Baru Langkah Awal (AAS)


Untuk pertama kalinya, aku bisa mengirimkan lamaran resmi aplikasi beasiswa ke luar negeri. Hari bersejarah itu bertanggal 17 Juli 2013. Persis 2 hari sebelum penutupan pendaftaran beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS), 19 Juli 2013.

Keberanian mengirimkan aplikasi beasiswa AAS bermula dari hasil tes TOEFL Like dengan skor 503 di Pusat Pelatihan Bahasa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM pada awal bulan Mei 2013 lalu. Seumur-umur inilah skor tertinggi tes TOEFL like yang pernah aku dapatkan.

Perjalanan serius belajar bahasa Inggrisku baru dimulai pada awal 2010 yang lalu. Semangat yang muncul setelah ijazah UGM dan transkrip IPK 3,61 hanya dilemparkan begitu saja saat melamar ODP Bank Mandiri gara-gara bahasa Inggrisku yang sangat parah.

Pengalaman pertama mencoba tes TOEFL sangat mengecewakan. Hasil yang kudapatkan hanya 377.

Selepas pengalaman menyakitkan itu, akupun mulai mengikuti kursus serius dengan program 4 bulan di Jogja English Dormitory. Aku berhasil menamatkan program ini dengan baik. Tapi ketika diuji dengan tes TOELF, lagi-lagi hasil mengecewakan kudapatkan. Skor TOEFL ku masih pada level bawah: 393, 410, 430-an.

Tergoda dengan cerita-cerita orang tentang kampung Inggris di Pare, akupun memutuskan untuk berguru ke sana. Entah karena terlalu cinta dengan Jogja ataupun suasana panas Kediri yang tak terlalu bersahabat, aku hanya bertahan 2 minggu.

Di Pare, aku punya kenalan ibu guru cantik. Namanya miss Meirly, ngajar Vocab. Aku cukup kelabakan menghadapi kelasnya. Harus menghafalkan 50 vocab setiap hari. Tapi karena sudah “jatuh hati” sejak hari pertama, kujalani semua dengan ikhlas dan tabah. Cerita punya cerita, ternyata miss Meirly itu asli Minang juga. Cuma besar di Klaten. Saat itu miss Meirly sudah lebih 1 tahun tinggal di Pare. Selepas kursus malah diminta ngajar. Entah karena jodoh atau gimana, di semester yang lalu aku malah bertemu miss Meirly di Sanata Dharma.

Ternyata beberapa bulan setelah aku balik ke Jogja, miss Meirly juga ikut balik ke Jogja. Pernah suatu kali kami bertemu tak sengaja di Gedung Pasca UGM. Saat itu aku masih kerja di CRCS UGM. Momennya ketika miss Meirly mengantar temannya yang mau S2 di CRCS UGM. Selepas meninggalkan pekerjaan di penerbitan, miss Meirly memutuskan untuk kuliah S1 lagi di Pendidikan Bahasa Inggris Sanata Dharma.

Dari Pare, akupun kembali ke Jogja. Mendaftar di English Extention Course (EEC) Sanata Dharma yang konon masyhur sebagai kursusan Bahasa Inggris yang paling bagus dan murah di Jogja. 1 tahun aku gagal mendapatkan nilai bagus di EEC karena harus membagi konsenstrasi dengan pekerjaan di CRCS UGM. Setelah menimbang banyak hal dan demi progress Bahasa Inggris yang lebih baik, akupun memutuskan resign kerja kantoran, kemudian beralih jadi Direktur Gre Publishing dengan jam kerja yang lebih fleksibel. Maklumlah namanya juga perusahaan sendiri.

Konsentrasi kursus di EEC memang membuat nilai semesteranku bagus-bagus. Tapi tetap saja peningkatan TOEFL tidak signifikan. Masih dalam kisaran 450-an sampai 470-an.

Mengambil mata kuliah Test Taking Strategies A pada semester lalu di EEC membantu perbaikan skor TOEFLku. Ujicoba TOEFL like pada bulan Mei 2013 menghasilkan skor 503.

Seiring dengan itu, aku semakin rajin mencari informasi beasiswa. Australia Awards Scholarship adalah salah satu beasiswa yang cukup berbaik hati buat orang-orang yang masih berskor TOEFL pas-pasan. AAS menetapkan batas minimal 500 TOEFL ITP. Artinya, skor TOEFL like 503 ku tidak berlaku untuk aplikasi.

Kembali perjuangan dilanjutkan. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan ambil TOEFL ITP di Lembaga Bahasa Sanata Dharma. Selain ada diskon khusus, kehadiran dosen-dosen EEC yang juga mengajar di Lembaga Bahasa membuatku lebih nyaman. Terdaftarlah aku sebagai peserta TOEFL ITP IIEF untuk tanggal 18 Mei 2013.

Seminggu kemudian hasilnya pun keluar. Skor yang kudapatkan cuma 497. Kurang 3 poin dari syarat minimal AAS. Ya, terpaksa harus ikut tes lagi. Langkah cepat harus dilakukan di tengah kuota peserta terbatas, sementara para scholarship hunter lagi musim-musimnya ikutan tes TOEFL. Padahal kondisi finansial saat itu juga memprihatinkan. Setelah melakukan diplomasi, akhirnya dana untuk tes ITP yang kedua bisa didapatkan. Langsung meluncur ke Lembaga Bahasa Sadhar dan alhamdulillah kuota masih tersedia.

Urusan pendaftaran beres. Tapi rasa cemas masih saja memburu hati. Jalan curhatpun dilakukan. Ms. Yuseva, salah satu dosen favoritku di EEC Sadhar, jadi tempat meredakan kegundahan. Dari Ms. Yuseva kudapatkan motivasi baru plus ebook Longman. Persiapan untuk tes TOEFL kedua ini semakin lengkap lewat pinjaman persiapan TOEFL dari Mas Ajar, yuniorku di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Jadilah aku orang gila yang kemana-mana baca buku TOEFL demi aplikasi AAS. Tanggal 29 Juni pun datang. Prosesi tes ITP pun dimulai. Sesi Listening  bikin kepala pusing. Sudahlah ngomongnya cepet, tambah lagi kalimatnya panjang-panjang. Sesi structure lumayan sukses. Giliran Reading lagi-lagi mumet. Vocabnya banyak yang baru. Sehingga sulit untuk ditangkap maksudnya. Alhasil, 7 soal Reading tak terjawab karena waktu telah habis.

Tibalah hari melihat hasil. Dalam hati aku bernadzar, “Ya Allah jika Engkau beri aku nilai 500, aku akan puasa seminggu Ya Allah…” Tanggal 8 Juli 2013, akupun kembali bertandang ke Lembaga Bahasa. Pasrah sudah. Apapun hasilnya akan aku terima. Alhamdulillah, angka 500 tersenyum kepadaku. Meski sebenarnya masih sedikit mengecewakan, tapi paling tidak bisa untuk syarat aplikasi AAS.

TOEFL selesai. Tapi masih ada translate ijazah dan transkrip nilai, surat rekomendasi, dan legalisir akte kelahiran serta KTP yang harus diurus.

Ramadhan pun datang menjelang. Kewajiban sebagai Panitia Ramadhan Masjid Istiqomah membuatku harus memecah konsentrasi. Rapat di masjid  semakin padat saat usulanku untuk mengadakan Lomba TPA se kelurahan Karangwaru di-acc teman-teman.

Benar kata ustadz-ustadzku, Allah tidak akan meninggalkan hambaNya yang memakmurkan rumahNya. Satu per satu berkas yang dibutuhkan mulai dikumpulkan. Tak sampai seminggu, ijazah dan transkrip nilai edisi Bahasa Inggris, translate akte kelahiran, 2 surat rekomendasi serta legalisir notaris bisa diselesaikan.

Rekomendasi dari Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Ketua PP. Muhammadiyah) kudapatkan pada hari Senin malam (15 Juli 2013), selepas beliau mengisi ceramah tarawih di Masjid Kampus UGM. Rekomendasi dari Dr. Arqom Kuswanjono (Wakil Dekan Akademik Filsafat UGM) berhasil kuperoleh Selasa siang (16 Juli 2013).

Berkas terakhir yang paling penting adalah form AAS bersama CV bisa kurampung Rabu siang (17 Juli 2013). Dan lewat pake “Yakin Esok Sampai” aplikasi AAS-ku diantar oleh JNE ke Kantor AAS di Kuningan Jakarta.

Inilah pengalaman pertamaku mengirimkan aplikasi beasiswa ke luar negeri. Satu nama yang tidak bisa kulupakan untuk menyampaikan terima kasih adalah Buk Asni, teman virtualku yang sekarang sudah berada di Flinders Australia. Tak lupa juga buat kawan Qusthan yang menjadi tempat bertanya tentang hal-hal rumit tentang AAS. Mas Made Andi yang websitenya menjadi rujukan utamaku. Kawan-kawan di milis beasiswa yang sudah berbaik hati berbagi pengalaman.

Tentu saja yang sosok yang paling layak untuk kuucapkan terima kasih adalah Bapak dan Ibuku yang selalu bersabar di tengah pasang-surut perjalananku berjuang meraih beasiswa S2 ke luar negeri. Satu lagi, salam semangat juga buat Mas Bro Arif teman bermain sepakbolaku yang tahun ini sama-sama bermetamorfosis menjadi scholarship hunter. Terakhir, terima kasih juga buat Uda Febri Syahli yang menjadi teman curhatku untuk hal-hal berbau bahasa Inggris.

Dan penungguan pengumuman hasil seleksi pertama segera dimulai hingga bulan Desember nanti…

Iklan

5 thoughts on “Baru Langkah Awal (AAS)

  1. Mas Guunnnn … terharu sangat ,membaca kisahnya dengan miss TOEFL … saya sedih sekali tidak bisa Apply Australia awards karena TOEFL saya ngambek … kurang banget :(
    saya lagi prep.course lagi untuk improve TOEFL saya, semoga saya bisa ikuti jejaknya tahun depan, doakan saya juga yah, sukses selalu mas Gun … kita akan bersulang saat kesuksesan di genanggaman#ngutip kata Pak Made Andi :)

  2. mirip nih kisahnya am ane. IPK jg kembar kita. toefl beda tipis. kikiki.. ngirim berkas jg tgl 17. tapi saya dapet notif: gagal dr mas admin AAS. hehehe.. coba lg taun depan. sekarang ane mw kul jg di EEC.

  3. Salam kenal semua. Sepertinya saya juga punya kasus yang sama. Terima kaaih cerita motivasinya mas. Saya sekarang mempunai energi baru untuk blajar toefl lg. Sepertinya usaha saya blm sebesar mb dan mas di atas lakukan..
    Saya akan berusaha lagi.. sudah jatuh yang penting bangun lagi.
    Salam kenal semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s