11 tahun yang lalu.. ketika saya benar-benar terjebak dalam jurang kebimbangan sangat kronis.. ketika semua ustadz yang saya temui menyuruh saya untuk keluar dari jurusan filsafat UGM dengan alasan filsafat adalah “ilmu haram” dalam islam…

dalam kegalauan tingkat tinggi itu, kemudian saya menelpon orang tua (di zaman hp masih jadi barang mewah, sehingga mahasiswa rantau sangat tergantung dengan kehadiran wartel) bahwa saya akan berhenti kuliah di filsafat UGM dan akan melanjutkan studi di sebuah ma’had tadribud du’at program 2 tahun di kota surabaya.. saya sudah lulus tes.. tinggal berangkat dan meninggalkan jogja…

selang beberapa hari, ibu datang ke jogja naik bis dari solok.. melewati jalan darat lintas sumatera dan jawa 2 hari 2 malam dan terpaksa libur mengajar… selama seminggu beliau di jogja yang ada hanya tangisan dan tangisan.. beliau terus meminta saya untuk melanjutkan kuliah…

bagi saya, tangisan ibu lebih layak dipertimbangkan dibandingkan rekomendasi dari ustadz-ustadz saya yang semata-mata didasarkan kekhawatiran filsafat akan menjebak seseorang menjadi atheis dan menjadi musuh agama…

saat itu IPK saya 2 koma dengan baru 30-an mata kuliah yang bisa diselesaikan… demi mengobati tangisan ibuk, sayapun kembali kuliah… tertatih-tatih karena SKS yang bisa diambil sangat minim karena IP yang amburadul.. ditambah lagi bisikan-bisikan filsafat itu haram belum sepenuhnya hilang dalam pikiran saya…

akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah meski masa kuliah yang tercatat di ijazah adalah 6 tahun 8 bulan.. dengan IPK saat wisuda 3,61 tanpa ada nilai C… saya tetap bisa sholat dan tidak menjadi atheis… Allah masih membuka kesempatan buat saya untuk belajar agama dan menggerakkan hati saya untuk terus dekat dengan masjid…

saya ingin mengatakan, filsafat tidak semesti melulu dipahami sebagai ilmu syetan, haram dan orang yang mempelajarinya dihukumi cambukan pelepah korma serta diarak keliling kampung… toh di jurusan-jurusan yang dianggap lebih selamat saja seperti kedokteran, teknik, mipa, akuntansi ataupun bahasa banyak juga mahasiswanya yang enggan sholat dan durhaka kepada Tuhan… ini hanya masalah hidayah dan rahmat dari Allah….

filsafat tidak semata-mata harus dipahami lewat konsep ketuhanan ala aristoteles ataupun atheisme nietzche ataupun agnostisme bertrand russel… filsafat sebenarnya bisa ditarik ke arah dunia praktis seperti kekuatan berpikir sistematis yang diperlukan dalam dunia penerbitan…

dan sebenarnya sangat menarik jika orang yang telah belajar filsafat masuk ke dunia buku… sebuah dunia yang sangat akrab dengan manusia di berbagai belahan dunia, tetapi program kuliahnya belum diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang ada di indonesia…

saya berpikir jurusan publishing studies bisa menjadi jurusan yang menjanjikan beberapa tahun mendatang… ini adalah industri kreatif yang melibatkan banyak orang dan dibutuhkan banyak orang… sekarang saja, para professor di indonesia diwajibkan untuk menulis 1 buku tiap 2 tahun agar tunjangan professornya tetap dicairkan pemerintah… setiap kampus berlomba-lomba menerbitkan jurnal ilmiah agar bisa meraih akreditasi tinggi…

saya berpikir, pakar filsafat sudah terlalu banyak di indonesia… jika ingin belajar agama sebenarnya kita bisa mendatangi kajian demi kajian yang disampaikan oleh ustadz-ustadz yang hanif lagi tawadhu’…

tentu menemukan passion baru di sebuah bidang yang belum banyak diminati akan menjadi pintu masuk untuk menciptakan peluang-peluang baru…

selain ingin menjadikan Gre Publishing sebagai PT, saya punya cita-cita ingin mendirikan jurusan PUBLISHING STUDIES dari tingkat D3 sampai S3… terinspirasi dari kehadiran jurusan Pariwisata yang dulu tidak begitu terkenal, sekarang di UGM menjadi jurusan sangat diminati.. bahkan termasuk dari sedikit prodi yang mampu membuka program D3 sampai S1… untuk jurusan filsafat saja, UGM cuma punya S1 sampai S3…. program D3 filsafat malah belum ada…:)