Jangan terlalu terburu-buru mengatakan para punggawa timnas sepakbola U-19 mati-matian berlaga di lapangan hijau demi negara. Karena sebelum menjadi juara Piala AFF U-19 September lalu, mereka tertatih berjuang sendirian tanpa kepedulian dan perhatian negara.

90% skuad TIMNAS U-19 adalah anak-anak kampung dari keluarga menengah ke bawah. Di kampungnya, keluarga mereka tak pernah disebut, bahkan sering dipandang sebelah mata. Indra Sjafri yang menemukan mereka tidak memotivasi anak-anak muda itu dengan cerita berbuih soal nasionalisme dan patriotisme. Hanya berangkat dari sesuatu yang sangat manusiawi, “Bermain bolalah sebaik mungkin demi membanggakan dan menaikkan harkat – harga diri keluarga kalian.”

Spirit itulah yang menjadi kekuatan TIMNAS U-19 asuhan Indra Sjafri. 15 menit sebelum pertandingan dimulai, semua pemain disuruh menelpon orangtuanya di kampung. Minta do’a restu. Tangis terisak. Bola mata mereka memerah. Tangisan membuat semangat membara dan siap memberikan seluruh kemampuan yang ada. Siapakah yang bisa mengalahkan perpaduan restu orang tua dan Tuhan? Jangankan Korea Selatan, Jerman, Brasil, Italia, Spanyol dan seluruh tim yang punya tradisi Piala Dunia sekalipun insya Allah bisa dikalahkan.

Semangat religius itu ditanamkan betul oleh Indra Sjafri kepada anak-anak asuhnya. Iringan syukur dan kepasrahkan kepada Tuhan mengiringi setiap laga. Tiap kali gol tercipta, tiada selebrasi kepongahan. Mereka langsung tersungkur mencium lapangan. Melakukan sujud syukur kepada Tuhan.

Indra Sjafri adalah urang awak yang punya visi jauh untuk kemajuan sepakbola Indonesia. Masuk Piala Dunia adalah harga mati mengalahkan segalanya. Dalam sebuah sesi curhat bersama seluruh skuad U-19, telah terikrar janji untuk terus bersama mewujudkan mimpi membawa Indonesia menjadi peserta Piala Dunia U-20 2015 New Zealand. Meski harus hidup miskin dan kembali dilupakan negara yang seringkali hanya peduli saat hangat-hangatnya euforia untuk kembali lupa seiring nafsu ketenaran para pemimpinnya terpenuhi.

Indra Sjafri memulai sepakterjangnya dengan menukangi TIMNAS U-16 tahun 2011 dengan target Lolos Piala Asia U-16. List pemain sudah disiapkan oleh PSSI. Indra Sjafri tinggal melatih. Hasilnya, GAGAL TOTAL. Semua pemain dipulangkan, Kecuali Hargianto yang masih dipertahankan oleh Indra Sjafri dan kemudian menjadi pemain andalan di U-19. Saat evaluasi, dibukalah curriculum vitae seluruh pemain. Hampir semua pemain berasal dari Jakarta. Kalaupun ada anak daerah, itu sudah melewati aksi nepotisme yang sangat kental dengan orang Jakarta.

“Indonesia itu punya penduduk 210 juta. Masak mencari 11 pemain bola yang bagus saja tidak bisa???”. Tinggalkan cara-cara instan dengan mencari-cari para bule berdarah Indonesia dan naturalisasi pemain asing yang berlaga di Liga Indonesia yang beberapa tahun belakangan dilakukan PSSI, Indra Sjafri mulai berkeliling Indonesia. Terbang dari satu daerah ke daerah lain. Menyaksikan pertandingan tarkam di pelosok-pelosok desa. Pakai duit pribadi. Pernah suatu kali dalam kunjungannya ke Pasuruan, tim pencari bakat yang dipimpin Indra Sjafri kehabisan uang. Laparpun ditahan. Tapi pantang untuk mundur hatta selangkahpun.

Anak-anak kampung yang kebanyakan dari keluarga miskin inilah yang kemudian menyentakkan rakyat Indonesia dengan gaya bermain sepakbola kelas dunia dan melibas semua lawan dalam ajang AFF CUP 2013 di Sidoarjo Jawa Tmur. Beberapa minggu kemudian, perjuangan lebih keras mesti dijalani. Kali ini adalah kualifikasi Piala Asia U-19. Laos dilibas, Filipina merana. Ada keraguan saat harus berhadapan dengan Juara Bertahan Korea Selatan.

