Beberapa saat setelah resmi dilantik menjadi presiden republik indonesia, jokowi melakukan safari dan menghadiri berbagai event internasional di luar negeri. Ternyata kunjungan-kunjungan itu tidak sekedar mempererat hubungan diplomatik, tetapi dibarengi oleh pembicaraan peminjaman.

Sudah diketahui oleh publik bahwa Jokowi sangat berambisi untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Hal ini pula yang menjadi salah satu kekuatan kampanyenya pada saat Pilpres. Beberapa waktu yang lalu Bappenas mengatakan untuk program-program infrastruktur yang telah dicanangkan Jokowi, negara butuh dana 5000-an triliyun rupiah. Sementara APBN hanya mampu mampu menanggung seperlimanya. Hingga terpaksalah jalan klasik ditempuh oleh Jokowi. HUTANG. Beberapa lembaga moneter dunia sudah memberikan lampu hijau. Bahkan 2 bank China berkenan memberikan pinjaman US$50 Miliar.

Kita menolak pemerintah jokowi-jk untuk terus memperbesar hutang indonesia meskipun atas nama pembangunan infrastruktur dan melalui pelibatan BUMN dalam pelaksanaan proyeknya, bukan karena kita benci sama jokowi-jk… tetapi memperbesar hutang negara, sama saja semakin memberatkan APBN… akan ada penambahan anggaran untuk pos pembayaran hutang…

mengharapkan BUMN punya laba besar setiap tahun, rasanya masih jauh dari kenyataan.. sekarang aja banyak BUMN yang merugi… yang untung paling pertamina dan beberapa BUMN dengan jumlah yang sebenarnya tak terlalu signifikan menyumbang untuk pos pendapatan negara.. akhirnya yang digenjot adalah penerimaan dari pajak.. sekarang saja 70% pendapatan negara berasal dari pajak…

artinya, ketika hutang indonesia semakin besar sementara BUMN tak memberikan sumbangan signifikan, maka negara akan melakukan kebijakan2 pajak yang nantinya tidak hanya membebankan kaum menengah, tetapi juga akan membuat pusing kalangan ekonomi kelas atas…

kebijakan2 subsidi akan terus dipangkas, sehingga kalangan menengah ke bawah akan semakin menderita oleh berbagai kenaikan harga… jaminan sosial dan pemberian bantuan tunai sesungguhnya tak akan berarti apa2… karena yang mampu diberikan negara pun sedikit.. paling hanya untuk konsumsi satu minggu… coba hitung2 saja… uang rp. 200 ribu yang dijatah pemerintah per satu keluarga miskin bisa bertahan berapa hari? kalau bisa hidup sederhana dengan pengeluaran satu keluarga 20 ribu sehari, ya bisalah bertahan 10 hari.. tapi kemudian 20 hari lagi bagaimana??

ketika pajak dibebankan semakin besar kepada pengusaha yang kebanyakan berada di posisi upper class, maka bisnis mereka semakin terdesak dengan bertambahnya komponen biaya yang harus dikeluarkan.. artinya mereka harus mengencangkan ikat pinggang untuk terus bertahan meraih laba.. biasanya salah satu solusi untuk penghematan biaya adalah pengurangan karyawan…

beberapa waktu yang lalu sebuah perguruan tinggi negeri di sumatera sana membuka lowongan pegawai honorer.. yang dibutuhkan cuma 20-an orang.. tetapi yang memasukan lamaran 1500-an orang…

kumulasi pengangguran akibat PHK dan pengangguran dari angkatan kerja baru yang tak tertampung karena terbatasnya lapangan kerja akan menjadi persoalan sosial baru… mungkin akan meningkatkan kriminalitas dan bisnis-bisnis haram seperti bisnis narkoba dan prostitus dengan berbagai macam bentuknya… lonjakan TKI pun pada akhirnya tak bisa dibendung ketika lapangan kerja di dalam negeri tak memberikan harapan perbaikan kesejahteraan…

kita memang butuh penambahan infrastruktur.. butuh megaproyek seperti pembangkit listrik dan pembangunan jalan, bandara, jalur kereta baru.. tapi bisakah dilakukan dengan semaksimal mungkin mengerahkan potensi dalam negeri dan kemampuan anak2 bangsa sendiri??? hutang memang hal keniscayaan untuk kondisi saat ini.. bahkan negara adidaya sekelas USA pun punya hutang berkali2 lipat dari hutang indonesia, $18 Trillion… tetapi itu tidak menjadi justifikasi buat pemerintah sekarang untuk bermudah-mudah dalam berhutang…

kita iri kepada brunei yang dengan minyak dan gas pemerintahnya bisa memakmurkan rakyat.. entah kemudian banyak orang kemudian mencibir dengan gaya hidup mewah keluarga kerajaan dan demokrasi mereka tidak berkembang dengan baik…

sementara kita tidak hanya punya minyak dan gas.. emas kita punya, tembaga kita punya.. batubara kita punya… dan sekian banyak komoditi tambang yang ada di bumi indonesia.. tapi semua itu sudah kita jual ke asing… kita hanya mendapat jatah sedikit dari bagi hasil..

harus ada sebuah kesadaran bersama… dimana masing2 orang di indonesia tidak hanya memikirkan kesejahteraan keluarganya sendiri.. lebih suka naik haji dan umrah berkali dibanding melakukan kerja-kerja signifikan untuk mengatasi pengangguran dan perbaikan ekonomi masyarakat secara sistematis.. merasa sadaqah sudah cukup untuk melunasi kewajiban…

pemerintah pun harus terus lebih kuat untuk perlahan melakukan akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan yang mengeruk kekayaan bumi kita dan uangnya kemudian lebih banyak terbang ke luar negeri daripada masuk ke pos APBN…

harus ada sikap kepercayaan diri untuk memproduksi produk2 dalam negeri lewat tangan anak-anak bangsa sendiri… untuk kemudian mengurangi barang-barang impor dan tak lagi dijajah dengan produk-produk merk luar negeri… mulai dari mobil sampai beras.. dari komoditi berteknologi tinggi sampai produk-produk pertanian.. kita harus memenuhi kebutuhan itu lewat tangan kita sendiri…

# terinspirasi dari tulisan di Forbes, 24 April 2015 dengan judul “National Debt Tops $18 Trillion: Guess How Much You Owe?

# terinspirasi dari tulisan di Forbes, 24 April 2015 dengan judul “National Debt Tops $18 Trillion: Guess How Much You Owe?”