kenapa buya hamka dihormati serta bisa menjadi ulama idealis, berprinsip dan mandiri???

salah satu jeratan yang membuat para alim ulama tergelincir menjual agama, menjadi alat penguasa, atau terjerembab dalam kenistaan dan celaan masyarakat adalah masalah harta…

buya hamka tahu betul akan hal ini.. oleh karenanya beliau berusaha mencari jalan lain untuk mencari rizki dalam menompang kebutuhan finansial dirinya dan keluarganya…

beliau pernah berkarir sebagai Guru Agama di Perkebunan Tebingtinggi, Medan dan menjadi guru di padang… selain itu beliau juga pernah bekerja sebagai wartawan, penulis, editor dan penerbit…

beliau tercatat pernah menjadi wartawan berbagai surat kabar, yakni Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah…

di tahun 1959, buya hamka menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat dan menjadi pimpinan umum hingga akhir hayat… pernah jua beliau jadi pegawai departemen agama…

jika kita telusuri lebih jauh, ulama-ulama yang dikenang dalam sejarah islam punya pekerjaan untuk menafkahi dirinya dan keluarganya… pakar hadits abad ini, syaikh nashiruddin al albani punya pekerjaan sebagai TUKANG REPARASI JAM…

sahabat salman al farisi bekerja sebagai penjual daun kurma… abu bakar as shiddiq meskipun telah berstatus sebagai khalifah, tetapi beliau menghidupi keluarganya dari hasil perniagaan sebagai pedagang dan tidak mengambil secuilpun dari baitul mal…

mengurus kegiatan di masjid, jadi ketua panitia kegiatan ataupun takmir masjid bukanlah ajang untuk mencari nafkah… tetapi jalan pengabdian dan ibadah… infak tenaga dan pikiran untuk umat… sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tentu harus dengan bekerja dengan keahlian yang dipunyai…

Rasulullah pernah bersabda., “Tidaklah seseorang memakan makanan pun yang lebih baik daripada ia makan dari pekerjaan tangannya dan bahwa Nabiyallah Daud a.s. makan dari pekerjaan tangannya….”

di hadits lain Rasulullah berkata, “Salah seorang dari kalian mengantar sesuatu barang di atas punggungnya (menjadi kuli) itu lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, lalu ia memberinya atau tidak memberinya.”