film-tenggelamnya-kapal-van-der-wijck1

Persis ketika scene pembuka dimulai, saat itu pula anganku jauh melayang menuju Minangkabau 1930-an. Minangkabau nan elok alamnya, permai buminya. Jalinan lembah dan pegunungan, serta pepohonan nan bermain dengan gemiricik air sungai dan tepian. Rumah gadang bertanduk mengarah pada langit nan indah dengan arakan awan.

Di tengah alamnya nan tenteram, ada hati-hati yang terlalu memuja diri sendiri. Memuja adat dan keluhuran keturunan. Laki-laki menjadi penguasa di rumah gadang matrilineal. Namun kehilangan apapun ketika menikahi “orang tak beradat”. Pernikahan beda suku bangsa sangatlah tabu. Membuat garis keturunan hilang, dihembus bagaikan debu. TERBUANG.

Itulah yang dialami Zainuddin. Niat hati akan mendapatkan kedamaian di tanah kelahiran Ayahnya, berbalas dengan kepedihan. Terusir karena nilai diri hanya dihargai dengan materi. Hancur karena kesombongan adat yang terlalu egois memandang diri.

Awak hanya anak pisang di tanah kelahiran Ayahanda tercinta. Menumpang saja tak bisa, apalah lagi untuk menyemai benih cinta.

Sang kekasih, Hayati, yang menghadirkan suluh harapan dalam kesedihan terpaksa harus menuruti keangkuhan niniak mamak yang menilai diri sebagai orang berbangsa. Nasib diri hanya yatim piatu, tak bisa melawan titah dari penghulu. Sebenarnya tak ingin mengurai sumpah mati yang telah terikrar ikhlas dalam lubuk hati. Namun apalah daya, “awak anak padusi”. Hanya bisa patuh pada panji-panji adat yang tak mengindahkan perasaan dan hati.

Tubuhnya bisa dimiliki. Tapi kesetiaan dan cinta terdalam tak pernah ia berikan kepada siapapun. HANYA UNTUK ZAINUDDIN.

Rayuan syetan yang kembali membuka memori kelam dan dendam, membuat Zainuddin mengingkari perasaan sendiri. Hayati disuruh pulang ketika ditinggal suami yang memilih bunuh diri karena malu akibat bermain api. Harapan untuk kembali mengungkai kisah kasih suci dengan Zainuddin hancur tak terperi.

Menumpang Kapal Van Der Wijck, pedih dan luka dibawa pulang ke kampung halaman. Sambil terus mengawangkan harapan, kelak Zainuddin berubah pendirian dan menjemputnya ke Batipuh tanah kelahiran Ayahanda. Tempat hati bertaut pertama kali.

Tapi Allah berkehendak lain. Badai menghantam Van Der Wijck. Laut Jawa yang biasanya tenang, terbawa kesedihan hati Hayati. Van Der Wijck Tenggelam. Beruntung Jasad Hayati masih ditemukan. Di rumah sakit Semarang, Zainuddin datang dengan cinta yang sebelumnya diingkari. Kembali menghidupkan asa, bisa hidup bersama Hayati.

Malang tak dapat ditolak. Untung tak dapat diraih. Harapan baru hanya sekedar mimpi. Hayati pergi menemui Ilahi. Hanya tangis dan penyesalan yang bisa ditumpahkan Zainuddin.

Cinta Zainuddin kepada Hayati tetap abadi. Zainuddin tetap hidup. Menghidupkan Hayati dalam karya-karyanya. Karena Hayati adalah inspirasi tak terganti. Terus hidup di hatinya. Zainuddin melewati hari dengan terus berdo’a, YA ALLAH IZINKAN AKU KEMBALI BERSUA DENGAN HAYATI. HIDUP KEKAL DI SURGAMU NAN ABADI.

*****

Kuhabiskan malam tadi dengan menonton Film “Kapal Van Der Wijck” bersama adik asrama, Furqan, yang sebentar lagi akau melanjutkan perjuangan hidup di Jakarta selepas menyelesaikan kuliah di Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada. Duduk manis di deretan kursi B no 14 studio 4 XXI Jogja hampir 3 jam.

