Sudah Cukupkah Ibadah Kita untuk Masuk Sorga?


salah satu jebakan yang sering melanda orang-orang yang “merasa tahu agama” adalah terlalu mudah menuduh orang lain telah tersesat, diperdaya oleh syetan dan melakukan sesuatu yang tidak dituntunkan… tanpa melihat ada proses-proses psikologis dan runtime perjalanan hidup seseorang…

ada sebuah hadist yang bercerita tentang masuk sorganya seorang pelacur hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan di tengah teriknya padang pasir…

ada juga hadist yang bercerita tentang 3 golongan manusia yang dimasukkan Allah ke dalam neraka.. mereka bukanlah orang-orang yang dikenal sebagai ahlul maksiat oleh masyarakat di sekitarnya… ada yang ahli ibadah, ahli qur’an dan ahli sedekah… tetapi semua itu mereka lakukan lebih didorong agar dikatakan orang sebagai “orang yang taat beribadah”, “orang yang fasih dan paham alqur’an” serta “orang yang dermawan”… dalam hadist itu Allah dengan keras mengatakan “anda pendusta”…

sehebat apapun ilmu agama kita, sekuat apapun ibadah kita, belum menjadi jaminan bisa masuk ke dalam surga… oleh karena itu, para sahabat selalu menangis setiap melakukan ibadah.. khawatir ibadahnya tertolak dan dicampakkan bagaikan baju lusuh ke muka nya kembali oleh Allah…

di sisi lain, kitapun tak boleh membiarkan diri larut dalam maksiat dan hal-hal yang diharamkan.. memang benar Allah itu maha pengampun, pengasih dan penyayang… tetapi sudah sepantasnya kita menjadi hamba yang selalu merasa kurang beribadah dan merasa belum pantas masuk ke dalam surga… sehingga lewat rasa rendah diri itu, kita semakin memperbanyak ibadah dan meneguhkan ketaatan kepada-Nya…

sirah nabawiyah adalah contoh yang baik bagi kita, daripada mengikuti perkataan si fulan dan si fulan yang belum tentu juga bagus dan beres hidupnya… dari nabi kita belajar bagaimana berinteraksi dengan baik dengan orang lain… belajar bagaimana caranya menyampaikan nasehat kepada orang lain.. mendapatkan inspirasi tentang keteguhan beliau dalam beribadah… memperlakukan orang lain sesuai dengan hak dan akhlak yang baik…

nabi bukanlah hidup di tengah-tengah masyarakat yang sudah baik dan bawaannya calon penghuni sorga semua.. nabi herhadapan dengan orang arab jahiliyah yang masih suka menindas manusia lewat perbudakan dan bahkan membunuh bayi-bayi perempuan…

nabi hidup di masyarakat majemuk madinah… ada pengkhianatan dan tantangan dominasi ekonomi riba komunitas yahudi, ada juga penganut agama pagan.. ada juga terselip para penganut agama nasrani.. keluarga nabi bukan juga keluarga yang 100% islam… ada beberapa pamannya yang menjadi pemimpin jahiliyah.. ada abu thalib yg pasang badan dan nyawa untuk nabi, tapi sampai akhir hayatnya tidak diberikan hidayah oleh Allah untuk masuk islam… dan pada semuanya nabi berlaku adil dan berinteraksi dengan akhlak yang baik..

mungkin kita sudah banyak membaca kitab dan menjadi ustadz… tapi seringkali banyak yang lupa bagaimana akhlak nabi dalam berinteraksi dengan berbagai jenis dan tipelogi manusia..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s