Ironi Walikota Padang


Tulisan ini berangkat dari tayangan salah satu televisi swasta nasional  tentang “Jembatan Maut” di Desa Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Menghiraukan resiko bahaya, para warga dan anak-anak sekolah nekad bergelantungan di atas derasnya aliran Sungai Lambung Bukik yang berbatu-batu besar demi melanjutkan aktivitas sehari-hari dan mendatangi sekolah. Kondisi yang bertahun-tahun dijalani, tanpa pernah tersentuh perhatian pemerintah Kota Padang.

Alih-alih memperhatikan kebutuhan warga, Walikota Padang sebagai pihak yang berwenang dan bertanggung-jawab, malah sibuk bersafari ke luar kota. Kalau sekedar melakukan kunjungan kerja penting, tentulah dapat dimaklumi bersama. Tetapi cerita menjadi lain kalau kunjungan itu adalah perjalanan politik dalam kaitan statusnya sebagai Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sumatera Barat.

Pertengahan 2011 yang lalu adalah hari-hari sibuk bagi Dr. Fauzi Bahar untuk bertandang ke Yogyakarta. Saat itu, putra mahkota Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional Prof. Dr. Amien Rais, M.A sedang bertarung dalam PILKADA Kota Yogyakarta. Mencermati potensi besar perantau Minang yang ada di wilayah Kraton Kasultanan Mataram itu (lebih dari 10-an ribu orang), Dr. Fauzi Bahar turut melakukan usaha-usaha pendekatan kepada Pengurus Ikatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta (IKBMY) periode 2011-2015.

Tentu, lobi-lobi politik ini tidak lepas dari transaksi uang yang berwujud dalam beberapa format. Ada bantuan untuk pembuatan Sekretariat IKBMY, donasi untuk Syawalan, dan bantuan pembuatan Rumah Gadang sekaligus hendak dijadikan sebagai Pusat Kebudayaan Minangkabau di Yogyakarta yang digagas oleh seorang doktor lulusan luar negeri. Paling tidak uang yang digelontorkan untuk menarik simpati demi PILKADA Kota Yogyakarta itu lebih dari 100-an juta rupiah.

Tidak diketahui secara persis darimana dana itu berasal. Apakah diambilkan dari dana taktis APBD Kota Padang atau dari saku pribadi Dr. Fauzi Bahar? Entah darimana sumbernya, yang pasti ada anomali menyedihkan sekaligus mengiris hati nurani. Tidak saja dari sisi posisi Dr. Fauzi Bahar sebagai pemegang amanah kesejahteraan masyarakat Kota Padang, tetapi juga dari segi pemaknaan filosofi merantau ala orang Minangkabau.

Sudah mafhum tertulis dan disampaikan secara lisan bahwa filosofi merantau yang diajarkan oleh adat adalah kemandirian dari ketergantungan pada kampung halaman. Bahkan sangat populer istilah “merantau cino”, yang dialamatkan kepada para perantau Minang yang tak lagi pulang ke kampung halaman. Pantang bagi orang Minang pulang sebelum sukses. Lebih baik melarat di perantauan daripada menyusahkan sanak keluarga di kampung.

Sangat aneh jika pengurus IKBMY yang mengaku dirinya pernah mengalami masa-masa pendidikan Surau dan dibesarkan dalam norma-norma adat yang masih tersangga kuat, tapi malah enggan memahami makna “merantau” yang sesungguhnya. Apalagi mereka adalah orang-orang yang secara finansial tergolong dalam kategorisasi kalangan elite di Yogyakarta.

Sebenarnya masih ada uang Rp. 50 juta sumbangan Walikota Padang yang sampai saat ini mengendap di rekening pengurus IKBMY. Uang itu diperuntukkan sebagai dana awal pembangunan Rumah Gadang Minangkabau di Yogyakarta. Namun, setelah satu tahun bergulir tak ada tanda-tanda kelanjutan. Malah, para inisiator yang dulunya begitu mengebu telah mengundurkan diri dikarenakan konflik pribadi dengan Ketua IKBMY.

Daripada hanya menjadi dana menganggur dan secara moral tidak pantas diterima oleh masyarakat perantauan, rasanya lebih baik dikembalikan saja kepada Dr. Fauzi Bahar agar bisa dimanfaatkan untuk masyarakat Padang yang sebenarnya lebih berhak dan membutuhkan. Terutama untuk pembuatan jembatan baru bagi masyarakat Desa Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang. Lebih elegan lagi jika Pengurus IKBMY mau sedikit berbaik hati memperbesar nominal itu lewat penggalangan dana dari perantau Minang yang ada di Yogyakarta.

Masyarakat selalu merindukan pemimpin yang mengerti kebutuhan mereka, bukan pemimpin yang lebih banyak melakukan perjalanan-perjalanan ke luar kota demi kepentingan politik pribadi. Suatu kemuliaan jika para perantau yang mencari rezeki di negeri orang, menahan diri dari sikap-sikap “merengek”, mengharapkan uluran tangan dari pejabat-pejabat Pemda baik Kota/Kabupaten maupun Provinsi Sumatera Barat.

Semoga kisah ironis “Jembatan Maut” Batu Busuk menjadi refleksi bagi semua elemen masyarakat Minangkabau baik yang di ranah maupun di rantau. Dan “perselingkuhan” memalukan yang terjadi di Yogyakarta bisa diambil ibrahnya oleh pengurus-pengurus Ikatan Keluarga Minang di daerah-daerah lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s