Optimisme mengalahkan Korea Selatan jelang pertandingan dimainkan, ditanggapi sinis oleh para wartawan, yang sudah terbiasa hidup dengan semboyan “berita negatif adalah berita bombastis”, dengan mengalamatkan sindiran, “Indra Sjafri Arogan”.

“Saya tidak arogan. Tapi saya percaya tidak ada yang tidak bisa dikalahkan kecuali Tuhan. Saya tidak mendahului Tuhan. Tetapi saya ingin membuang jauh-jauh mental penakut yang terlalu akut menyerang hati bangsa Indonesia.” Bismillah. Laga di bawah guyuran hujan lebat memberi berkah. Timnas U-19 Indonesia membuat sejarah, mengalahkan sang juara bertahan Korea Selatan 3-2.

Kesabaran itu diuji tidak hanya ketika harus berdarah-darah saat memulai langkah dan menapak perjalanan. Ketika kesuksesan diraih, semua mata melirik. Pintu terbuka lebar-lebar menjadi selebriti. Para produser menelpon menawari tampil di program ini dan itu. Tak ketinggalan dari acara-acara lawakan seperti Soimah dan Bukan Empat Mata Tukul.

Namun bagi Indra Sjafri, tawaran itu tak sekalipun digubris. “Kalau untuk wawancara acara sepakbola dan berita okey. Tapi kalau untuk acara-acara ketawa-ketiwi dan lawakan tidak akan saya penuhi. Emang kami ini para pelawak??? Tak perlu datang di acara-acara begituan. Saat ini Timnas U-19 sudah dikenal orang dari Sabang hingga Merauke.”

Ujian materipun datang berjibun. Produser iklan ramai-ramai menghubungi. “Fee iklan yang hanya 30-50 juta rupiah tak sebanding dengan kekompakan pemain.” Indra Sjafri sangat menjaga perasaan satu rasa – satu jiwa skuadnya. Jika yang dikontrak hanya 1-2 pemain, tentu kecemburuan melanda tim. Dan itu sangat tidak baik. “Kalau mau iklan boleh. Tapi harus semua pemain baik inti ataupun cadangan harus dilibatkan.”

Dalam ranah pribadi, Indra Sjafri pun tak luput dari rayuan klub-klub besar Indonesia. Tawaran 500 juta sampai miliaran rupiah disampaikan pemilik klub. “Semua saya tolak. Karena yang paling penting bagi kami saya ini adalah menempatkan kaki di Piala Dunia.”

Penyakit akut bangsa ini adalah mental inlander. Mimpi Piala Dunia bagi sebagian orang Indonesia bisa jadi sesuatu yang muluk-muluk. Ketakutan bermimpi itu harus dibuang jauh-jauh. Karena sepakbola bukan lagi permainan tak terprediksi. Membawa filosofi empiris orang Minang, Indra Sjafri percaya hasil pertandingan bisa dikalkulasi dan diprediksi. Keyakinan kemenangan atas Korea Selatan ia dasarkan kepada hasil tes skill dan kekuatan stamina para pemainnya. Angka 50 adalah angka terendah (VO2max) pemain TIMNAS U-19 saat ini. Sang Kapten, Evan Dimas bahkan memiliki (VO2max) 60. Bandingkan dengan kadar tertinggi VO2max pemain Korsel yang hanya 56.

Banyak orang mengatakan gaya permainan anak asuh Indra Sjafri mirip tika-taka nya Barcelona. Namun, Indra tak mau disamakan dengan klub La Liga itu. “Permainan kami bukan tiki-taka ala Barcelona. Kami bermain dengan gaya Indonesia. Sesuai dengan kemampuan dan potensi anak-anak Indonesia bertalenta yang kami miliki di tim U-19 ini.”

Semua uraian di atas kurekam dalam memori pada acara Sharing Motivasi dan Diskusi Bersama Indra Sjafri. Acara dadakan yang kuinisiasi setelah Kolonel (Purn) Syamsu Anwar, salah seorang pengurus asramaku, mengirimkan sebuah pesan ke handphoneku. Sebenarnya hanya sms biasa yang mengajak untuk menyambut Indra Sjafri baru datang dari Jakarta. Ya, sejak tahun 2008, Uda Indra pindah ke Jogja dari Padang dengan pertimbangan gempa yang tiada henti melanda ibukota Sumatera Barat itu. Persis saat perayaan takbiran di masjid asramaku, nomor uda Indra Sjafri kudapatkan. Tanpa pikir panjang, kukirimkan sebuah pesan yang meminta kesediaan beliau untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa Jogja.

