aku dibesarkan di kota solok… sebuah kota kecil di sumatera barat yang terkenal dengan kelezatan berasnya… “bareh solok”… begitu orang menamakannya… menghabiskan waktu 18 tahun di ranah minang.. dan sekarang tak terasa sudah 13 tahun merantau dan mengadu nasib di yogyakarta…

mengenang kembali kota solok… dari SD sampai SMA… mengenang cinta pertama sampai sebuah kecelakaan yang menimpa menjelang ramadhan di sumani.. sebuah nagari kecil menjelang danau singkarak… tempat yang paling meninggalkan kesan mendalam… karena di sana tinggal seseorang yang penuh kenangan dan di sana pula kecelakaan maut yang menghancurkan mobil pertama kepunyaan keluarga kami…

berpindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain… meski bapak 2 kali menjadi anggota DPRD di zaman orde baru, tetapi di masa itu menjadi anggota DPRD adalah bentuk pengabdian… ibuk masih harus berjualan dan menitipkan makanan di warung2 sekolah yang kuantar jam 6 pagi sebelum berangkat sekolah…

berstatus sebagai guru SD, ibuk tak bisa lepas dari dunia perdagangan… dulu saat musim2 liburan beliau berangkat ke batam… beli keramik gadjah, karpet permadani dan bawang putih untuk kembali dijual di kampung… sekarang pun beliau masih jualan ayam, ikan, kelinci yang diternakkan di belakang rumah… kata nenek, sejak masih gadis dulu ibu sudah membantu jualan… naik turun kereta api penumpang yang saat itu masih melintasi kampung ibu di kepala hilalang pariaman…

ibu menjadi guru setelah lulus dari SPG… berhasil lulus dari diploma UT… dan terakhir sempat juga menjadi sarjana pendidikan universitas terbuka….

teman2 anggota DPR bapak dan para pejabat sering datang ke rumah kontrakan kami… sering berdiskusi tentang masalah politik… termasuk juga cerita lucu dimana ada anggota DPR dari sebuah partai gurem kala itu yang tidak bisa bikin laporan pandangan fraksi…

karena bapak adalah alumni fakultas dakwah IAIN, beliau juga sering mengisi ceramah dan khutbah dari masjid ke masjid… cuma saat menjadi anggota DPRD, bapak memiliki vakum berceramah… karena takut membawa ayat2 agama untuk kepentingan politik…

dalam statusnya sebagai PNS Deppen, sering juga aku diajak keliling kota Solok… pada masa itu, ketika ada perhelatan akbar di kota kami, maka Deppen menjadi ujung tombak untuk melakukan sosialisasi… memakai mobil dinas kijang lama yang punya speaker keras di atapnya… sering juga untuk menghibur masyarakat, Deppen mengadakan layar tancap di kampung-kampung… seringkali aku turut membersamai bapak dalam acara layar tancap yang sering selesai jam 11.00 malam itu…

ketika deppen dibubarkan Gus Dur, bapak dimutasi ke KPU… dengan jabatan sebagai Sekretaris KPUD kota solok… darah politik memang kuat dalam diri beliau…

di hari-hari pensiunnya sekarang, bapak jadi ketua takmir masjid tertua di kota solok… pagi dan siangnya beliau habiskan waktu berladang di bukit… menanam coklat, jahe, cengkeh dan tanaman palawija yang ketika panen dijual oleh ibuk di pasar raya kota solok…

13 tahun aku di jogja.. melewati lika-liku perjalanan sebagai anak muda.. dari mahasiswa filsafat yang galau mencari eksistensi Tuhan, masuk menjadi aktivis HMI MPO FEB UGM, berpetualangan spiritual di salafi… dan berlabuh di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Korps Instruktur IMM UGM – UNY… sebagai mahasiswa Minang pernah juga aku dipercaya sebagai ketua asrama mahasiswa sumatera barat di jogja.. dengan pengalaman paling mengesankan, berdebat keras dengan pak gamawan fauzi soal kepedulian pemprov sumbar terhadap asrama mahasiswa di jogja yang kala itu PBB nya masih dibayar oleh anak2 asrama…

menyelesaikan kuliah di filsafat UGM 6 tahun 8 bulan dengan IPK 3,61 dan ijazahku diserahkan langsung oleh Rektor UGM kala itu, Prof. Soejarwadi.. sempat menikmati status sebagai mahasiswa sastra Arab UIN sunan kalijaga selama setahun…:)

merintis penerbitan di tahun 2010 selepas wisuda… kemudian sempat bekerja sebagai web editor di salah satu program sekolah pascasarjana UGM dan memilih berhenti karena jiwa bisnis orang minang terlalu kuat memanggilku…. tahun 2014 kemarin bersama punggawa penerbit-penerbit besar di indonesia berangkat ke jerman sebagai peserta pameran buku terbesar sedunia, Frankfurt Book Fair…

mulai sadar belajar bahasa inggris ketika lamaran ODP Bank Mandiri gagal gara2 tak bisa melewati interview bahasa inggris… mengantongi nilai 4,00 saat UAN SMA dan hanya punya TOEFL 375 saat menjadi sarjana… kursus bahasa inggris di berbagai tempat di jogja, sampai mencicipi petualangan di kampung inggris pare kediri… dan akhirnya menemukan passion di EEC Sanata Dharma…

hari ini masih berstatus single… sedang berjuang untuk mendapatkan LoA sebagai mahar untuk melamar gadis pujaan…

di titik ini aku ingin sedikit berefleksi… jalan panjang masih di depan mata… masih banyak mimpi yang belum terwujud… masih luas hamparan bumi Allah yang ingin dilihat dan dikunjungi…

menuju 1 agustus, kembali mengingat awal pertama datang ke jogja dengan status sebagai mahasiswa UGM lulus dari jalur SPMB… dari sini, kaki masih ingin terus melangkah… melanglang buana menuju benua dingin… mencari ilmu dan bekal… agar bisa berguna buat indonesia tercinta….:)

MERDEKA….:)