Banyak orang yang mengkritik capaian perguruan tinggi Indonesia terkait publikasi penelitian ilmiah. Jangankan mau diperbandingkan secara global, untuk kawasan Asia Tenggara saja, Indonesia tak mampu menjadi yang terdepan. Publikasi ilmiah hanya salah satu indikasi belum mampunya perguruan tinggi Indonesia untuk bersaing secara global. Deretan panjang kegagalan lainnya bisa kita temukan dalam “Bongkar Pendidikan Tinggi Kita” yang ditulis oleh Terry Mart, staf pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia.

“Beberapa PT kita sudah berusia lebih dari 50 tahun, tetapi pertumbuhan mutunya tak normal…. Banyak dosen kita yang menamatkan S-3 di PT papan atas negara maju dengan hasil riset yang bahkan mencengangkan koleganya di sana. Sayangnya, pembusukan akademis selama puluhan tahun di Tanah Air telah menurunkan kualitas kebanyakan mereka hingga hampir mencapai titik nadir….”

Pandangan berbeda disampaikan oleh Dr. Anies Baswedan dalam kesempatan Orasi Ilmiah “Dinamika Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Dunia Modern” yang merupakan bagian dari rangkaian acara dies natalis ke-30 Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis 5 September 2013 di Gedung Lengkung Pascasarjana UGM. Forum ini adalah kesempatan kedua bagi saya mendengarkan secara langsung pikiran-pikiran sosok yang dimasukkan oleh Majalah Foreign Policy (2008) sebagai 100 tokoh berpengaruh di dunia.

Bagi Anies, masih rendahnya peringkat publikasi ilmiah perguruan tinggi Indonesia bukanlah masalah utama saat ini. “Sejenak mari kita lupakan dulu soal-soal pemeringkatan universitas berdasarkan hasil riset, karena persoalan besar kita sekarang adalah bagaimana memperluas jangkauan pendidikan tinggi kepada anak-anak bangsa.”

Anies mencatat, pada tahun 2010 baru 23% penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Irlandia yang 95% dari 4,5 juta penduduknya sudah masuk perguruan tinggi ataupun negara-negara maju lainnya yang sudah melewati angka 80%. Dari angka 23% itu sangat jarang yang mau mendedikasikan diri untuk menjadi agen perubahan di daerah. Kebanyakan lebih memilih karier di pusat-pusat kekuasaan negeri ini, sebagian lain sibuk memikirkan kesejahteraan pribadi, dan sebagian anak-anak terbaik bangsa yang berkesempatan kuliah di luar negeri enggan pulang ke Indonesia karena alasan keterbatasan fasilitas riset dan gaji yang rendah.

Oleh karena itu, menurut Anies, kita tidak perlu risau dengan apapun bentuk pemeringkatan universitas, karena persoalan utama kita hari ini adalah memastikan anak-anak muda bangsa bisa kuliah di perguruan tinggi. Universitas-universitas berstatus negeri punya tanggung jawab besar. Karena mereka mendapatkan budget dari negara untuk mengemban amanah merealisasikan tujuan negara, “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Pertanyaan lanjutannya, seberapa persen kah anak-anak tidak mampu diterima dan diberikan beasiswa oleh perguruan tinggi negeri? Tidak bisa disangkal memang, siswa-siswi tak mampu berprestasi sangat diperhatikan. Namun, bagaimana dengan anak-anak tidak mampu yang berkualitas pas-pasan atau tak memiliki kapasitas bersaing masuk perguruan tinggi negeri? Sementara, berharap kepada perguruan tinggi swasta sangatlah berat. Karena mau tidak mau, mereka punya orientasi lain, BISNIS PENDIDIKAN. Garapannya adalah anak-anak orang berpunya yang sanggup membayar uang kuliah sekian puluh atau bahkan ratusan juta. Kalaupun ada skenario beasiswa yang digagas oleh perguruan tinggi swasta, itupun masih dalam persentase yang sangat kecil.

Memandang pendidikan sebagai eskalator perubahan dari “orang-orang tak berpunya menjadi sosok luar biasa”, Anies sangat yakin dengan semakin banyaknya anak-anak bangsa yang menempuh pendidikan tinggi, maka akan terjadi sebuah perubahan besar. Tidak hanya sebatas pemeringkatan universitas berdasarkan riset. Lebih dari itu, negeri ini akan mencapai kesejahteraan yang menjadi cita-cita kemerdekaan.

Akses yang luas kepada lapisan menengah ke bawah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tentu tidak serta merta persoalan bisa teratasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana perguruan tinggi bisa memunculkan bibit-bibit pemimpin yang akan menjadi agen perubahan. Harus disadari lebih dini, orientasi perguruan tinggi akhir-akhir ini yang lebih cenderung “menyetak para pekerja” adalah bom waktu yang akan memunculkan generasi-generasi yang hanya memikirkan diri sendiri. Karenanya, harus ada perubahan radikal dalam tata kelola mahasiswa dan kurikulum yang berpotensi melahirkan manusia-manusia mekanis.

