“Bertambahnya pengangguran intelektual karena lulusan universitas tidak klop dengan kebutuhan dunia kerja. Selain kurikulum yang bersifat teoritis di kampus, kebanyakan sarjana sekarang ini lulusan bidang sosial….” (Sjofyan Wanandi – Republika, 4 Desember 2012)

Di grup alumni Filsafat UGM, salah seorang dosenku yang saat ini sedang mengambil S3 di Amerika Serikat mengirimkan sebuah link dari harian Merdeka bertajuk “Sineas muda Yogya raih penghargaan film di Vladivostok & Hanoi” yang mengabarkan keberhasilan salah seorang alumni Filsafat UGM meraih penghargaan film tingkat internasional lewat karyanya “Bermula Dari A”, Bagus Wirati Purba Negara alias mas Popo.

Setiap kali demonstrasi yang digagas oleh mahasiswa Filsafat, mas Popo selalu membawakan teatrikal. Ya, di tahun 90-an sampai 2000-an awal, fakultas Filsafat UGM dikenal sebagai otaknya demonstrasi mahasiswa di Jogja, khususnya yang beraliran Kiri. Hari-harinya banyak dihabiskan di sekre Panta Rhei dan sangat jarang kutemui di kelas. Maka tak salah jika mas Popo termasuk mahasiswa telat lulus. Meskipun dia adalah alumni SMAN 3 Yogyakarta, SMA favorit yang terkenal dengan siswa-siswinya yang super cerdas.

Mas Popo yang dulu menjadi pemain teatrikal jalanan, sekarang berubah menjadi sineas kawakan dengan prestasi internasional. Apakah ada pelajaran sinematografi di Filsafat UGM? Tentu saja tidak. Mas Popo lebih banyak mengasah bakatnya di luar. Bergabung dengan komunitas.

Kembali pada quote yang disampaikan oleh Sjofjan Wanandi di atas, bagiku pernyataan itu tak lebih dari lontaran pebisnis yang selalu berpikir bagaimana menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Maka tak mengherankan jika yang terlontar adalah pemujaan terhadap kemampuan teknis. Atas dasar logika itu kemudian, Sjofjan menambahkan, “Lulusan STM lebih mudah mendapat pekerjaan daripada sarjana.”

Di satu sisi, saya menyepakati logika yang sedang dibangun oleh Sjofjan jika kerangka yang hendak dibangun adalah “kuliah untuk mencari kerja”. Namun, sayangnya kurikulum yang dibuat oleh “orang-orang hebat” di perguruan tinggi kita, terutama untuk jurusan sosial humaniora jarang yang memberikan mata kuliah praktis. Ditambah lagi beban kuliah membuat mahasiswa terhalangi untuk mengelaborasi bakat-bakatnya. Orang-orang di kampus lebih memuja-muji mahasiswa dengan IPK setinggi langit meskipun tak punya aktivitas ekstra apapun. Bahkan mahasiswa-mahasiswa bandel seperti Mas Popo cuma bikin pusing kampus karena lulus tidak tepat waktu, yang artinya menurunkan grade penilaian untuk akreditasi.

Beruntung Mas Popo tidak berpikir linear seperti kebanyakan mahasiswa sekarang, lulus cepat biar segera bekerja. Dunia yang dipilih oleh Mas Popo adalah dunia kreatif yang tak akan mungkin dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswa karbitan yang cuma mengejar nilai IPK. Ia tak butuh melamar kerja, karena yang dipentingkan adalah melahirkan karya. Menjadi pekerja tak lebih seperti robot yang patuh dengan instruksi ini dan itu. Bahkan terkadang harus menghapus nurani karena keuntungan perusahaan menjadi target nomor satu. Apalagi di kantor-kantor pemerintahan yang dihuni mayoritas orang-orang pencari aman dan penuh dengan tetek bengek birokratis.

Untuk teman-teman yang memilih jurusan eksak terkesan memang sudah ada arah yang pasti akan bekerja kemana setelah lulus nanti. Tapi bagi teman-teman jurusan sosial, rasanya mereka harus merubah paradigma berpikir. Kuliah itu bukan untuk menguasai kemampuan teknis tertentu, tetapi lebih kepada bagaimana meluaskan cara pandang dan mendewasakan pemikiran. Itu juga yang diyakini oleh presenter kenamaan, Najwa Shihab. Lulus dari Fakultas Hukum UI, Najwa kemudian berkarier di bidang jurnalistik, dan sekarang menjadi Wakil Pimpinan Redaksi Metro TV.

Di sisi inilah, lontaran-lontaran “salah jurusan” yang banyak disampaikan oleh mahasiswa-mahasiswa semester awal bisa direduksi. Proses yang kita jalani semasa menempuh pendidikan sarjana adalah proses pembentukan cara berpikir. Jadi remaja galau bermetamorfosis menjadi pemuda ideologis. Sebagai sebuah proses, maka tak jarang harus melewati proses yang panjang seperti mas Popo. Karena masa mahasiswa adalah waktu untuk mencari karakter diri. Proses inilah yang seharusnya dihargai oleh kampus dan tak lagi saklek dengan pragmatisme lulus cepat agar akreditasi bagus.

Di tengah banyaknya persoalan sosial humaniora yang dihadapi oleh Indonesia saat ini, seharusnya sarjana ilmu sosial tidak ada yang menjadi pengangguran. Karena banyak yang bisa dikerjakan dan bisa menghasilkan uang jika kreativitas pola pikir itu mereka asah semasa kuliah. Tapi sayang, jadi mahasiswa dengan IPK tinggi tanpa punya aktivitas di luar kampus lebih disukai saat ini. Sambil berharap akan diterima di perusahaan atau menjadi pegawai negeri. Maka tak salah ketika pertumbuhan ekonomi labil, lapangan kerja tak banyak dibuka, kecewalah mereka karena tak bisa menjual ijazah sarjananya.