soal 10 ribu TKC (Tenaga Kerja China) yang masuk ke Indonesia tak perlu membuat kita risau… karena toh di luar negeri sana ada 300.000 tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan, 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. belum lagi sekian puluh ribu yang mengais rizki di negara-negara Timur Tengah… Dan masih tersisa ribuan WNI lainnya yang mencari penghidupan di Amerika dan Eropa… Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brasil, bahkan juga Kanada dan Amerika….Pertamina punya ladang minyak di Irak dan sedang expansi lahan tambang di negara-negara bekas uni soviet… “apakah itu juga bisa dikatakan sebagai bentuk penjajahan dan penjarahan lapangan kerja bagi penduduk lokal di sana???”

mungkin kitanya yang harus lebih cerdas… kuliah master saja 5 tahun ngak lulus-lulus.. kuliah doktor 10 tahun ngak rampung2… marah-marah sama china, tapi masih suka nabung di BCA untuk mendapatkan gedenya bunga riba… benci sama china, tapi setiap hari ngisap rokok sampoerna… rajin datang pengajian, tapi istri disuruh banting tulang nyari uang… disuruh belajar bahasa inggris malah ogah-ogahan… disuruh belajar bahasa arab pada ngak mau dan malas-malasan…

mari kita belajar dari sejarah hijrahnya rasulullah… kenapa rasulullah hijrahnya ke madinah bukan ke negeri lain (hijrah ke indonesia mungkin)… seperti nabi ibrahim yang disuruh Allah pindah ribuan kilometer dari mesopotamia ke makkah al mukarramah… madinah adalah sebuah negeri yang perekonomiannya ditopang oleh pertanian… masyarakatnya lebih masih murni dan terstruktur pola relasi masyarakatnya… berbeda dengan makkah yang merupakan kota urban yang hidup dari geliat perdagangan…

hijrah dapat kita pahami sebagai keinginan Allah untuk mengubah cakrawala nabi Muhammad bahwa sebuah perubahan harus dimulai dari ekonomi yang bersih dan kerja keras mengolah bumi… bukan dari perdagangan yang penuh tipu daya dan ekonomi riba… bergerak dari masyarakat urban yang telah banyak terkontaminasi dan kehilangan orientasi menuju masyarakat pertanian yang masih baik tabiatnya dan lurus nuraninya…

hijrah bangsa indonesia bisa dimulai dari BERHENTI MENYERBU JAKARTA… berhenti bertarung dan bergelimang dengan ekonomi riba… pulang kampung dan membangun pertanian di desa-desa… membangun ekonomi kreatif di pusat-pusat pendidikan untuk membangunkan anak-anak muda agar tidak tergantung pada lowongan kerja.. mengubah cita-cita tertinggi para sarjana dari menjadi pamong praja (alias PNS) dan menjadi pegawai penjual kekayaan negara menuju usaha-usaha yang membuka lapangan kerja…

mungkin yang harus disalahkan bukan keadaan di sekitar kita… tapi langkah awalan yang lebih penting adalah cara kita beraktivitas dan menghabiskan waktu setiap harinya..

# berhenti mengeluh.. ayo lakukan sesuatu…

Iklan