Menjadi agen perubahan hanya membutuhkan NIAT TULUS UNTUK BERBAGI. Indonesia Mengajar menjadi bukti tentang ketulusan mengabdi telah memberikan inspirasi dan kepada anak-anak Sekolah Dasar serta masyarakat di daerah-daerah terpencil Indonesia yang selama ini namanya saja asing bagi orang-orang Jakarta. Kisah Arif Hakim, seorang pengajar muda Indonesia Mengajar yang ditempatkan di pulau terpencil provinsi Papua Barat, bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa menjadi agen perubahan itu hanya butuh bekal SEMANGAT.

Meskipun sudah diberitahu sejak awal bahwa tidak ada sinyal telpon seluler di daerah penempatannya, Arif tetap membawa handphone kesayangannya. Suatu hari, ia ajak anak-anak didikannya berkeliling pulau mencari sinyal. Ya jelas saja tak ada sinyal yang didapat karena memang di daerah itu tidak ada menara pemancar. Pertanyaan besar menggelayut dalam dadanya, APA ARTINYA INDONESIA JIKA DAERAH-DAERAH YANG JAUH DARI JAKARTA DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL, APA ARTINYA GAUNG NASIONALISME JIKA TAK ADA PEMBANGUNAN DI DAERAH TERPENCIL YANG MASIH BAGIAN NKRI.

Dalam kalutan perasaan sedih, kesal dan marah, ia pun menuliskan disparitas sangat tajam itu di blog, “Jenderal, Sinyal Itu Mahal!”. Curahan hati Arif ternyata dibaca oleh petinggi Indosat. Maka sejak itu, penduduk Kampung Tarak Kabupaten Fak-Fak Papua Barat bisa menikmati sinyal telepon seluler.

Keikutsertaannya dalam konvensi Partai Demokrat, membuat Anies memperoleh kritik dari sana-sini. Dalam kesempatan Orasi Ilmiah kemarin, Anies menegaskan, ia tidak mencalonkan diri tetapi diundang.

Kesempatan itu tentu tidak akan diperoleh lewat Partai Lain. Mau maju dari jalur mana? Mahkamah Konstitusi menolak kehadiran calon independen dalam pilpres. Partai Golkar sudah punya Aburizal Bakrie, PDIP tergantung kuasa Ibu Megawati, Gerindra sudah mengadang-gadang Prabowo Subianto, Hanura sudah menetapkan Wiranto, Nasdem tak mungkin lepas dari Surya Paloh, dan PAN akan mengusung Hatta Radjasa. Hanya Demokrat yang membuka peluang lebar-lebar bagi anak-anak bangsa yang dipandang potensial memimpin negeri ini. Atas pertimbangan itu, Anies memandang undangan Demokrat tidak semata-mata undangan menaikkan popularitas diri ataupun Partai Demokrat, tetapi sebagai undangan untuk mengurus Republik dan kesempatan melunasi janji kemerdekaan.

“Harus ada orang yang berjuang di ranah publik, Ambil peran dalam pemerintahan. Harus ada orang baik yang memimpin negeri ini untuk membuat kebijakan yang benar. Untuk mengurusi APBN secara jujur dan bertanggungjawab demi kemakmuran rakyat. Saya ambil kesempatan bertarung, soal menang kalah itu soal belakangan. Saya tidak takut dengan kata-kata orang, tetapI saya takut dengan sejawaran yang akan menuliskan apa yang terjadi hari ini untuk dibaca oleh generasi mendatang.”

Dilihat dari sudut pandang negatif, mungkin akan muncul tudingan “ambisiusitas seorang Anies”. Tetapi apabila kita coba sedikit memahami pola pemikiran Anies, ini adalah bentuk sebuah keberanian seorang yang masih muda untuk mengambil tanggungjawab mengurus bangsa ini secara nyata. KEBERANIAN, kalau mau jujur, yang tidak dimiliki oleh Amien Rais ketika punya kesempatan menjadi presiden Indonesia pertama di era Reformasi.

Pada ranah yang lainnya, ketika menjawab pertanyaan seorang audiens terkait diskriminasi perempuan dalam bidang pendidikan yang dipicu oleh budaya sempit dan pola pikir agama yang konservatif, Anies melihat tantangan terbesarnya bukanlah MEMASSIFKAN PAHAM KESETARAAN GENDER di tengah-tengah masyarakat. Yang diperlukan adalah MENDIDIK LAKI-LAKI agar paham bahwa ketika mereka bicara soal kemajuan maka hal terpenting yang harus mereka lakukan adalah memberikan ruang-ruang kemajuan bagi perempuan. Namun, bukan kemajuan untuk equalitas serampangan yang menegasikan kodrat perempuan itu sendiri. Konsep kesetaraan jender hanya menekankan hak-hak individualistis perempuan. Bagi Anies, yang perlu dikedepankan adalah KONSEP IBU. Penyadaran kepada seluruh perempuan Indonesia bahwa menjadi ibu adalah hal paling mulia karena ketika fungsi Ibu berjalan dengan baik di negeri ini maka harapan cerah akan menaungi generasi—generasi masa depan Indonesia.

Itulah sedikit oleh-oleh dari saya yang berkesempatan untuk berrefreshing ilmiah bersama Dr. Anies Baswedan kemarin pagi. Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat bagi kita semua di tengah rongrongan berita-berita negatif yang seringkali melemahkan semangat dan menghadirkan rasa pesimis. MARI KITA WUJUDKAN “INDONESIA MERDEKA 100%”.