Setelah gagal melewati seleksi administrasi Australian Awards Scholarship intake 2014 lewat sebuah surat pada bulan Desember 2013 kemarin, aku kembali mencoba peruntungan kedua dengan beasiswa ICCR India. Aku baru serius menyiapkan berkas di 5 hari terakhir menjelang dealine pengumpulan berkas (7 Februari 2014).

Sebenarnya India tidak pernah jadi negara impianku untuk melanjutkan S2. Mas Gonda Yumitro lah yang perlahan memunculkan ketertarikanku untuk coba melirik India. Mas Gonda adalah peraih beasiswa ICCR India tahun 2011. Kita dulu sama-sama jadi aktivis di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Beliau menyelesaikan 2 master sekaligus di India, satu di Jamia Islamia University, satu lagi di Annamalai University. Hasil provokasi Mas Gonda kemudian kurangkumkan dalam tulisan berjudul “Melirik India untuk Kuliah S2“.

Kamis 13 Februari 2014, sebuah email dari Panitia Beasiswa ICCR mampir di inboxku.

Dear GSS ICCR Applicants,

 We will conduct the English proficiency test on Monday, the 17th February 2013 at 10.00 am in the Embassy of India Jakarta, Jl. HR. Rasuna Said Kav S-1, Kuningan, Jakarta Selatan.

The test will start at 10.00 am followed by interview, all of you have to be present at the embassy 15 minutes before the test started. Please bring writing board and pen.

For further information please contact Embassy of India Jakarta or through this email.

Thank you for your attention.

Thanks and Regards

Andhini Kristi (Ms.)

Education Wing

Embassy of India, Jakarta

Jl. HR Rasuna Said Kav. S-1

Kuningan, Jakarta 12950

Ph. 6221-5204157/52/50

Fax. 6221-5204160

Visit our website in http://www.indianembassyjakarta.com/

or our Facebook page https://www.facebook.com/Indianembassyjakarta

Watch our YouTube video in http://www.youtube.com/watch?v=RX8vHORzyHo&feature=share

Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur ke Gama Wisata memesan tiket kereta api ke Jakarta untuk keberangkatan hari Sabtu Sore. Abu Kelud mengiringi keberangkatan kereta api Progo yang kutumpangi. Dari stasiun Lempuyangan sampai Purwokerto, aku harus menahan nafas karena abu masuk ke dalam gerbong. Malah ada satu penumpang yang sesak nafas dan terpaksa turun di Wates.

Senin 17 Februari Jam 8 pagi aku sudah nyampai di Kedutaan India. Karena tesnya masih jam 10, para peserta yang sudah datang disuruh menunggu di luar. Sebenarnya kesal juga karena g ada tempat duduk yang layak di luar gedung Kedubes. Tapi setelah kuingat-ingat bahwa wilayah kedubes masuk teritori negara yang bersangkutan, makanya aku memahami, kenapa pak satpamnya membiarkan kami “bergalau ria” di luar. Bahkan untuk numpang ke toiletpun g bisa. Disuruh nyari masjid aja.

Setelah ngantri satu per satu masuk ke gedung kedutaan besar, akhirnya semua peserta berkumpul di salah satu ruangan kedubes yang setiap malam minggu dipakai untuk nonton gratis film India. Ada 64 kandidat yang dipanggil oleh panitia seleksi. Beberapa ada yang dari Sumatera. Kebanyakan dari Jawa. Karena memang ada tiga tempat tes lain, Medan, Surabaya dan Bali.

Sekitar jam 11-an, ada seorang bapak-bapak yang facenya India banget masuk ke dalam ruangan. Dengan aksen Indian English nya kental, Mr. Gupta, demikian nama bapak itu, mulai menerangkan prosedur beasiswa ICCR dengan sangat antusias. Ruangan semakin hangat ketika, Mr. Gupta mempersilahkan kami mengenalkan diri satu per satu.

Soal dibagikan. Aku deg-degan karena sudah membayangkan betapa sulitnya soal yang akan diujikan sebagaimana info yang kudapatkan dari Mas Gonda. Tensi sedikit berkurang, karena soal yang dibagikan Ms. Andhini tak sesulit yang diduga. Tapi tetap menguras pikiran. Tiga lembar soal berisikan soal gerund, verb, membuat kalimat dengan memakai “will”, synonim, opposite dan membuat essay 100 kata.

Pengumuman tak terduga datang dari Ms. Andhini. Sesi interview yang sedianya diadakan, ternyata tidak jadi dihelat. Mr. Gupta menilai hasil tes tertulis bersama berkas-berkas yang sudah dikirim di awal sudah cukup untuk dikirim ke kampus-kampus di India.

Sekarang nasibku tergantung 3 universitas yang akan dikirimi berkas oleh panitia ICCR, Aligarh Muslim University, Delhi University dan Hyderabad University. Di India, masing-masing universitas punya kekuatan penuh dalam penerimaan mahasiswa baru. Jadi seluruh berkas pelamar beasiswa ICCR akan dikirim ke universitas-universitas yang sudah mereka cantumkan di formulir aplikasi. Sekitar akhir Juli atau awal Agustus, 20 orang penerima beasiswa ICCR akan dihubungi untuk mempersiapkan keberangkatan ke India.

Beasiswa ICCR adalah usaha keduaku untuk bisa kuliah di luar negeri. Mudah-mudahan ada kabar baik di buli Juli nanti. Amiin…