SEBELUM RIBUT-RIBUT SOAL KESEDERHANAAN, SUBSIDI SALAH SASARAN, DEFISIT ANGGARAN ATAU PERDEBATAN SOAL PRO ATAU ANTI JOKOWI, IZINKAN SAYA MENULISKAN ARTIKEL YANG BERSIFAT agitatif dan penuh pertanyaan ini.

Rilis yang dikeluarkan SKK Migas dan Kementerian ESDM awal 2014 yang lalu menyebutkan bahwa target produksi minyak dari seluruh ladang eksplorasi sekitar 830.000 barel per hari sudah bisa dilewati. Bahkan Chatib Basri saat itu menjadi menteri keuangan optimis tahun 2015 produksi minyak bisa digenjot menjadi 1 juta barel perhari.

Sementara kebutuhan konsumsi BBM dalam negeri disebutkan 1,25 JUTA barel per hari. Atas dasar itulah kemudian pemerintah bilang kita harus impor 600ribu barel per hari karena kilang pengolahan pertamina hanya sanggup bekerja untuk 600ribu barel. Terus yang 230ribu barel lagi kemana perginya???

Berbagai rilis mengatakan pertamina hanya menguasai 20% produksi minyak indonesia. 80% lainnya dikuasai perusahaan minyak asing dan swasta pribumi. Adapun kontrak pemerintah indonesia dengan perusahaan asing dan swasta pribumi itu ada 2 jenis perjanjian, kontrak karya dan kontrak bagi hasil (PSC)… Kontrak Karya dengan pembagian keuntungan dari hasil penjualan migas, sedangkan dalam sistem PSC yang dibagi adalah produksi.

Jika pemerintah bilang produksi kita bisa mencapai 830.000 barel per hari, artinya semua produksi ladang-ladang minyak pertamina, swasta pribumi dan perusahaan asing diolah di dalam negeri dan digunakan 100% untuk kebutuhan dalam negeri. Karena tak memenuhi 1,25 juta barel per hari makanya pemerintah bilang mereka butuh impor..

PERTANYAAN BESARNYA, APAKAH 830.000 barel itu merupakan PRODUKSI SEBENARNYA DARI LADANG2 MINYAK YANG ADA DI INDONESIA.. KARENA DALAM KONTRAK PCS DISEBUTKAN BAGI HASIL PRODUKSI.. ARTINYA ADA PRODUKSI YANG JUGA DILEMPAR KE PASAR MINYAK INTERNASIONAL… KALAU KITA MEMAKAI LOGIKA INI, MAKANYA PRODUKSI RIIL MINYAK INDONESIA SEBENARNYA LEBIH BESAR DARI 830.000 BAREL PER HARI…

KALAU KITA PAKAI LOGIKA 830.000 MEMANG SUDAH PRODUKSI MAKSIMAL, BERARTI SELURUH PRODUKSI PERUSAHAAN MINYAK BAIK BUMN, SWASTA NASIONAL ATAUPUN ASING DIBELI SELURUHNYA OLEH PEMERINTAH… KEMUDIAN BERAPA HARGA BELI YANG DIDAPATKAN PEMERINTAH DARI PERUSAHAAN2 ITU???

ADAKAH YANG BISA MEMBERIKAN PENCERAHAN???

Kemudian pertamina ngeluh kilangnya cuma bisa mengolah 600-an barel. Kata pak Dahlan Iskan untuk membangun 1 kilang baru dengan kapasitas 300ribu barel butuh dan 80 triliyun. Sekarang kita mau desak sama pemerintah untuk transparan dengan kelebihan dana PERAMPOKAN KEPADA RAKYAT di saat harga minyak dunia turun beberapa bulan ini. Berapa dana yang bisa dikumpulkan oleh pemerintah dan kemana didistribusikan??? KALAU MAU MEMPERBAIKI CARUT-MARUT BBM DI INDONESIA, KENAPA G DIGUNAKAN DANA ITU UNTUK MULAI BANGUN KILANG YANG BARU???

Situasi ini semakin diperparah oleh kehadiran anak-anak muda pintar, hebat, dan brilian kita menjadi pengerak dan motor roda bisnis perusahaan asing itu. Mereka adalah anak-anak muda hasil pendidikan universitas dan institut terbaik di negeri ini ini. Di usia muda mereka telah meraih gaji di atas 50 juta/bulan.

