beberapa tahun yang lalu dalam sebuah diskusi di pp muhammadiyah jogja yang menghadirkan prof. syafi’i ma’arif, saya memberanikan diri untuk bertanya sekaligus curhat tentang tidak terakomodasinya kader-kader muda muhammadiyah yang sudah “berkeringat” dan “berdarah2” di ortom2 dalam amal usaha muhammadiyah…

kemudian prof. syafi’i ma’arif mengatakan kepada saya, “anda tidak usah nyari kerja di muhammadiyah… lebih baik cari kerja di tempat lain.. kembangkan bakat dan potensi anda di tempat lain.. setelah anda sukses, maka bantulah muhammadiyah.. anda harus ingat pesan KH Dahlan, ‘hidup-hidupilah muhammadiyah, jangan cari hidup di muhammadiyah…”

atas dasar motivasi itu, saya kemudian berpetualang mencari kerja di luar amal usaha muhammadiyah sampai akhirnya memutuskan untuk menjadikan penerbitan sebagai jalan hidup…

tetapi malam ini saya tersentak ketika mengetahui bahwa ma’arif institute ternyata minjam gedung muhammadiyah untuk berkegiatan… saya bertanya-tanya, kenapa LSM sekelas ma’arif institute yang punya jaringan internasional dan dana melimpah masih saja minjam gedung muhammadiyah???

saya sampai pada kesimpulan bahwa kenyataan ini bukanlah semata-mata karena masalah uang… tetapi ada sesuatu yang dicari oleh ma’arif ketika bisa mendompleng di gedung muhammadiyah… ma’arif melihat nama besar muhammadiyah bisa menjadi ajang promosi dan “bargaining position” ketika mereka membuat publikasi yang menyentuh ranah publik… padahal produk-produk pemikiran yang dikeluarkan ma’arif sangat banyak bertentangan dengan hasil muktamar, khittah perjuangan, cita-cita, idelogi dan hasil keputusan tarjih muhammadiyah…

ketika muhammadiyah terkena getah atas kegiatan dan diseminasi pemikiran ma’arif, mereka tak pernah berani mengambil tanggung jawab dan mengatakan, ini produk pemikiran kami, bukan produk pemikiran muhammadiyah… orang-orang ma’arif masih memanfaatkan status sebagai mantan pengurus dan aktivis muda muhammadiyah dalam mengembangkan wacana-wacana yang sebenarnya sudah jauh dari ideologi muhammadiyah…

ketika berkaca lagi kepada institusi liberal lainnya yang eksis di indonesia, saya kemudian menginsyafi bahwa “penyandaran diri” kepada organisasi ataupun institusi besar dan sudah punya nama menjadi STRATEGI yang dipakai oleh aktivis-aktivis liberal di indonesia untuk menyebarkan ide-idenya..

pada kasus yang lain, ada lembaga yang menginduk kepada UGM… pada awalnya lembaga yang mengadakan program pascasarjana itu berjalan dengan baik dan sesuai dengan misi pancasilais UGM… karena memang masing dihuni oleh orang-orang UGM sendiri… lambat laun, orang-orang UGM sendiri mulai disingkirkan dan tampillah orang-orang baru yang tak pernah mengenyam pendidikan sarjana di UGM untuk menjalankan misi tertentu dan dalam produk-produk pemikirannya berseberangan dengan nilai-nilai pancasila yang menjadi nafas UGM… mereka memanfaatkan nama besar UGM untuk kemudian menjalankan agenda-agenda tersendiri…

contoh lain dari pengindukkan kepada organisasi besar adalah apa yang dilakukan oleh aktivis JIL yang sering mengidentifikasi diri sebagai aktivis Laksperdam NU… mereka tak mau melepaskan baju sebagai kader NU, meskipun pemikiran-pemikiran mereka bertentangan dengan apa yang telah digariskan dan diajarkan oleh KH Hasyim Asya’ri…

saya berpikir tentu akan berbeda hasilnya apabila para aktivis liberal itu tidak menginduk kepada organisasi atau institusi pendidikan yang sudah terkenal… kalau berdiri dan menjadi independen, rasanya institusi2 liberal di indonesia tak akan terlalu banyak mendapatkan perhatian dan suaranya hanyalah suara sumir dan tak terlalu diacuhkan oleh masyarakat.. tapi ketika mereka mengindentifikasi diri sebagai bagian dari ormas dan institusi pendidikan terkenal, akhirnya apa yang mereka keluarkan juga jadi ikutan terkenal.. meskipun isinya tak sejalan dengan konsep dan cita2 yang diusung oleh ormas dan institusi pendidikan tempat mereka “menumpang”…