Reportase untuk “Seminar Pemikiran Islam” Adab Institute – Dipublish oleh Muslim Daily – Selasa, 19-03-2013 | 15:36:51 WIB

YOGYAKARTA, muslimdaily.net – Beberapa pihak menuding pengharaman pluralisme agama, penentangan terhadap pendidikan multikulturalisme, dan sikap kritis terhadap Syi’ah tak lebih dari sikap reaksioner yang muncul dari ketidakmampuan umat Islam Indonesia menerima pikiran-pikiran baru yang progresif terutama dari Barat serta kegagapan menghadapi keniscayaan kemajemukan.  Wacana itu kemudian digiring menuju perlunya rekonstruksi pemikiran Islam bagi sebagian besar umat Islam Indonesia baik dalam tataran akademis, sosiologis, dan yuridis. Cap anti HAM dan demokrasi menjadi simbolisasi ampuh untuk menjatuhkan mental para pembela Islam yang kukuh memperjuangkan otoritas Al Qur’an dan As Sunnah dari deraan distorsi dan penyelewengan makna.

Menjawab tudingan negatif itu, Dr. Hamid Fahmi Zarkarsyi, M.A. M.Phil., dalam Orasi Ilmiahnya pada “SEMINAR PEMIKIRAN ISLAM KE VI” yang diadakah oleh Adab Institute Jogja (Center fo Da’wah & Islamic Civilization Studies) bekerjasama dengan Program Kaderisasi Ulama ISID Gontor, Kamis 14 Maret 2013 di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengungkapkan bahwa semua tudingan itu tidak berdasar sama sekali. “Islam lahir di tengah masyarakat yang plural. Islampun tahu bagaimana harus memosisikan diri dalam kemajemukan,” ungkap Ketua Majelis Ulama dan Intelektual Muda Indonesia ini.

Kritik terhadap pluralisme agama berbentuk Pendidikan Multikulturalisme sebenarnya hendak menyelamatkan generasi muda Indonesia dari kegamangan akidah. Pendidikan Multikulturalisme hendak membawa peserta didik untuk mendekonstruksi keyakinan mereka bahwa agama yang dipeluknyalah yang benar. Karena dengan penegasan terhadap klaim kebenaran agamanya itulah generasi-generasi yang toleran bisa dilahirkan.

Secara implisit para pengusung ide Pendidikan Multikulturalisme menempatkan Pendidikan Agama Islam yang selama ini diberikan di sekolah-sekolah tidak mampu membentuk peserta didik yang menghargai agama-agama lain. Padahal, selama ini anak-anak Indonesia sudah terbiasa dengan berbagai perayaan agama lain dan tidak ada persoalan serius dengan kerukunan antarumat beragama.

Bagi Dr. Hamid, Indonesia tidak membutuhkan Pendidikan Multikulturalisme karena ide itu berawal dari sosio-kultural masyarakat Barat yang rasial dan eksklusif. “Di Barat, agama tidak boleh tampil di ruang publik. Tidak ada orang yang melakukan istighasah di Stadion Old Trafford. Karena bagi mereka, agama merupakan wilayah privat. Tak salah jika kemudian agama dipermasalahkan ketika muncul di ruang publik.”

Beda halnya dengan Indonesia. Ratusan ribu orang menghadiri istighatsah di Senayan tidak jadi masalah. Imlek dirayakan besar-besaran. Nyepi telah menjadi resepsi yang dimaklumi. Natalan telah menjadi hajatan nasional. “Jika kondisinya sudah demikian, apalagi yang perlu diajarkan lewat Pendidikan Multikulturalisme,” tantang Dr. Hamid.

Di ranah akademis, para pembela pluralisme agama menjustifikasi pandangannya dari ucapan tokoh-tokoh sufi, salah satunya Ibnu ‘Arabi. Ungkapan-ungkapan metaforis ketika menggambarkan Tuhan diselewengkan kepada konsep wihdatul wujud ataupun persamaan Tuhan di antara agama-agama. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, bahasa metaforis yang dipakai oleh kaum sufi adalah bentuk pemahaman mereka bahwa sesuatu yang metafisik sangat sulit diungkapkan secara deskriptif empiris.

“Tasawuf adalah ilmu yang bermula dari praktek. Ekstase-ekstase spiritual yang dialami oleh para sufi merupakan proses batin yang sulit untuk dituliskan. Maka dipilihlah bahasa-bahasa metafor mengungkapkan pengalaman-pengalaman spiritual,” jelas Hamid.

Selain persoalan pluralisme agama, kasus mutakhir yang mendapat perhatian Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi adalah himbauan agar Ahlul Sunnah lebih toleran dengan Syiah di Indonesia. Tesis “hegemoni mayoritas” santer disuarakan sebagai pembelaan terhadap keberadaan Syiah. Dr. Hamid mengungkapkan, ajakan untuk bertoleransi dengan Syiah adalah ajakan yang tak bersesuaian dengan fakta. “Sudah sangat kentara bahwa kebencian ada di pihak Syiah. Mereka mencaci maki dan menghina para sahabat yang dicintai oleh Ahlus Sunnah. Ketika Khomeini menyuarakan halalnya darah Salman Rushdie, hampir dalam waktu berdekatan ia juga menfatwakan halalnya darah Ihsan Ilahi Zahir, seorang ulama otoritatif terkemuka Ahlul Sunnah. Saat ini hanya ada 9 masjid Sunni yang diperbolehkan berdiri di Iran. Sementara sinagog Yahudi ada 90 buah,” terang putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini.

Di akhir orasi ilmiahnya, Dr. Hamid mengingatkan para akademisi Islam yang berkiprah di Universitas Islam Negeri untuk lebih selektif dalam mengakuisisi teori-teori baru terutama yang dimunculkan oleh ilmuan Barat. Sikap serampangan memakaikan pandangan-padangan Barat dalam ranah studi Islam malah akan mengerus keimanan. Padahal, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa berkah bagi umat dan menambah keimanan orang yang mempelajari. Ekonomi Islam yang lagi booming sekarang tidak lahir dari dari Universitas Islam. Tantangannya bagi teman-teman UIN adalah, apakah adopsi paham-paham Barat bisa kemudian melahirkan Psikologi Islam, Sosisologi Islam, ataupun Fisika Islam?” timpal peraih gelar master bidang agama dari Birmingham University ini.

Seminar Pemikiran Islam yang diselenggarakan Adab Institute Jogja dan ISID Gontor ini berlangsung selama 4 hari, bertempat di UIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Gadjah Mada, dan Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.