Sepulang dari Chicago University pada awal tahun 1970-an, Nurcholis Madjid muncul dengan gagasan baru, pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mulai dari kampanye penafsiran baru terhadap teologi Islam, penerimaan terhadap demokrasi, pluralisme dan humanisme dalam konteks keindonesiaan, pemosisian modernisme bukanlah westernisme serta slogan bombastis “Islam Yes, Partai Islam No”. Selepas meninggalnya pada tahun 2005, ide-ide cendekiawan Islam yang pernah digadang-gadang sebagai “The Next Natsir” ini tetap terus dikembangkan secara lebih massif terutama di perguruan tinggi Islam.

Gelombang arus liberalisasi pemikiran Islam semakin kuat dengan kehadiran Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tahun 2001. Kelompok yang bermula dari diskusi di Utan Kayu ini gencar menyuarakan kebebasan pribadi serta perlawanan terhadap “konservatisme beragama” yang dianggap menindas dan tak sesuai dengan nilai-nilai hak asasi manusia.

“Sekitar 30 tahun Nucholis Madjid berjuang untuk Islam Inklusif, dan lebih dari 10 tahun JIL mewarnai wacana pemikiran Islam Indonesia, tetapi apa hasilnya yang bisa kita rasakan saat ini?” Pertanyaan ini dilontarkan oleh Fathurrahman Kamal, Lc., M.Ag., kepada ratusan audiens “Seminar Pemikiran Islam” yang memenuhi Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah, Sabtu 16 Maret 2013.

Yang dihasilkan tak lebih dari dekonstruksi pemikiran yang membuat banyak orang ragu dengan kebenaran Islam. Di ranah akademis, kita menyaksikan lahirnya para sarjana-sarjana Muslim yang memuja teori-teori Barat dan begitu mudahnya mengotak-atik doktrin-doktrin baku yang telah terjaga selama berabad-abad lewat ulama-ulama yang hanif.

“Kekufuran epistemologis telah melahirkan para pengkhianat intelektual. Maka tak salah jika kemudian kita melihat para sarjana Islam yang sangat berani menyerang Qur’an dan Sunnah semata-mata karena dianggap tidak sesuai dengan semangat humanisme dan pluralisme yang mereka pelajari dari buku-buku ilmuan Barat,” ungkap alumnus S2 Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.

Para sarjana yang menekuni ilmu-ilmu keislaman terlalu sibuk dengan wacana pembaharuan pemikiran Islam. Terpesona dengan metodologi baru ala Barat. “Namun, apa yang telah dihasilkan? Sebagai contoh kecil, ekonomi Islam yang saat ini mendapat tempat spesial di hati masyarakat Indonesia lewat kehadiran lembaga-lembaga keuangan syariah awalnya lebih banyak disuarakan oleh tokoh-tokoh yang tidak berlatar belakang UIN seperti Adiwarman A. Karim ataupun Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec,” terang Fathurrahman.

Direktur Adab Institute Jogja ini mengkhawatirkan banyak para sarjana muslim yang tidak sadar dengan “warning” yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun, Arnold Toynbee, ataupun Samuel Hungtington terkait pasang-surut peradaban. “Para ahli sejarah itu, berkeyakinan bahwa semua peradaban besar yang ada di dunia ini dibangun atas landangan spiritual. Ketika aspek spiritual ini dihantam dan digerusi maka proses kejatuhan tinggal menunggu waktu,” jelas Fathurrahman.

Mencermati minimnya dampak progresif yang mampu dihadirkan oleh para tokoh dan pengikut liberalisasi Islam, Fathurrahman Kamal mengajak umat Islam Indonesia untuk melakukan “purifikasi keislaman”. Dalam artian, dasar-dasar teologis yang sudah pakem harus dikembalikan kepada otoritas ulama yang sudah menjaga kemurnian Islam sejak pewahyuan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam hingga hari ini.

Fathurrahman juga mengajak audiens yang kebanyakan adalah para aktivis dakwah dari berbagai harakah dan organisasi termasuk juga mahasiswa Malaysia yang sedang menempu studi di Yogyakarta, meneladani tokoh Islam yang banyak dilupakan orang, Mohammad Natsir. “Sudah saatnya para aktivis dakwah meneladani Natsir. Di saat sibuk dengan berbagai kesibukan baik dalam kapasitasnya sebagai pemimpin Masyumi, Perdana Menteri, Menteri Penerangan maupun Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, beliau masih memperingatkan umat Islam agar kritis terhadap paham Sosialisme, Liberalisme, Kristenisasi, dan Sekularisasi. Berbagai buku yang membela Islam dari serangan paham-paham Barat ditulis dengan baik oleh Natsir,” tutur Fathurrahman.

Teladan Natsir semakin lengkap dengan pola hidup sederhana yang ditampilkannya. Hal ini menjadi penting karena pilihan menjadi “liberal” tidak saja karena faktor mental inlander, tetapi juga disebabkan keterdesakan ekonomi. Sikap teguh Natsir membela Islam berbarengan dengan ketawadhuannya terutama dalam hal materi. “Bayangkan seorang Perdana Menteri tak punya gelas yang layak untuk tamu. Ketika berhenti jadi Perdana Menteri, beliau pulang dengan sepeda ontel. Pada suatu pertemuan di Yogyakarta tahun 1948 saat beliau menjabat Menteri Penerangan RI, Natsirlah yang berpakaian paling camping di antara semua pejabat yang hadir. Karena memang itulah pakaian paling bagus yang dimilikinya. Hingga beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikan sehelai baju yang lebih pantas,” tutur alumnus Fakultas Aqidah dan Dakwah Universitas Islam Madinah Saudi Arabia ini.

Menutup presentasinya, Fathurrahman menerangkan penyelenggaraan “Seminar Pemikiran Islam” selama 4 hari (14-17 Maret 2013) di Yogyakarta yang membahas tema “Pluralisme, Feminisme, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), dan Syiah bukanlah bentuk antipati ataupun intoleransi terhadap kajian-kajian tersebut. Akan tetapi semata-mata membentengi umat dari serangan dekonstruksi kaidah-kaidah pokok Islam yang terus digulirkan para pengusung liberalisasi Islam. Acara yang diinisiasi oleh Adab Institute Jogja dan ISID Gontor ini menghadirkan pembicara dari peserta Program Kaderisasi Ulama Majelis Ulama Indonesia yang ditraining khusus selama 6 bulan di ISID Gontor Ponorogo.