Ketika gadis yang begitu kita sukai lebih memilih seseorang yang secara akademik tidak lebih baik dari kita, tidak lebih bagus secara fisik dari kita, bahkan lebih suka memanggilnya dengan sapaan “binatang”, ada sedih yang sangat mendalam hadir seketika. Timbul gejolak jiwa, kenapa semua itu bisa terjadi?

Dalam kesunyian dan sepi aku mencari jawaban tentang hal ini. Secara akali, tak ada silogisme yang mampu memberikan jawaban  memuaskan. Kutinggalkan akal, dan beralih bertanya kepada hati. Hingga barulah aku tersadar akan misteri kehidupan yang tak semata-mata bisa dipecahkan lewat kecerdasan rasional.

Paling tidak ada 2 kemungkinan yang bisa dijadikan sebagai refleksi. Pertama, soal “over confidence” bahwa kita merasa lebih baik dari sosok yang dipilih oleh gadis yang kita cintai. Namanya juga “over confidence”, jadi subjektivitas dan pembangaan akan diri sendiri sangat mendominasi. Sehingga kacamata yang dipakai adalah kata mata kuda, seolah-olah kita terkesan lebih hebat dan mengungguli. Inilah awal dari kecewa, sedih dan tak ikhlas menerima penolakan.

Kemungkinan kedua adalah, bisa jadi secara objektif, kita memang lebih lebih baik dari “the lucky man”. Jika begitu kenyataannya, renungilah firman Tuhan bahwa “Laki-Laki Terbaik untuk Perempuan Terbaik pula”. Artinya, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan gadis yang jauh lebih baik, tetapi hanya saja Beliau menilai belum saatnya untuk dipertemukan dengan kita. Jika demikian, lagi-lagi untuk apa menangis untuk sebuah cinta yang memang tak diskenariokan Tuhan untuk kita. Karena bisa jadi, kalau memaksakan diri untuk mengejarnya, hanya malah membuat kita menjadi hina dan semakin menjauh dari pilihan terbaik yang telah disiapkan oleh Tuhan.

Seperti kata Agnes Monica, “Cinta itu ngak ada logika”. Cinta adalah misteri terbesar dalam kehidupan manusia, yang baru bisa dimengerti setelah dijalani.

Daripada menangisi nasib ataupun mengutuk takdir Tuhan yang kita nilai sekarang sebagai sebuah “momen menyakitkan”, lebih baik bangkit dan kerjakan hal-hal positif yang bisa dilakukan. Perlahan memperbaiki diri dan terus bersabar sampai Tuhan mempertemukan kita dengan hari-hari indah bersama gadis yang tepat.

Tak ada yang pasti di dunia ini kecuali takdir yang sudah digariskan oleh Ilahi… Jangan pernah memperjuangkan sebuah nama, karena akan berakhir kecewa… Berjuanglah untuk sebuah keyakinan “man jadda wa jada” dan “perempuan terbaik hanya untuk laki-laki terbaik…” Daripada menangisi keadaan, lebih baik mulai memperbaiki diri sendiri… Sampai Tuhan menetapkan keindahanNya…

Iklan