no 197)

Kalangan ulama berbeda pendapat terkait dengan makna kalimat ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ “Puasa hari Arofah…”.

Pendapat pertama mengatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan bersamaan dengan wukufnya para jama’ah haji di padang Arafah.
Pendapat Kedua menyatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada masing-masing wilayah.
Masalah tersebut adalah masalah khilafiyah fiqhiyah, sehingga dibutuhkan adanya kelapangan dada untuk legowo dalam menghadapi permasalahan ini, tidak perlu ngotot apalagi menuduh orang yang berbeda pendapat dengan tuduhan yang tidak-tidak. Kita hadapi permasalahan tersebut dengan saling berlapang dada. Jika setiap permasalahan khilafiyah kita ngotot maka kita akan selalu ribut.

Permasalah tersebut pada dasarnya berangkat dari dasar yang sama, hanya berbeda dalam memahami teksnya saja. Jika seandainya Nabi saw. dalam hadits tersebut bersabda “Puasa Arafah lah kalian ketika para jam’ah haji sedang wukuf di padang Arafah”, tentu tidak akan muncul persoalan. Akan tetapi karena sabda nabi saw. berbunyi ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ “Puasa hari Arofah…”, maka muncullah perbedaan dalam memahami sabda Nabi tersebut, apakah maksudnya adalah “hari dimana para jama’ah haji sedang wukuf di Arafah”? ataukah yang dimaksud adalah “hari tanggal 9 Dzulhijjah, yang dinamakan dengan hari Arofah?”.

Muhammadiyah dalam hal ini memahami bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada di wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan metode hisab wujudul hilal. Oleh karena itu, puasa Arafahnya tidak harus bersamaan dengan jama’ah haji yang sedang berwukuf di Arafah ketika terjadi perbedaan hari antara Muhammadiyah dan pemerintah Arab Saudi.

Beberapa argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung pemahaman Muhammadiyah tersebut, yaitu :

PERTAMA : Rasulullah saw. telah menamakan puasa Arafah meskipun kaum muslimin belum melaksanakan haji, bahkan para sahabat telah mengenal puasa Arafah yang jatuh pada 9 dzulhijjah meskipun kaum muslimin belum melasanakan haji.
Dalam sunan Abu Dawud :

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, hari ‘Aasyuroo’ (10 Muharraom) dan tiga hari setiap bulan” (HR Abu Dawud)

Hadits di atas menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Tatkala mengomentari lafal hadits yang berbunyi :”Orang-orang (yaitu para sahabat) berselisih tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (tatkala di padang Arofah)”, Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Ini mengisyaratkan bahwasanya puasa hari Arafah adalah perkara yang dikenal di sisi para sahabat, terbiasa mereka lakukan tatkala tidak bersafar. Seakan-akan sahabat yang memastikan bahwasanya Nabi berpuasa bersandar kepada kebiasaan Nabi yang suka beribadah. Dan sahabat yang memastikan bahwa Nabi tidak berpuasa berdalil adanya indikasi Nabi sedang safar” (Fathul Baari 6/268)

Perlu diketahui bahwa Nabi saw. hanya berhaji sekali yaitu pada saat haji wadaa’- dan ternyata Nabi dan para sahabat sudah terbiasa puasa di hari Arafah meskipun tidak ada dan belum terlaksananya wukuf di padang Arafah oleh umat Islam pada saat itu. Hal itu menujukan bahwa konsentrasi penamaan puasa Arafah tidak karena adanya orang sedang berwukuf di Arafah, tapi puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

KEDUA : Kita bayangkan bagaimana kondisi kaum muslimin -taruhlah- sekitar 200 tahun yang lalu, sebelum ditemukannya telegraph, apalagi telepon. Maka jika puasa Arafah penduduk suatu negeri kaum muslimin harus sesuai dengan wukufnya jama’ah haji di padang Arafah, maka bagaimanakah puasa Arafahnya penduduk negeri-negeri yang jauh dari Makkah seperti Indonesia, India, Cina dll 200 tahun yang lalu? apalagi 800 atau 1000 tahun yang lalu?.

Demikian juga bagi yang hendak berkurban, maka sejak kapankah ia harus menahan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut?, dan kapan ia boleh memotong kambing kurbannya?, apakah harus menunggu kabar dari Makkah? yang bisa jadi datang kabar tersebut berbulan-bulan kemudian?.

KETIGA : Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama’ah haji di padang Arafah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbedaan waktu antara Makkah dan Sorong adalah 6 jam?.
Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Makkah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Makkah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Makkah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??

KEEMPAT : Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama’ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arafah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama’ah yang wukuf di padang Arafah?

Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arafah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arafah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Maka barang siapa yang satu mathla’ dengan Makkah dan tidak berhaji maka hendaknya ia berpuasa di hari para jama’ah haji sedang wukuf di padang Arafah karean pada saat itu di Makkah sudah tanggal 9 Dzhulhijjah, akan tetapi jika ternyata mathla’nya berbeda -seperti penduduk kota Sorong- maka ia menyesuaikan 9 dzulhijjah dengan kalender di Sorong.

Intinya permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Meskipun Muhammadiyah lebih condong kepada pendapat kedua -yaitu setiap negeri menyesuaikan 9 dzulhijjah berdasarkan kalender masing-masing negeri-, tetapi Muhammadiyah menyadari ada juga pendapat pertama yang tentu juga punya argumen kuat.

Permasalahan seperti ini sangatlah tidak pantas untuk dijadikan ajang untuk saling memaksakan pendapat, apalagi menuding dengan tuduhan kesalahan manhaj atau kesalahan aqidah dan sebagainya. Semoga Allah mempersatukan kita di atas ukhuwwah Islamiyah yang selalu berusaha untuk dikoyak oleh syaitan dan para pengikutnya. Kita harus mempunyai sikap setuju dalam perbedaan. Wallahu a’lam bish shawab.
Wasalamu’alaikum wr.wb.

Jawaban dari Prof. Dr. Yuhanar Ilyas itu kemudian direspon oleh Ustadz Zulharbi Salim lewat Surat Terbuka. Saya kenal secara pribadi dengan beliau dan sudah saya anggap sebagai “Orang Tua” saya dan sering saya panggil “Mamak”. Beliau mengkritik keputusan Tarjih Muhammadiyah yang menetapkan idul adha tanggal 23 september 2015… Beliau memperoleh gelar Lc dari university of madinah.. belajar langsung dari syaikh utsaimin dan syaikh bin baz… dua ulama kenamaan di saudi arabia yang buku2nya banyak dijadikan pegangan oleh para ustadz indonesia.. beliau melanjutkan S2 di University Al Azhar Mesir.. 32 tahun tinggal di Timur Tengah sebagai wartawan antara… sudah makan asam garam dalam menemani berbagai kegiatan para presiden dan raja negara-negara timur tengah…

ini isi surat terbuka beliau kepada muhammadiyah…

SURAT TERBUKA UNTUK MUHAMMADIYAH

Assalamualaikum wr.wb.

Tanggapan buat adinda Yunahar Ilyas dan Majlis Tarjih Muhammadiyah.

Alhamdulillah, menanggapi terjadinya perbedaan Idul Adha merupakan fenomena yg mesti diakhiri.

Pertanyaannya: Apakah wuquf itu bisa dirubah begitu saja? Ketetapan wuquf sudah jelas di Arafah, bukan di Jogjakarta atau Jakarta.
Kenapa harus mempertahankan yg salah dan membenarkan diri sendiri?
Pemerintah saja sdh tetapkan sama dgn Saudi kenapa Muhammadiyah memecah persatuan lagi. Apakah Majlis Tarjih punya hak lebih hebat dari Isbat ulama di Saudi?

Kali ini Muhammadiyah salah.. sekali lagi salah..dan dipandang memecah ummat.

Saya sbg anggota Muhammadiyah sangat sedih dan prihatin..
Hari Wuquf dan Idul Adha sudah jelas ketentuan Islam..bukan Muhammadiyah..
Jadi saya mohon agar Muhammadiyah mencabut Isbatnya itu, masih ada waktu meralatnya dan menyesuaikan dengan Saudi.

Demikian semoga ummat Islam tidak tersesat karena fatwa Muhammadiyah yg salah…

قل الحق ولو كان مرا

Berapat dan berpikirlah wahai Majlis Tarjih.
Janganlah menentang juga.. dosa besar ditanggung Majlis Tarjih bila menyuruh ummat Islam berpuasa Arafah bukan di hari Arafah.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita ummat Islam.

Wassalam
Zulharbi Salim

sebagai warga muhammadiyah, saya tidak mau terjebak pada ashobiyah dan fanatisme yang berlebihan kepada kelompok tempat saya berafiliasi… apalagi terjebak pada kengototan mempertahankan fatwa hanya karena persoalan malu dan gengsi merevisi atas sesuatu yang jauh2 hari sudah diumumkan…..

