Tentang Gre


Apapun padanan kata yang hendak kurangkai untuk mengartikan GRE, satu hal yang tak bisa kupungkiri adalah 3 huruf itu merupakan 3 huruf pertama dari nama seseorang yang telah mencuri hatiku sejak kelas 2 SMP, GREATY.

Aku sadar sepenuhnya Greaty bukanlah jodohku. Sekarang dia jadi ibu dari seorang bayi laki-laki imut. Buah kasih pernikahannya dengan seseorang yang tentu lebih baik dariku. Mengingatnya pun tentu sudah haram bagiku, meskipun beberapa fotonya masih kusimpan sebagai kenang-kenangan. Yang suatu hari nanti mungkin bisa kuselipkan dalam autobiografi ataupun novel pribadiku.

Untaian kata-kata ini sengaja kutulis untuk mengucapkan terima kasihku untuk Greaty. Selepas berhenti bekerja sebagai staf website Center for Religious and Cross Cultural Studies Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan alasan yang bisa kupertanggung-jawabkan dunia akhirat, Gre Publishing lah yang menjadi sandaranku untuk tetap bertahan di Jogja.

Menawarkan jasa penerbitan buku dengan nama Gre Publishing kepada penulis-penulis yang ingin menerbitkan bukunya via self publishing, kukumpulkan rupiah demi rupiah. Sekedar mendapatkan uang untuk makan dan tetap bisa meneruskan kursus Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma. Jumlah yang sebenarnya belum bisa melampaui gaji yang kudapatkan ketika bekerja di UGM.

Tapi aku bangga dengan Gre Publishing. Masih bisa terus bertahan hidup meskipun pas-pasan. Bahkan banyak sosok-sosok terkenal dan teman-teman yang mau membantuku untuk membesarkan Gre Publishing.

Gre Publishing adalah penyemangat hidupku. Seperti Greaty yang menjadi gadis inspirasiku untuk melewati masa-masa sulit semasa SMP dan SMA.

Tumbuh di tengah keluarga yang saban hari bertengkar karena persoalan ekonomi. Depresi karena mendengarkan percekcokan dan tangisan yang tiada henti. Hanya lewat khayalan wajah manis Greaty lah kuobati gejolak batin dan tekanan perasaan.

Sejak awal aku sadar bahwa cintaku akan bertepuk sebelah tangan. Status ekonomi keluarga, kemampuan akademik dan tampilan fisikku yang pas-pasan sungguh jauh dibandingkan dengan keadaan Greaty yang saat itu bak Putri. Tapi dengan segala keberanian kutuliskan juga beberapa surat cinta untuknya. Walaupun berakhir dengan penolakan, paling tidak aku sudah menyatakan perasaanku.

Sakit memang ketika menghadapi kenyataan bahwa Greaty hanya bisa jadi gadis khayalanku. Tapi senyuman manisnya setiap kali kami berpapasan di lorong depan kelas SMA, saat bertatap mata setiap hari Senin pas upacara bendera dan hari Jum’at saat upacara kultum ataupun curi pandang saat ia menunggu angkutan selepas pulang sekolah, telah memberikan kekuatan tersendiri. Dorongan semangat untuk membuktikan bahwa aku bukan pemuda biasa.

Keberhasilanku bisa menembus UGM adalah buah dari semangat pembuktian itu. Meski tetap tak merubah pandangannya terhadapku.

5 tahun aku tak tahu kabar Greaty, tak pernah bertatap muka lagi dengannya. Baru sekitar tahun 2007 aku bisa menemukan facebooknya.

Sejak pertemuan terakhir di Bimbingan Adzkia di bulan Juni 2002 selepas mengikuti tes psikologis bersama Prof. Dr. Irwan Prayitno yang sekarang menjadi Gubernur Sumatera Barat, sampai hari ini tak pernah sekalipun aku bersua dengannya.

Greaty memang telah pergi. Pergi menjalani suratan hidupnya. Namun, dia tetap jadi inspirasiku. Senyumannya jadi penyemangatku. Namanya jadi pembakar bara semangat di hatiku dan meneruskan nafasku.

GRE adalah Greaty. Entah apapun pemaknaan baru yang akan kubuat untuk alasan-alasan tertentu.

Iklan

One thought on “Tentang Gre

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s