Hasil verfikasi parpol yang kemarin diumumkan KPU menjadi headline berbagai media nasional hari ini. 16 lolos, 18 gagal. Seperti biasa, yang lolos memanjatkan rasa syukur dan yang gagal mengancam akan  memperkarakan KPU ke pengadilan tata usaha negara.

Nafsu untuk berkuasa, itulah motivasi terbesar ketika orang mendirikan atau bergabung dengan sebuah parpol. Jadi anggota DPR, Bupati, Walikota, Gubernur ataupun Presiden adalah jatah yang sangat diharapkan oleh orang-orang partai. Rela berhabis-habisan harta, bahkan saling menikung kawan seperjuangan hanya untuk sebuah jabatan.

Besok, tentu akan banyak pakar yang membahas fenomena ini di kolom-kolom opini media massa. Dengan berbagai analisis dan perspektif tentunya. Saya tak ingin menggarami uraian-uraian mereka yang memang expert di bidang politik. Cerita berbeda yang hendak saya bagi kepada pembaca adalah kisah teman satu angkatan saya di filsafat UGM.

Sebut saja namanya Ardi. Dia boleh dikatakan sosok misterius. Jarang ada di kelas, tapi dikenal banyak dikenal akademisi hebat di kampus. Bahkan semasa mahasiswa pernah menjadi anggota termuda Forum Oslo, sebuah forum internasional yang konsen pada isu-isu kemanusiaan. Beberapa teman mengatakan dia seorang hafidz qur’an. Meskipun kesehariannya lebih banyak memakai celana jeans dan kaos oblong. Ngak terlalu dinampakkan simbol-simbol kesantrian dan kesholehannya.

Ahad lalu, saat hendak pulang selepas kajian Tafsir Alqur’an ustadz Ridwan Hamidi di Masjid Kampus UGM, aku kembali bersua dengannya. Seingatku ini adalah pertemuan kami pertama kali selepas perjumpaan terakhir tahun 2010 yang lalu. Sebenarnya Ardi tinggal di Jakarta. Kebetulan ada liburan Idul Adha, ia mengajak keluarganya liburan ke Jogja. Kesempatan berharga yang kugunakan untuk bertanya beberapa hal kepadanya. Terutama sekali soal kiprahnya selepas terpilih sebagai anggota DPR pusat tahun 2009, mewakili PKS dari Dapil Jawa Tengah.

Aku berharap akan mendapatkan informasi banyak seputar hiruk-pikuk Senayan. Eh dia malah berujar, “Aku ngak jadi DPR kok. Ngapain juga kerja kek gitu. Paling cuma bisa ngomong, diwawancarai tv dan koran. Lebih baik ngurusin bisnis.”

Anehnya, temanku satu ini ngak merasa rugi ketika melepas status sebagai Anggota DPR Pusat. Padahal dah capek-capek kampanye dan mengalang dukungan ke sana kemari. Ketika dah dalam gengaman, kok malah dilepas. Ngak masuk akal bagi kebanyakan orang. Dia malah menyerahkan posisinya kepada kader partai PKS yang lain.

Saat kutanyakan lebih jauh baru aku paham soal “keputusan aneh” itu. Menjadi politisi bukanlah keinginannya. Ia maju sebagai caleg karena dipaksa oleh petinggi partai PKS.

Saat ini Ardi menikmati status sebagai pebisnis impor komiditi pangan. Sudah punya kantor di Singapura malah. Di sela-sela itu, sempat juga dia mengambil S2 di Australia. Sambil menemani istrinya (alumni UI yang bekerja di Mahkamah Konstitusi) yang dapat kesempatan belajar di negeri kangguru itu.

Allah selalu membimbing hamba-hambaNya yang sholeh dari jeratan fitnah dunia yang nista. Kaya dengan berdagang, bukan kaya karena aji mumpung menjadi politisi adalah jalan hidup yang indah. Apalagi bisa bersama berjuang dengan bidadari hati yang cantik, cerdas dan baik hati.

Pas mau pamitan, kusampaikan do’a kesuksesan untuknya. Ia membalas dengan ungkapan, “Yang penting itu bukan sukses, tapi bisa husnul khatimah…” Setelah salah perpisahan, aku kemudian berjalan sambil tercenung mengingat “tamparan” menohoknya.

“Barang siapa yang mengejar dunia, maka dunia sajalah yang akan didapatkannya. Barang siapa berjuang untuk akhirat, maka Allah akan membahagiakannya di dunia dan menempatkannya dalam kemuliaan di akhirat…”