Selasa, 26 Maret 2013, Koran Republika Edisi Kabar DIY-Jateng merilis pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Baskara Aji, terkait keberadaan asrama-asrama mahasiswa daerah yang ditenggarai sebagai tempat persemaian sikap eksklusif. Sebagai solusinya, beliau menyarankan agar mahasiswa dari berbagai daerah yang sedang menempuh studi di Yogyakarta untuk tinggal di rumah-rumah penduduk agar bisa belajar di “universitas kehidupan” sekaligus meredam terjadinya kerawanan sosial.

Tidak disebutkan apa yang melatarbelakangi pernyataan alumni Sosiologi Universitas Gadjah Mada ini. Yang jelas pernyataan tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi mahasiswa yang memilih tinggal di asrama daerah.

Jika ditelusuri lebih jauh, keberadaan asrama daerah di Yogyakarta sudah dimulai sejak tahun 1950-an. Kawasan yang menjadi sentra adalah Bintaran, dengan pertimbangan dekat dari Kraton Yogyakarta dan Ngasem yang kala itu dipakai sebagai kampus Universitas Gadjah Mada. Seiring perkembangan waktu, asrama-asrama daerah kemudian berdiri di berbagai kawasan sekitaran perguruan baik swasta maupun negeri. Malah beberapa di antaranya dibangun di atas tanah Kraton dengan persetujuan Sri Sultan.

Apalagi 5 tahun belakangan, banyak pemerintah daerah yang membangun asrama-asrama baru ataupun memperbaiki asrama-asrama yang telah ada. Boleh dikatakan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki asrama yang khusus diperuntukkan untuk putra-putri mereka yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Meskipun terlihat menyenangkan, sebenarnya asrama tidak menjadi prioritas tempat tinggal bagi mahasiswa daerah yang kuliah di Yogyakarta. Karena ada tanggung jawab sebagai duta daerah yang harus diemban, berbagai peraturan internal yang mengikat, dan pengawasan dari pemerintah daerah. Dari 250-an ribu mahasiswa daerah yang menimba ilmu di Yogyakarta, tak sampai 5% yang tinggal di asrama. Bahkan banyak asrama yang minim penghuni dan beberapa malah dialihfungsikan menjadi wisma penginapan.

Peluang untuk mengeksklusifkan diri sebenarnya lebih besar bagi mahasiswa yang tinggal di kos-kosan ataupun rumah kontrakan. Keberadaan mereka tidak terdeteksi secara jelas kecuali hanya dikenal sebagai mahasiswa. Sangat jarang kita menemukan anak-anak kos atau anak kontrakan yang dilibatkan dalam rapat RT, RW, ataupun Kelurahan. Kalau ada, itupun lebih dikarenakan kemampuan mereka menjalin komunikasi yang baik dengan warga sekitar.

Berbeda halnya dengan asrama daerah. Keberadaan asrama yang kentara di tengah-tengah masyarakat membuat mereka menjadi sangat familiar. Berbagai kegiatan baik yang sifatnya sosial, olahraga, keagamaan, ataupun kebudayaan sering melibatkan mereka. Bahkan tak jarang anak asrama dipercaya untuk menjadi Ketua Pemuda Kampung. Di ranah yang lebih pribadi, beberapa anak asrama daerah justru berjodoh dengan kembang desa Jogja.

Di samping itu, asrama daerah sering diminta oleh Pemerintah Daerah DIY baik provinsi ataupun kabupaten/kota, dan Perguruan Tinggi untuk tampil dalam berbagai pergelaran seni dan dialog budaya. Hal ini telah mendorong semarak pariwisata dan memperkuat semboyan “Jogja Miniatur Indonesia”. Silaturrahmi antar mahasiswa daerah pun terjalin erat lewat Ikatan Pemuda dan Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia yang digerakkan oleh anak-anak asrama dari berbagai provinsi.

Berkumpul dengan teman satu daerah adalah psikologis bawaan yang sangat wajar bagi kultur masyarakat Indonesia yang bersifat komunal. Di luar negeri kita mengenal Persatuan Pelajar Indonesia. Di Mesir dan Malaysia, beberapa pemerintah daerah memiliki asrama khusus yang diperuntukkan bagi putra-putri daerahnya.

Memang tak bisa dipungkiri ada kesan asrama daerah tampak eksklusif. Namun, apabila kita melihat dari sisi pelestarian budaya, kehadiran asrama daerah sangat penting. Betapa banyak anak-anak daerah yang ketika di kampung acuh tak acuh dengan tradisinya sendiri kemudian mulai membaca buku-buku terkait etnisnya dan mempelajari kesenian daerah asalnya saat tinggal di asrama. Sering juga asrama daerah menjadi sekretariat, tempat berkumpul para perantau sekampung untuk memikirkan kontribusi apa yang bisa diberikan kepada kampung halaman, dan berubah menjadi posko bantuan ketika Yogyakarta ditimpa bencana.

Eksklusivitas bukanlah disebabkan oleh sebuah bangunan yang bernama asrama daerah. Persoalan ini murni soal kepribadian masing-masing orang. Asrama bukanlah komunitas elite yang membuat penghuninya terhalang berbaur dengan masyarakat.

Imbauan yang disampaikan oleh Baskara Aji harus dibuktikan dengan data-data yang valid agar tidak menimbulkan keresahan baru. Karena sejauh pengamatan penulis tidak ada persoalan serius dengan keberadaan asrama-asrama daerah di Yogyakarta. Jikalau ada, itupun hanya kasuistik dan tidak bisa dipukul rata.