Dalam sebuah obrolan malam dengan salah seorang bapak pensiunan salah satu BUMN pupuk ternama di indonesia cerita soal tingkah pongah anak-anak muda indonesia yang kerja di perusahaan migas asing. Kebetulan saya itu BUMN tempat si bapak ini bekerja pengen kontrak kerjasama untuk pengadaan bahan bakar. “Saat itu kita meeting dengan perwakilan dari salah satu perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Mereka itu anak-anak muda seusia jenengan (30-an tahun). Sementara dari kita sudah lumayan senior-senior dan sepuh-sepuh. Mulai dari ucapannya aja udah g enak didengar. Mereka g mau bicara soal nasionalisme dan kepentingan nasional. Bagi mereka bisnis ya bisnis. Kerja mereka beres, dapat duit melimpah, bisa hidup senang dan travelling kemana-mana. Mereka kebanyakan adalah anak2 muda pinter lulusan universitas2 terbaik di negeri ini… tetapi mereka tak peduli soal nasionalisme ataupun kemajuan bangsa dan negara indonesia…”

Saat obrolan ini saya posting di Facebook, ada satu tanggapan menarik dari seorang yunior saya yang teman-temannya banyak kerja di perusahaan minyak dan gas asing. Yunior saya itu mengatakan, teman-teman yang kerja di perusahaan asing karena mereka ngak mau korupsi dan g mendapatkan tempat di BUMN. Sebuah ungkapan yang bertolak belakang dengan cerita dari seorang bapak tetangga saya yang sudah menjadi senior di Pertamina.

Beliau mengungkapkan banyak anak-anak pinter Indonesia yang g mau kerja di Pertamina karena gaji yang ditawarkan masih kalah sama perusahaan minyak asing. Bahkan sebagian di antara mereka pindah ke perusahaan asing untuk mendapatkan gaji yang lebih besar. Kemudian, apakah benar di perusahaan asing itu bebas dari korupsi? Saya tidak yakin sepenuhnya. Karena sering kali teman-teman ICW bersuara lantang mendesak KPK untuk mengusut penyelewengan dan kerugian negara di sektor migas. Kenapa progres KPK tampak tak siginifikan, saya menduga ada kekuatan besar yang menghalangi mereka untuk mengungkap secara gamblang, seperti keberanian KPK melucuti para politisi. Kasus Rudi Rubiandini dan Jero Wacik sebenarnya telah mematahkan keyakinan anak-anak muda itu terkait PERUSAHAAN ASING ITU BERSIH DARI KORUPSI DAN TERLEPAS DARI PRAKTIK-PRAKTIK MANIPULASI.

Selama ini kita selalu dininabobokan dengan mitos, Pertamina tak punya kesanggupan mengelola ladang minyak baru. Hingga lepaslah Cepu dan Mahakam ke asing. Sementara anak-anak muda brilian kita dipakai dan direkrut oleh perusahaan minyak asing yang juga beroperasi di Indonesia. Selama ini kita ditidurkan oleh biaya pencarian ladang baru yang mahal dan berbagai resiko. Sementara dalam kontrak pemerintah dengan kontraktor asing selalu tersedia item COST RECORVERY. Meskipun cost revorvery dikatakan hanya akan diberikan jika ladang tersebut mampu berproduksi, tetapi sangat naif rasanya jika pembukaan ladang baru tanpa disertai riset mendalam dan tidak keyakinan bahwa ladang yang akan dieksplorasi benar-benar mengandung minyak.

Untuk menutup tulisan ini saya hanya ini mengatakan, BANGSA INI HANCUR BUKAN KARENA MISKIN SUMBER DAYA ALAM.. BUKAN PULA KEKURANGAN ORANG-ORANG HEBAT… BANGSA INI SENGSARA KARENA ORANG-ORANG HEBAT YANG DIMILIKINYA HANYA MEMIKIRKAN KEMAKMURAN MEREKA PRIBADI SAJA… HANYA MEMIKIRKAN HIDUP DAN KESEJAHTERAAN DIRI MEREKA SENDIRI.. NASIONALISME DAN KEMAJUAN BANGSA INDONESIA TIDAK PERNAH HINGGAP DI DADA MEREKA… SEBUAH POLA PIKIR YANG HARUS DIAKUI JUGA DIPICU OLEH DOSEN-DOSEN MEREKA KETIKA KULIAH…

Tags: