Kolumnis Forbes, David Vinjamuri, memprediksi 3 kemungkinan yang akan menimpa self publishing: buku-buku indie semakin mendapat tempat di hati masyarakat melalui review di berbagai situs internet, meningkatnya gelombang perpindahan penulis tradisional ke indie, dan kemungkinan penerbit-penerbit arus utama mendirikan membuat cabang usaha indie publishing (di Indonesia hal ini sudah dilakukan oleh Mizan).

Fenomena Rotten Tomatoes (sebuah website yang mengulas film-film terbaru) dan Pitchfork (situs review musik) menunjukkan sangat mungkin memberikan kesempatan kepada konsumen untuk menilai kualitas sebuah produk secara online. Kirkus, sebuah majalah ulasan buku di Amerika yang terbit sejak 1933, juga memiliki rubrik khusus Indie Publishing dan menjadi profit center. Kirkus menjual layanan review untuk penulis-penulis indie dengan harga $425, nilai yang cukup kecil jika dibandingkan dana yang dikeluarkan oleh banyak penulis dalam proses publikasi melalui cara-cara konvensional. Kirkus akan melakukan terobosan jangka panjang untuk memperluas review tidak berkompensasi. Terobosan ini diharapkan menjadi bagian seleksi alami bagi buku-buku indie dan kemudian menjadi tastemaker bagi pembaca generasi baru.

Sebenarnya, Goodreads adalah kandidat kuat sebagai pengadil objektif. Namun, fungsi situs ini lebih cenderung sebagai social network dan mungkin akan kehilangan suasana pertarungan bagi kompetitor yang lebih single minded. Kita masih memiliki alternatif lain dengan kehadiran beberapa situs review buku, seperti Digital Book Today, Self Publishing Review dan IndieReader.com, yang berjuang untuk mempertahankan reputasi objektivitas dalam menilai sebuah buku. Situs lainnya, Storybundle, memiliki model bisnis menarik yang mempersilahkan pembaca untuk menentukan harga sendiri dan memfilter buku-buku yang cocok.

Di sisi lain, Amazon dan Barnes & Noble bisa meningkatkan popularitas online dengan membuat sebuah tim reviewer profesional untuk menyortir katalog buku-buku indie. Amazon menawarkan layanan ini untuk buku-buku indie sebagaimana yang mereka terapkan pada buku-buku mainstream. Terobosan ini dikenal dengan sebutan“Amazon Vine”. Amazon Vine mendorong para reviewer kawakan untuk mengulas buku-buku baru secara spesifik. Namun ada kesan, Vine lebih terlihat sebagai promosi yang memokuskan pada keuntungan untuk penerbit-penerbit mainstream ketimbang sebagai media untuk pembaca.

Kehadiran sebuah media yang benar-benar independen dalam memberikan penilaian terhadap buku-buku indie dan mengompensasi para reviewer sambil menjaga independensi Amazon rasanya sangat diperlukan. Termasuk mempertahankan pemisahan “grade” yang diberikan oleh reviewer profesional dengan “grade” yang diberikan reviewer pemula. Langkah ini bisa melepaskan penerbit indie dari stigma pasar, “tenggelam dalam tulisan jelek”. Sangat sulit untuk membayangkan masa penerbitan jika tidak ditemukan solusi dalam 12-18 bulan ke depan.

Hal kedua adalah, penulis mainstream yang tidak memiliki angka penjualan sefenomenal Brad Thor atau Sue Grafton, tetapi memiliki pembaca setia, akan banting stir ke indie publishing yang secara ekonomis lebih menguntungkan. Satu hal di mana penulis mainstream dan indie terlihat bersatu adalah cibiran mereka terhadap tingkat royalti yang diterapkan oleh penerbit mainstream pada ebook yang jauh lebih menguntungkan daripada buku cetak. Terobosan ini tampak konyol dan kontraproduktif bagi penerbit. Bahkan penulis seperti Lawrence Block dan Margaret Muir telah menetapkan hati dengan indie publishing demi keuntungan yang lebih jelas. Banyak penulis lainnya yang memulai dengan self publisher dan berjaya di ranah indie. Sebagian besar dari mereka akan menjadi “midlist” ataupun selebriti baru jika mereka memiliki visi yang jelas di dunia penerbitan. Robert Kroese dan Rachel Thompson masuk dalam kelompok ini.

Ketiga, penerbit legal akan merana dengan kehadiran buku-buku indie sampai mereka menemukan model bisnis baru. Salah satu langkah nyata yang bisa diambil untuk mengembalikan kejayaan masa lalu penerbit konvensional adalah dengan mengkooptasi penerbit-penerbit indie. Sejarah mencatat, pertunangan Amanda Hocking dan John Locke (yang memulai jejak penulisan mereka melalui indie publishing) dengan penerbit mainstream telah membuat indie publishing tak lebih sekedar liga kecil bagi penerbit besar. Dengan pemilihan penulis yang telah memiliki fans dan memaksimalkan fungsi sosial media, penerbit mainstream akan mengurangi resiko tidak laku dan meningkatkan jumlah buku-buku berstatus bestseller. Penerbit mainstream juga bisa belajar bagaimana menentukan harga dengan melihat kurva permintaan dan keuntungan maksimal.

Penerbit mainstream memerlukan strategi terkait pengelolaan backlist mereka secara lebih efektif. Hugh Howey menekankan bahwa terbitan fiksi yang menjadi top-seller bukanlah novel-novel terbitan terbaru. Penerbit mainstream bisa juga melakukan langkah menarik buku-buku mereka dari peredaran setelah beberapa bulan dan memokuskan promosi untuk penulis-penulis baru. Sebuah katalog lengkap yang tersedia dalam format elektronik akan menjadi sarana efektif untuk merespon tren pasar yang dinamis.

Fenomena mengejutkan indie publishing sebenarnya bukan hal baru. Ben Franklin telah mengenali era ini. Pada abad 16 sampai 18, pamplet memungkinkan penulis upahan seperti Thomas Pain untuk menyebarkan dan mempertahankan pandangannya dengan mudah dan murah. Pamphleteers (orang yang membuat pamplet atau yang mendistribusikannya) pada masa itu dituduh sebagai orang sombong, tidak kompeten dan pendurhaka. Tetapi, yang terbaik di antara mereka kemudian mengambil peran penting dalam dunia sastra pada masa Reformasi, Perang Sipil Inggris, dan Revolusi Amerika. Rasanya tidak berlebihan jika kita menyandingkan beberapa penulis indie dengan pamphleteers itu.

Diterjemahkan dari http://www.forbes.com/sites/davidvinjamuri/2012/08/15/publishing-is-broken-were-drowning-in-indie-books-and-thats-a-good-thing/6/