DDII dan Dakwah Politik Menuju 2014


Peringatan milad Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang ke 46 pada 26 Februari lalu terkesan sunyi. Hampir tak ada perhelatan ataupun tasyakuran yang diadakan. Malah selimut mendung hitam yang datang menaungi, yakni “tragedi” yang menimpa “tokoh-tokoh” partai politik berlatar belakang aktivis Islam yang sangat kuat, Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera, lulusan Universitas Muhammad Ibnu Saud Saudi Arabia dan Anas Urbaningrum, Ketua Umum DPP Partai Demokrat, mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam. Memang keduanya bukanlah sosok yang digadang-gadang sebagai “The Next Natsir” seperti halnya Amien Rais, ataupun Yusril Ihza Mahendra, tapi kiprah mereka sebagai aktivis Islam di ranah politik sedikit banyaknya memengaruhi pandangan orang terhadap Islam dan Politik.

Dewan Da’wah lahir di awal Orde Baru berkuasa. Harapan akan pemulihan dan pengakuan Masyumi yang tak kunjung datang, membuat Mohamad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan beberapa tokoh Islam kala itu mengubah haluan dakwah, “dulu berdakwah lewat jalur politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah”.

Selama ini Dewan Da’wah telah berhasil mengirimkan da’i ke berbagai pelosok pedalaman Indonesia, mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit, serta meredam laju Kristenisasi. Tapi satu hal yang tampaknya luput dari Dewan Da’wah adalah dunia politik praktis. Natsir sebagai pendiri Dewan Da’wah sampai Pemilu 1992 masih berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir, Gre Publishing, 2013). Artinya, Natsir masih memberikan arahan yang jelas kepada umat tentang preferensi politik.

Dewan Da’wah mengemban dua tugas dakwah, binaan wa difaa’an (membina dan mempertahankan). Membina mereka yang sudah muslim, baik yang muslim sejak lahir maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah. Mem¬pertahankan Islam dan umat Islam dari pihak-pihak yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam dan bahkan yang melihat Islam sebagai rival.

Penetapan Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka KPK sangat mungkin digiring kepada penguatan tesis Nurcholis Madjid “Islam Yes, Partai Islam No”. Padahal slogan inilah yang dilawan bertahun-tahun oleh pendiri Dewan Da’wah. “Paham Natsir” meletakkan Islam bukan sekedar persoalan pribadi dan kesalehan individu, jauh dari itu, Islam adalah falsafah hidup yang tidak mengenal pemisahan agama dan politik.

Tersandungnya Anas bisa saja bergulir pada stigmasisasi baru “Islam Yes, Partai Islam No, Aktivis Islam juga No”. Preseden buruk terhadap aktivis Islam akan memudarkan kepercayaan masyarakat dan menghambat kader-kader muda Islam yang ingin berdakwah di ranah politik.

Masa depan politik Islam menghadapi PEMILU 2014 patut diselamatkan. Penulis tidak menyarankan Dewan Da’wah untuk terlibat dalam politik praktis. Tetap pada koridornya sebagai organisasi dakwah, paling tidak ada dua hal yang bisa dilakukan oleh DDII. Pertama, mengaungkan kembali pemikiran dan etika politik Natsir kepada caleg-caleg Muslim, entah yang maju lewat parpol Islam ataupun dari partai nasionalis. Bahwa nilai-nilai Islam harus mewarnai setiap kebijakan-kebijakan yang dilahirkan. Kesederhanaan Natsir yang salah satunya terwujud dalam pakaian bertambalnya sewaktu menjadi Menteri Penerangan layak menjadi teladan. Kedua, mengkader para aktivis muda Islam yang tersebar di berbagai organisasi untuk menyintai ilmu dan melek politik Islam.

Politik memang memisahkan kawan dan lawan berdasarkan kepentingan. Tetapi dakwah selalu merangkul seluruh lapisan. “Kita” adalah terminologi yang sering dikedepankan dalam dakwah. Ketika Luthfi dan Anas tersandung, tidak seharusnya umat Islam yang lain bertepuk tangan. Karena mau tidak mau mereka membawa titel Islam baik sebagai pemimpin partai Islam atau sebagai mantan petinggi organisasi mahasiswa Islam terbesar di indonesia. Mencermati nama Islam yang tercemar, sangatlah bijak lewat momen 46 tahun ini DDII kembali menyiarkan konsep dan panduan dakwah politik Islam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s