Setelah membuat deal awak, kucoba kabarkan berita kesediaan uda Indra untuk bertatap muka dengan mahasiswa Jogja kepada teman-teman. Agar acara lebih “menasional” kucoba hubungi Presiden BEM KM UGM dan Ketua IMM BSKM.

Rabu pagi 16 Oktober sekitar jam 10.00, uda Sjafri memberikan kabar bahwa acara yang semula disepakati sore hari harus dipindah selepas magrib. Karena ada undangan Presiden untuk acara puncak peringatan Hari Olahraga Nasional. Dalam waktu hitungan menit aku harus memutuskan, apakah acara diskusinya jadi atau tidak. Teman-teman BEM dan IMM yang awalnya semangat mundur teratur dengan berbagai alasan. Tinggallah aku bersama beberapa teman asrama Merapi Singgalang dan kawan-kawan Forkommi UGM yang rela untuk bekerja volunteer. Hanya berbekal semangat tanpa uang di tangan, kuputuskan untuk mengiyakan.

Uang bisa dicari. Tapi momen bertatap muka dengan Indra Sjafri ketika beliau lagi di puncak kepopuleran tentu hanya terjadi sekali. Bismillah, aku pastikan kami jadi mengundang. Uda indra menyetujui. Baru belakangan aku tahu kalau beliau terpaksa membatalkan acara makan malam dengan Presiden SBY demi menghadiri acara yang kuadakan bersama teman-teman di Aula Asrama Mahasiswa Sumatera Barat “Merapi Singgalang” Yogyakarta dengan mengatasnamakan “Mahasiswa Minangkabau Yogyakarta”.

Kamis pagi, sms permohohan dana, memastikan band yang akan mengisi acara, surat izin, publikasi, persiapan perlengkapan dan sounds system, backdrop, plakat, surat izin kepolisian, persiapan ruangan diskusi serta undangan liputan (Kompas, Republika, Kedaulatan Rakyat, Metro TV, dan TVRI Jogja) dikebut. Hanya mengandalkan tenaga kurang dari 10 orang. Banyaknya teman-teman yang acuh tak acuh, cuek dan malah menyindir dari belakang tak sedikitpun menyurutkan semangat. Bismilllah.

Alhamdulillah selama 2 jam acara Sharing dan Diskusi Bersama Indra Sjafri berjalan sukses dan dibanjiri peserta. Aku sangat gembira karena Indra Sjafri bisa hadir di tengah-tengah mahasiswa Minang, mahasiswa Jogja dan masyarakat banyak.

Terima kasih ingin kusampaikan Uda Indra Sjafri yang telah berbaik hati untuk meluangkan waktu untuk bersilaturahmi di asrama Merapi Singgalang Yogyakarta. Kepada Uda Roviza Utama yang selain membantu donasi juga berkenan untuk meminjamkan mobilnya untuk antar jemput Uda Indra Sjafri. Kepada Fadli Fajrin yang berlelah-lelah menyetak backdrop dadakan. Kepada Desvery yang menyetakan Plakat. Mas Irfan yang ngebut bikin backdrop selama 1,5 jam, Hendri Dubilih yang bertanggung jawab untuk bersih-bersih aula. Imam, Aji dibantu dunsanak terbaik Andri Syahputra yang bertanggung jawab untuk konsumsi. Awan dan Gondho yang sudah mengantar surat ke asrama-asrama daerah dan menyedia. Dan seluruh teman-teman asrama Merapi Singgalang yang turut membantu berletih-letih untuk kesuksesan acara ini.

Tidak lupa juga kepada Indah Fadhilla yang sudah berkenan jadi Mc. Serta kawan-kawan Forkommi yang menjadi patner kerja yang menyenangkan, specially buat Raihan dan Farid. Buat kawan Wanda Kurniawan (kawan seperjuangan di asrama yang sekarang bekerja di Pertamina), Uda Erwin Rahman (WMS 1968), uda Rizal Yaya (WMS 1992) serta Pak Syamsu Anwar atas dukungan spirit dan donasinya. Mas bro Arif yang sudah membantu untuk mencarikan band penghibur. Kawan-kawan pemuda Karangwaru Kidul. Furqan buat tumpangan printnya. Yogi untuk rekaman videonya. Terima kasih kepada seluruh teman-teman yang sudah berkontribusi untuk acara ini.

PERCAYALAH KAWAN, SEMANGAT YANG MEMBARA SUDAH CUKUP UNTUK MELAKUKAN HAL-HAL LUAR BIASA. KITA HANYA PERLU PASRAH KEPADA ALLAH DAN MENGIRINGINYA DENGAN USAHA KERAS.