Batin bergejolak dalam kelindan romansa cinta, identitas kebudayaan dan perjuangan hidup. Kurefleksikan diriku sendiri sebagai sosok Zainuddin meski kusadar banyak hal yang berbeda antara diriku dengan Zainuddin.

Aku asli Minangkabau karena memang ibu dan bapakku adalah orang Minangkabau. Berbeda dengan Zainuddin yang beribukan orang Makasar. Zainuddin membawa cinta abadi Hayati. Sementara aku harus mengikhlaskan dan mendo’akan kebahagiaan Greaty yang sudah bersuami.

Identifikasi diriku dengan Zainuddin mungkin hanya dalam kesamaan meraih rizki dengan mengungkai dan mengubah bait-bait kata serta semangat untuk selalu bangkit meski deraan dan cobaan tak pernah berhenti.

Untuk hal percintaan, tak bisa lagi aku meniru Zainuddin. Greaty sudah bahagia dengan suaminya sekarang. Tak baik bagiku untuk merusak rumah tangga orang.

Sebenarnya aku masih menggantungkan harapan kepada seseorang. Dia yang datang jauh sebelum Greaty hadir dalam hatiku. Elsa namanya. Gadis ideal yang selama ini kudambakan. Tetangga sebelah rumah di kampung halaman, Sinapa Piliang di kota Solok nan jauh di sana. Sosoknya yang pendiam, senyumnya yang berkesan telah memikat jiwaku.

Berkali-kali aku melamarnya. Namun, dengan halus ia menolak. Saat kepulangan terakhirku 2011 lalu ke ranah Minang dengan Kapal Tanjung Nusative, sudah kukuatkan tekad untuk melamar Elsa ke Papanya. Tak sulit rasanya bagiku untuk menyakinkan Papa Elsa bahwa aku adalah calon menantu terbaik untuk anaknya. Karena setiap selepas Magrib saat SMA dulu, Papa Elsa adalah teman diskusiku sambil menunggu Adzan Isya.

Lamaran urung kulakukan. Elsa tak membolehkan. Padahal kala itu aku sudah punya pekerjaan bagus, pegawai sekolah pascasarjana UGM. Penolakan yang menghancurkan. Karena selepas ditinggalkan Greaty, aku sangat berharap Elsa adalah labuhan terakhir dan cinta abadiku.

Masih kubujuk hati dan terus menyakinkan Elsa. Puncaknya menjelang Lebaran kemarin. Elsa mengabarkan bahwa ia sudah bertunangan. Aku semakin hancur. Hancur sehancur-hancurnya.

Mungkin karena trauma masa lalu itulah, masih sulit untukku bisa menerima kehadiran orang baru dalam hidupku. Ada ketakutan dan rasa bersalah ketika ku mencoba menjalin cinta yang baru.

Saat ini trauma itu belum sepenuhnya hilang. Hanya mampu kulupakan sebentar. Kemudian hadir lagi saat aku kesepian.

Kini hatiku hambar akan cinta. Yang membuatku semangat hanyalah MIMPI BISA KULIAH S2 DI LUAR NEGERI. Setiap hari kujejali pikiran dengan semua tentang beasiswa dan sekolah di universitas negeri Barat. Sambil berharap, berharap memori akan Greaty dan Elsa bisa pergi.

Pernikahan bukanlah tujuan utama lagi. Karena sulit bagiku untuk mengembalikan rasa yang pernah dihadirkan Elsa dan Greaty. Akupun tak ingin melukai siapapun yang menaruh hati padaku dengan ketidakmampuanku menghapus bayangan Elsa dan Greaty dari memori ini.

Sekarang aku hanya ingin hidup sendiri. Melewati setiap sedih dan pilu. Biarlah mimpi kuliah di luar negeri dan menjadi akademisi menjadi penawar semua rindu dan luka di hati ini…