Jayyid Jiddan


Jayyid Jiddan. Begitulah yang tertera dalam syahadah Ma’had Umar Bin Khattab yang semuanya bertulisan arabic. Ya, dua setengah bulan kemarin selain bergelut dengan kuliah bahasa Inggris di Sanata Dharma dan mengurus penerbitan, aku mengikuti kelas pagi Bahasa tingkat muyassar di Ma’had Umar Bin Khattab, sebuah ma’had yang dikelola oleh teman-teman salafi.

Muyassar adalah kitab yang tak lagi asing bagiku. Entah berapa kali aku mengikuti pelatihan bahasa Arab yang memakai kitab populer ini. Namun, semua kandas di tengah jalan.

Diajar oleh Mas Wiwit Hardi, pengajar Ma’had Umar Bin Khattab yang juga mahasiswa tingkat akhir Teknik Kimia UGM, telah kutekadkan sejak awal untuk menyelesaikan sampai akhir. Beberapa kali memang penyakit futur melandaku. Tapi alhamdulillah semua bisa disingkirkan.

Mas Wiwit tak pernah membicarakan soal celanaku yang tidak cingkrang dan jenggotku yang tak pernah panjang. Setiap hari pelajaran berlangsung santai dengan bumbu-bumbu humor yang seringkali membuat perut tak lagi kuat menahan tawa. Dari salah satu teman kepeleset ketika melafazdkan beberapa kata bahasa Arab sampai guyonan Yasser, mahasiswa Antropologi UGM, yang jadi “maskot” di kelasku.

Awalnya kelas dimulai jam 5.30. Pasca ujian mid semester entah kenapa semua siswa pada telat datang. Hingga tanpa ada sebuah kesepakatan yang dibuat, jadilah jam belajar berubah jadi 06.00. Ya, tentu saja jam selesai berubah, 07.15. Buat sebagian teman-teman hal ini ngak jadi masalah. Tapi bagi sebagian yang lain yang ada jadwal kuliah pagi jadi problem. Kebanyakan harus izin duluan meninggalkan pelajaran. Kalau aku sering izin keluar cepat cuma pas hari Kamis. Karena kajian Tafsir Al Qur’an Prof. Yunahar Ilyas sayang rasanya untuk ditinggalkan.

Ujian mid semester dari sekian banyak soal yang berikan hanya 2 yang salah. Nilai 9,6 tersenyum kepadaku. Meskipun ada teman satu kelasku yang dapat nilai 10, tapi raihan 9,6 itu lumayanlah. Yang memusingkan itu adalah ketika ujian akhir. Soalnya sulit dan tak mampu tercover oleh belajar keras seharian. Skor yang didapat cuma 7,2. Kecewa juga sieh.

Bulan Januari besok, mudah-mudahan bisa lanjut ke kelas Mukhtarot. Biar target bisa baca kitab bisa tercapai secepatnya.

Terima kasih buat Mas Wiwit yang telah membuat aku bisa meneruskan pelajaran Bahasa Arab dan enjoy kembali berbaur dengan teman-teman salafi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s