Aku harus kuat menjalani hidup sendiri di tengah godaan untuk menikah dari sana-sini. Lihat facebook teman-teman yang sudah memajang foto bersama buah hatinya yang imut-imut tak kupungkiri bikin iri hati. Ditambah lagi dengan motivasi yang lebih berbau provokasi kalau ketemu sama senior-senior yang sudah punya cucu.

Dalam hati kecilku, sungguh sangat ingin segera “menghadiahkan” seorang menantu kepada Ibu. Tapi berbagai penolakan yang kuterima dari gadis-gadis yang coba kudekati perlahan memadamkan asaku untuk segera menikah.

Aku percaya, selain gadis-gadis yang menolakku, masih banyak di luar sana gadis-gadis baik yang bisa kudekati. Namun entah kenapa semangat untuk “memburu” tak sekuat dulu.

Aku ragu dengan statusku yang masih belum bisa dibanggakan. Aku masih bertarung menyelamatkan hidup dari penerbitan buku. Namanya memulai usaha, jatuh bangun dan harus rela bersusah-susah. Uang yang didapatkan hanya cukup untuk bertahan hidup di Jogja sambil meneruskan kursus bahasa Inggris.

Satu tekad yang hendak kuwujudkan sampai akhir tahun nanti adalah meraih skor TOEFL di atas 550. Karena lewat raihan inilah aku bisa melapangkan jalan untuk bisa kuliah S2 Publishing Studies di luar negeri.

Sungguh aku tak boleh berhenti berjuang. Aku sudah menapak setengah jalan. Pilihan untuk mendirikan penerbitan adalah pilihan terbaik untukku. Sekarang aku hanya perlu memokuskan konsentrasi untuk membesarkan Gre Publishing. Biarlah bersusah sekarang, bila ada sinaran cerah di masa mendatang.

Letter of Acceptance S2 Publishing Studies akan kujadikan mahar bagi gadis yang mau menerima cintaku. Yang bersedia berjuang bersama untuk meraih SorgaNya. Dengan do’a dan usaha mudah-mudahan Bulan Ramadhan tahun depan sudah tak makan sahur berdua. Amiin.