saya malah berpikir seperti ini. Wilayah Indonesia terbentang luas dari Barat sampai ke Timur. Sehingga Indonesia harus dibagi dalam 3 wilayah waktu, WIB, WITA dan WIT. yang masing-masing punya perbedaan waktu 1 jam. Menetapkan hari besar Islam dari Jakarta sebenarnya adalah bentuk penindasan pemerintah pusat kepada daerah-daerah dalam hal berkeyakinan dan beragama. Kita bisa membayangkan, bagaimana pemerintah pusat memaksa warga negara Indonesia wilayah timur untuk menunggu sampai jam 8-9 malam untuk memutuskan besok apakah hari raya Idul Fitri atau tidak. Bagaimana dengan persoalan-persoalan teknis terkait pelaksanaan sholat tarawih, persiapan takbiran keliling yang menjadi budaya islam nusantara dan soal persiapan ibu-ibu yang sudah mentradisikan masak dalam jumlah yang banyak untuk menyambul idul fitri dalam rangka menjamu keluarga dan tetangga yang ingin bersilaturahmi.

terkhusus soal penetapan idul adha, yang sangat terkait dengan ibadah haji yang intinya adalah wukuf di arafah kenapa tidak diterangkan pendapat ulama yang menyatakan bahwa puasa arafah berkaitan dengan wukuf di arafah..
hari ‘Arafah adalah hari yang di dalamnya terdapat peristiwa wuquf di ‘Arafah. ada sekian banyak dalil yang memperkuat pandangan ini. (saya mengambil argumen ini dari blog http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/10/kapan-puasa-hari-arafah.html — mari kita sama2 chek terkait hadist2 dan pendapat ulama yang disampaikan di bawah ini)

Pertama

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ جَبَلَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْوَانَ الْعُقَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ هُوَ الدَّسْتُوَائِيُّ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا مِنْ أَيَّامٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَيَّامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ “، قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هُنَّ أَفْضَلُ أَمْ عِدَّتُهُنَّ جِهَادًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟، قَالَ: ” هُنَّ أَفْضَلُ مِنْ عِدَّتِهِنَّ جِهَادًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاحِينَ جَاءُوا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَلَمْ يَرَوْا عَذَابِي، فَلَمْ يُرَ يَوْمٌ أَكْثَرُ عِتْقًا مِنَ النَّارِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ ”

Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru bin Jabalah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marwaan Al-‘Uqailiy : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad-Dustuwaa’iy, dari Abuz-Zubair, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada hari-hari yang lebih utama di sisi Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”. Seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, mana yang lebih utama, sepuluh hari tersebut ataukan berjihad di jalan Allah selama sepuluh hari ?”. Beliau shallallahau ‘alaihi wa sallam menjawab : “Sepuluh hari tersebut lebih utama dibandingkan berjihad selama sepuluh hari. Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah daripada hari ‘Arafah. (Pada hari tersebut), Allah turun ke langit dunia seraya berbangga-bangga dengan penduduk bumi di hadapan penduduk langit. Allah berfirman : ‘Lihatlah kepada para hamba-hamba-Ku yang keadaannya kusut, berdebu, dan berkurban datang dari segala penjuru negeri mengharapkan rahmat-Ku dan tidak melihat adzab-Ku. Tidaklah nampak hari yang lebih banyak dibebaskan dari neraka daripada hari ‘Arafah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 3853; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dalam Tahqiq dan Takhrij-nya terhadap Shahiih Ibni Hibbaan, 9/164].

حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَابَا، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا ”

Telah menceritakan kepada kami Az-har bin Al-Qaasim : Telah menceritakan kepada kami Al-Mutsannaa bin Sa’iid, dari Qataadah, dari ‘Abdullah bin Baabaa, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berbangga-bangga kepada para malaikat-Nya pada sore hari ‘Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berfirman : ‘Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 2/224; Al-Arna’uth dkk. dalam Tahqiq dan Takhrij-nya terhadap Musnad Al-Imaam Ahmad 11/660 berkata : “Sanadnya tidak mengapa”].

Hadits di atas adalah dalil yang paling jelas menunjukkan hari ‘Arafah adalah hari yang di dalamnya ada peristiwa wuqufnya jama’ah haji di ‘Arafah. Seandainya kita menetapkan hari ‘Arafah sehari lebih lambat atau sehari lebih cepat dari pelaksanaan wuquf di ‘Arafah, apakah keutamaan yang disebutkan dalam hadits di atas ada/terjadi ?.

Kedua
Secara bahasa, puasa hari ‘Arafah adalah terkait dengan ‘Arafah itu sendiri yaitu nama satu tempat yang digunakan jama’ah haji untuk wuquf.

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata:

فَأَمَّا يَوْمُ عَرَفَةَ : فَهُوَ الْيَوْمُ التَّاسِعُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ ، سُمِّيَ بِذَلِكَ ، لِأَنَّ الْوُقُوفَ بِعَرَفَةَ فِيهِ .
وَقِيلَ : سُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ ، لِأَنَّ إبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أُرِيَ فِي الْمَنَامِ لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ أَنَّهُ يُؤْمَرُ بِذَبْحِ ابْنِهِ ، فَأَصْبَحَ يَوْمَهُ يَتَرَوَّى ، هَلْ هَذَا مِنْ اللَّهِ أَوْ حُلْمٌ ؟ فَسُمِّيَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ ، فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الثَّانِيَةُ رَآهُ أَيْضًا فَأَصْبَحَ يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَعَرَفَ أَنَّهُ مِنْ اللَّهِ ، فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ .

