Saya merasa agak heran dengan IMM mengambil tanggal 1 Juni 2015 kemarin untuk melakukan demonstrasi di depan istana. Mengusung tagline, “Cabut Mandat Presiden Pengkhianat Amanat Rakyat”, demonstrasi itu kemudian berakhir berdarah. Aparat melakukan pembubaran karena menganggap aksi sudah melewati batas waktu yang telah diberikan (18.00). Sementara dari pihak IMM mengatakan penyerangan dilakukan tiba-tiba saat massa sudah bergerak menjauhi istana. Yang jelas, demonstrasi itu berakhir ricuh.  Ada immawati yang pingsan karena gas air mata dan immawan yang luka-luka karena ditembak peluru karet.

Sejak dulu muhammadiyah tidak punya masalah dengan PANCASILA. Ketika asas tunggal pancasila diberlakukan, Muhammadiyah mengambil keputusan dalam Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta pada tanggal 7 Desember 1985 untuk menerima pancasila sebagai asas tunggal (silahkan baca buku “Elite, Etnik dan Integrasi Nasional” tulisan Dr. Saafroedin Bahar).

Mungkin semangat aksi untuk menurunkan Jokowi di istana kemarin, dilatarbelakangi oleh banyaknya kebijakan jokowi yang tak sesuai lagi dengan nilai-nilai pancasila. Meskipun begitu, saya termasuk orang yang tak sependapat jika Rezim Jokowi diturunkan saat ini. Biarkanlah dulu Jokowi beserta jajarannya melakukan kerja-kerja yang sudah dijanjikan pada masa kampanye. Karena toh 10 tahun PAN, yang seringkali mengaku sebagai partai yang lahir dari rahim Muhammadiyah, memegang tampuk kekuasaan bersama SBY, tapi tetap saja tak ada perubahan signifikan untuk bangsa ini. UMY yang merupakan salah satu universitas muhammadiyah terbaik di indonesia, didirikan di atas tanah pemberian Pak Harto yang dianggap rezim zalim oleh Amien Rais.

Saya pikir, untuk menjadi aktivis di zaman sekarang, tak melulu harus demonstrasi menurunkan rezim yang sebenarnya baru beberapa bulan berkuasa. Banyak kerja-kerja nyata untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Lewat penyadaran kepada masyarakat upper dan middle class untuk membayar zakat akan sangat membantu untuk program-program pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah. Membikin usaha untuk membuka lapangan kerja, akan nyata bermanfaat bagi masyarakat.

Ada sindiran menarik yang disampaikan oleh Raditya Dika terkait demonstrasi mahasiswa ini. “Sekarang adalah zamannya sosial media. Jika lewat kampanye dan kritikan dan di twitter dan facebook sudah bisa merangkul dan mendapatkan perhatian masyarakat, kenapa harus bakar ban, menyandera truk bbm dan menutup spbu pertamina untuk menarik simpati masyarakat dan liputan media?

Kehadiran pendekar ekonomi kerakyatan seperti Revrisond Baswir dan Hendri Saparini yang sudah dirangkul oleh Rezim Jokowi untuk duduk di Dewan Komisaris BNI dan Telkom, rasanya bisa menjadi jalan untuk membisikkan dan mengajari jokowi apa itu sebenarnya ekonomi pancasila. Sekarangpun Rezim Jokowi sudah merevisi beberapa kebijakan yang ternyata membinggungkan dirinya sendiri. Seperti merubah kebijakan perubahan harga BBM dari 2 kali sebulan menjadi 3 bulan sekali.

Buat aktivis mahasiswa yang ingin mencabut “mandat jokowi sebagai presiden karena dianggap sebagai pengkhianat rakyat”. Paling tidak harus menyiapkan 2 hal:

1. Mengumpulkan poin-poin pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh rezim jokowi karena pelanggaran konstitusionalah yang dapat melengserkan seorang presiden. Setelah itu lobby DPR untuk membawa delik-delik pelanggaran itu ke Mahkamah Konstitusi… (UUD 1945 Pasal 7B)

2. Harus menyiapkan dan memastikan bahwa rezim yang baru lebih baik dari Rezim Jokowi saat ini. Hanya bersemangat menjatuhkan, tanpa melakukan persiapan, maka sama saja membawa rakyat dari lubang harimau ke lubang buaya.

Sebagai organisasi mahasiswa keislaman, rasanya IMM perlu mengingat kembali sebuah ungkapan indah dari seorang ulama besar yang bernama Fudhail bin ‘Iyadh:

““Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku”… Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al Ashfahaniy, 8: 77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy)”

Mungkin kita sudah melakukan aksi dan demonstrasi. Tapi mungkin kita lupa mendoakan Pak Jokowi.