Perayaan Natal di Gereja Katolik Santo Servatius yang berlokasi Jati Melati, Pondok Melati, Bekasi menjadi isu hangat di sosial media Rabu, 25 Desember 2014 kemarin. Penggenaaan peci hitam, sarung, baju koko (disandarkan kepada pakaian khas Betawi) mengundang berbagai reaksi khususnya pada kalangan muslim.  Hal ini dikarenakan ketiga atribut tersebut sudah melekat dalam budaya muslim Indonesia dan dianggap sebagai bagian identitas keislaman.

Sebelum hal ini mengelinding ke arah kontraproduktif dan dikomodifikasi secara negatif oleh beberapa kalangan, rasanya kita perlu menjernihkan persoalan ini ke ranah historis dan akademis. Penulis ingin memulai dari akar historis peci, sarung dan baju koko di Indonesia. Terkait dengan peci, berbagai literatur mengatakan peci yang berkembang di Indonesia merupakan asimilasi dari Fez Turki dan Rumi Cap dari Asia Tengah yang merupakan bentuk pengakuan muslim India terhadap Kekhalifahan Turki Utsmani. Fez sendiri disebutkan berasal dari Yunani dan diadopsi oleh Turki Utsmani.

Untuk sarung, para ahli sejarah menyebutkan bahwa jenis pakaian ini berasal dari Yaman. Pada awalnya, pakaian ini digunakan oleh suku Arab badui yang tinggal di Yaman.  Sarung juga menjadi pakaian tradisional masyarakat nelayan di semenanjung Arab dan menjadi pakaian tidur orang Turki pada abad pertengahan.

Sementara baju koko merupakan produk kreatif asimilasi masyarakat Indonesia terhadap baju “Tui-Khim” yang dipakai para Engkoh-Engkoh China, kemudian berubah nama menjadi “baju koko”. Dalam tradisi Melayu, baju kok dikenal dengan sebutan “baju gunting cina”.

Pada suatu kesempatan rapat Jong Java di Surabaya Juni 1921,  Soekarno mengkritik teman-temannya yang enggan memakai peci karena hendak meniru orang Barat. Peci yang kala itu lazim dipakai oleh buruh-buruh Melayu hendak diangkat oleh Soekarno sebagai lambang perlawanan merebut kemerdekaan dan menjadi identitas bangsa Indonesia.

Di kalangan bangsa Arab sendiri, peci dan sarung bukanlah pakaian khusus untuk beribadah. Sementara di Indonesia, kaum santri sering dipandang sebelah mata karena mereka menggenakan kopiah dan sarung.

 “Indonesianisasi” telah menjadi wacana yang cukup panjang dalam tradisi kekristenan di Indonesia. Dalam buku “Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereka Katolik Indonesia”yang ditulis oleh Dr. Huub J.WM. Boelarars, OFM Cap, seorang pater berkebangsaan Belanda, dapat dilacak bagaimana proses ini berlangsung dalam perkembangan kekristenan di Indonesia. Di tahun 1955 sidang para uskup Indonesia membuat keputusan penting terkait seruan kepada seluruh pembesar kongresi biarawan untuk menyesuaiakan visi dan misi lembaga-lembaga Katolik di bidang pendidikan dan lainnya dengan cita-cita nasional bangsa Indonesia dan menempatkan orang-orang asli Indonesia pada posisi-posisi strategis dan penting.

Salah satu “soko guru” proses Indonesianisasi gerejawi yang termaktub dalam “Dokumen Indonesiasinisasi” tahun 1972 menyebutkan “Gereja setempat Indonesia seperti seperti seluruh masyarakat Indonesia harus menampilkan Bhinneka Tunggal Ika.” Semangat ini berpengaruh dalam pengembangan gereja di berbagai keuskupan diselaraskan dengan konteks lokalitas masyarakat setempat. Sehingga Indonesianisasi kekristenan dikembangkan dalam langkah seiring sejalan, penyampaikan risalah keimanan dan kekristenan yang bersifat universal bersama-sama dengan pluralitas penghayatan keimanan yang memungkinan umat Kristiani Indonesia mengembangkan pemahaman sesuai dengan konteks kebudayaan daerahnya masing-masing.

Pendeta Richard M. Daulay, Sekretaris Umum PGI masa bakti 2004-2009, dalam ujian disertasi doktoral (telah diterbitkan oleh Penerbit BPK Gunung Mulia dengan judul: Kristenisasi & Islamisasi: Umat Kristen dan Kebangkitan Islam Politik pada Era Reformasi di Indonesia) di Universitas Gadjah Mada awal Desember 2014 yang lalu menyinggung tentang kebangkitan gereja-gereja lokal di Indonesia seperti Gereja Kristen Batak, Gereja Kristen Jawa, Gereja Menado, Gereja Kristen Injili Tanah Papua sebagai bentuk penguatan identitas keindonesiaan di kalangan umat Nasrani. Secara tegas beliau umat Kristen Indonesia adalah bagian integral Negara Kesatuaan Republik Indonesia, berjuang bersama-sama dalam pergerakan kemerdekaan sebagai respon terhadap stigma negatif “Kristen adalah Agama Kolonial”.

Kontestasi peci, koko dan sarung yang dewasa ini coba dieksklusifkan sebagai simbol identitas keislaman secara historis dan sosiologis bukanlah proses tanpa kritik. Beberapa golongan Islam malah memandang ketiga bentuk pakaian tersebut tidaklah Islami, sehingga mereka lebih cenderung memakai jubah, gamis dan sorban ala Timur Tengah dan Asia Tengah yang dianggap lebih sesuai dengan sunnah (mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad saw). Di sisi lain ada dinamika integralisasi masyarakat Indonesia yang beragama Nasrani untuk menemukan ciri khas mereka sebagai kekristenan Indonesia dalam kontekstasi mereka dalam pergaulan kekristenan secara global. Tugas besar kita adalah bagaimana melihat dua arus fenomena besar ini secara jernih.

Konflik perebutan simbol hanya membawa kita terperosok kepada perdebatan tak berujung. Apalagi untuk kasus-kasus atribut-atribut yang memiliki akar historis yang panjang dan dimaknai secara beragam oleh berbagai komunitas yang menggunakannya.

Akhirnya, secara pribadi saya tidak melihat prosesi natalan dengan koko, peci dan sarung sebagai proses kooptasi simbol-simbol keislaman oleh kaum Nasrani. Penjelasan pihak Gereja Katolik Santo Servatius bahwa pilihan mereka menggenakan atribut-atribut tersebut sebagai upaya integrasi keindonesiaan harus diterima lapang hati dan  ditempatkan sebagai semangat untuk MEMBANGUN BERSAMA INDONESIA KITA.