“Adapun hari ‘Arafah, ia adalah hari kesembilan bulan Dzulhijjah. Dinamakan demikian karena wuquf di ‘Arafah dilakukan pada hari itu. Dikatakan : Dinamakan hari ‘Arafah karena Ibraahiim ‘alaihis-salaam diperlihatkan dalam mimpinya pada malam hari tarwiyyah bahwasannya ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya (Ismaa’iil). Pada pagi harinnya ia merenung, apakah ini berasal dari Allah ataukah sekedar mimpi saja ?. Maka hari itu dinamakan hari tarwiyyah. Ketika tiba malam kedua, ia bermimpi hal yang sama dan bangun pada pagi harinya di hari ‘Arafah, lalu ia pun mengetahui bahwa perintah tersebut berasal dari Allah. Lalu dinamakanlah hari itu hari ‘Arafah” [Al-Mughniy, 3/112].

Ibnu Qudaamah rahimahullah menyebutkan sebab penamaan hari ‘Arafah karena wuquf di ‘Arafah dilakukan pada hari itu sebagai yang pertama. Baru kemudian ia menyebutkan pendapat kedua dengan shighah : qiilaa (dikatakan)”. Ini menunjukkan pendapat pertama yang ia sebutkan merupakan pendapat yang lebih masyhur dibandingkan kedua. Dan inilah yang lebih sesuai dengan dalil yang disebutkan di awal.

Oleh karena itu, puasa ‘Arafah adalah puasa yang dilakukan pada hari ‘Arafah yang di dalamnya ada peristiwa wuqufnya jama’ah haji di ‘Arafah, dan itu mesti berkesesuaian dengan penetapan yang dilakukan penguasa Makkah. Itulah yang lebih sesuai dengan teks nash.

إذا ورد الأثر بطل النظر
“Apabila telah tetap nash, batallah segala pendapat”.
Jika ada yang menyanggah bahwa tidak mungkin kaum muslimin di segala penjuru negeri Islam di jaman dahulu berpuasa ‘Arafah dalam waktu yang bersamaan sesuai dengan penduduk Makkah; maka itu merupakan ‘udzur. ‘Udzur karena sikon waktu itu yang tidak memungkinkan untuk melakukan transfer informasi yang cepat seperti saat sekarang, sehingga masing-masing mereka berijtihad dengan ru’yah mereka masing-masing di setiap negeri. Atau ringkasnya, yang tahu mengikuti, yang tidak tahu berijtihad. Maka, kalau sekarang kita mengqiyaskan dengan jaman dulu, ini namanya qiyas dengan sesuatu yang berbeda.

Nah, untuk zaman sekarang udzur itu sudah bisa diatasi dengan kemampuan teknologi. kita bisa mengakses informasi secepat kilat… dan kenapa muhammadiyah yang menetapkan diri sebagai organisasi yang sangat familiar dan mengedepankan keunggulan teknologi tidak memakai kemajuan teknologi itu untuk menghapus keudzuran karena akses informasi yang sulit dan membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai dan diterima oleh kaum muslimin yang jauh dari makkah – madinah…

Kemudian, saya malah berpikir, mempertimbangkan luasnya wilayah Indonesia, kenapa kita tidak melakukan desentralisasi kewenangan penetapan Idul Fitri dan Idul Adha kepada kumpulan ulama di masing-masing provinsi, misalnya MUI provinsi, dan masing pemilik otoritas itu berhak untuk mengumumkan penetapan hari-hari besar Islam sesuai dengan Mathla’ dan ijtihad mereka dalam melihat hilal. Sehingga kita tidak terlalu ribet dengan KEPUTUSAN JAKARTA yang sangat politis dan sarat kepentingan.

sampai saat ini saya masih berketetapan hati bahwa idul adha tahun ini adalah tanggal 24 september 2015… meskipun berstatus sebagai warga muhammadiyah, saya memutuskan untuk tidak ashobiyyah dan terus mencari ilmu dari luar muhammadiyah…

soal idul adha dan arafah saya cenderung kepada pendapat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang didirikan oleh Pak Natsir.. Dewan Dakwah punya ijtihad bahwa untuk hari raya idul adha yang berkaitan dengan ibadah puasa arafah sangat ditentukan oleh KAPAN JAMAAH HAJI WUKUF DI ARAFAH…sehingga wukuf di saudi menjadi patokan idul adha di indonesia…