Saat malam ketika mata tak mau terpejamkan. Di waktu angan jauh melayang, kembali mengingati dirimu. Great, hampir 12 tahun aku pergi ke kota ini. Membawa sejuta harapan akan sebuah hari aku akan bisa berdiri di depanmu sebagai orang yang baru. Pribadi yang mampu membuatmu bangga, sehingga engkau bukakan pintu hatimu untukku.

Namun aku didera gelombang pergolakan. Kuliahku terbengkalai karena perang pemikiran. Aku tertatih menghadapi berbagai hantaman. Tapi, tahukah dirimu Great, lamunan akan dirimulah yang jadi teman saat aku menjalani masa-masa sulitku di kota perantauan.

Keinginan untuk kembali pulang ke kampung halaman dengan cepat, gagal kuwujudkan. Sungguh betapa inginnya hati ini berjumpa lagi denganmu. Sayang, beberapa kali kesempatan mudik saat lebaran, aku tak kunjung dapat bersua denganmu.

Di tengah perjuanganku di kota ini, ku dapati kabar pernikahanmu. Serta-merta hatiku hancur. Aku linglung tanpa tahu apa yang harus kuperjuangkan lagi. Demi kebahagiaan orang tua, aku pun akhirnya berhasil merampungkan kuliahku di UGM.

Sejak kepergianmu, terus kucuba mencari penganti. Malangnya, sampai detik ini aku tetap menjadi pemuda sunyi, sendiri tanpa ada yang menemani. Masih sering kubuka file foto2mu yang sempat kusimpan dulu. Yang kuambil dari laman facebookmu.

Alunan suara merdu kak Siti Nurhaliza “Tak Rela Berpisah Darimu” selalu ku dengarkan kala aku benar-benar di titik nadir. Hanya bayangan senyum dan wajah manismu yang bisa mengembalikan semangatku untuk kembali berjuang. Meskipun aku tak tahu harus berjuang untuk apalagi.

Perlahan hawa dingin merasuki tubuhku. Aku percaya, Tuhan tidak sia-sia pernah menghadirkan rasa cinta ini dalam sanubariku. Aku menyakini, cintaku padamu bukan sekedar cinta masa remaja. Melewati semua itu, cintamu bagaikan udara yang membuatku terus bernafas. Cintamu membangkitkan geloraku untuk terus hidup dan tak menyerah dengan halang rintangan dunia.

Tak bisa lagi aku berharap menjadikan cinta ini dalam jalinan ikatan suci. Namun, izinkanlah aku untuk terus mengabadikan cinta ini. Bukan untuk melukai jodoh yang dianugerahkan Tuhan kepadaku suatu hari nanti. Tapi untuk menjadikan aku tetap percaya bahwa cintalah yang membuat kebahagiaan itu abadi. Membuat aku menyakini bahwa cinta akan memberikan kekuatan entah sekuat apapun ujian dan sakit yang datang menghampiri.

Greaty, kukenang dirimu dalam aliran syair suci. Karena cinta pertama tak mungkin tergerus oleh masa dan waktu. Aku akan terus mengenangmu. Mengabadikan kisah bersamamu hingga tubuh ini tak bisa lagi bernafas. Saat jasadku harus menyatu dengan tanah.

Masih besar harapku untuk menatap wajahmu. Aku ingin mengucapkan segala terima kasihku atas semua inspirasimu. Ya, suatu hari nanti. Aku sangat mengimpikan saat-saat itu.

Kita memang tak ditakdirkan untuk berlayar di perahu yang sama. Namun engkau bagaikan bintang di langit sana yang memberikan aku penunjuk arah ketika aku tersesat dan kehilangan arah. Engkau masih bisa membuatku menangis tersendu dalam kesunyianku. Engkau jadi cermin untukku berkaca menyadari kelemahan-kekurangan diriku. Engkau menyemangati kala aku kalah. Engkau membuatku enggan untuk lelah mengejar mimpi-mimpiku.

Dalam kesendirian ini, senyummu begitu nyata di mataku… GREATY, TERIMA KASIH BUAT SEGALANYA… AKU TAK AKAN PERNAH MELUPAKANMU…