Senin Malam, 1 Juni 2015. Selepas Sholat Isya aku sempatkan makan bareng sama teman-teman jama’ah tabligh yang lagi khuruj 3 hari di masjid dekat kos ku. 3 orang di antaranya adalah ikhwan dari Kambodja, 1 orang dari Malaysia. Ada informasi yang membuatku terkagum-kagum. Ternyata di pesantren Jama’ah Tabligh di Magelang, ada lebih dari 200 orang ikhwan dari Kambodja yang lagi menuntut ilmu di Magelang… luar biasa…

Sempat juga aku ngobrol dengan ikhwan dari Kambodja itu. Katanya, populasi muslim di Kambodja sudah mencapai 20%. Di setiap provinsi ada komunitas muslim dan tokoh2 muslim di sana cukup dekat dengan pemerintah yang mayoritas beragama budha. Mereka bahkan menduduki posisi penting di pemerintahan Kambodja…

Jika selama ini rombongan khuruj Jama’ah Tabligh sering dikritik karena kebanyakan mereka tidak “berilmu” dan menyia-nyiakan keluarga, anak dan istrinya di rumah, lewat obrolan para ikhwan JT yang sudah 3 hari menginap di masjid dekat kos ku, aku mendapati metamorfosis luar biasa di JT. Dalam sebuah rombongan khuruj wajib ada satu imam yang sudah mumpuni ilmu agamanya dan 1 orang yang sudah hafizh qur’an. Dalam rombongan yang datang kali ini malah ada 3 orang hafizh qur’an…

Berbulan2 sebelum khuruj, mereka sudah menabung dan menyiapkan perbekalan untuk anak dan istri serta keluarga yang dtinggalkan selama beberapa hari…
Di pesantrennya, mereka diajari bahasa Arab, bahasa Urdu dan bahasa Inggris.. Program sudah terstruktur baik.. ada yang 3 tahun, 6 tahun dan 8 tahun… Selepas mondok di indonesia, mereka biasanya berangkat ke india atau pakistan untuk masuk di darul ulum dan darul hadist… Sudah diketahui bersama bahwa banyak ulama-ulama kawakan islam berasal dari India dan Pakistan.. Ahmad Deedat, Zakir Naik, Syaikh Al Mubarakfurry, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir… Bahkan di Saudi sendiri banyak ulama-ulama yang berasal dari India dan Pakistan…

Terus terang aku senang dengan masjid dekat kos ku… Perbedaan afiliasi organisasi tidak menjadikan sekat di antara kita dan jama’ah yang datang… Secara beribadah lebih cenderung Muhammadiyah… Tapi amalan-amalannya lebih dekat dengan NU.. Kajian Salafi ada… Kajian MMI juga ada… Takmirnya pun menerima dengan senang hati ketika ada jama’ah tabligh yang sedang khuruj.. Semua bisa bersatu demi memakmurkan masjid dan menghidupkan dakwah…

Ada satu hal fenomena di jogja yang tidak kusuka… Yaitu ketika para ustadz mengompori para pemuda dan mahasiswa aktivis Islam untuk merebut masjid tertentu, mengkapling-kapling masjid untuk golongan tertentu… Kalau yang jaga masjid anak tarbiyah, kajian salafi diberantas… Kalau yang jaga masjid anak-anak salafi, anak NU disingkirkan… Kalau takmir muhammadiyah, jama’ah tabligh tidak dikasih ruang… Kalau takmirnya NU, majelis mujahiddin diboikot tak ketulungan..

Sudah saatnya umat islam di indonesia bersatu… Karena secara general mereka sama-sama ahlul sunnah… Selama ini energi kita habis untuk menghantam sesama ahlul sunnah… Yang membuat orang lari dari dakwah.. Masjid tetap sepi dan kemaksiatan semakin menjadi-jadi… Ada persoalan umat yang lebih besar yang mesti ditangani dan lebih serius jika tak dicarikan solusi daripada sibuk dengan hal-hal yang sejak imam 4 mahzab sudah berbeda…

Islam itu bisa kuat dan indah ketika ada ukhuwah… ada satu hadist dalam bukhari muslim yang mengatakan, “tidak akan diterima sholat seseorang, ketika dia sdalam keadaan bermusuhan dengan saudaranya yang seiman..”.. “hidup dalam permusuhan dengan sesama muslim selama 1 tahun, maka sama saja dia telah membunuh saudaranya itu…”

Iklan