Posisi terakhirnya adalah manajer logistik Sari Husada, sebuah perusahaan produk nutrisi terkemuka di Indonesia. Soal gaji, jangan ditanya. Tidak hanya salary tetap dari perusahaan, pemasukan besar juga datang dari rekanan. Paling tidak setiap tahun bisa gonta-ganti dua mobil baru.

Berada di posisi “basah” karena mengatur pembelian semua barang yang dibutuhkan untuk produksi dan kelancaran dinamisasi perusahaan. Setiap kali transaksi selalu menyisakan keuntungan. Bukan karena kelihaiannya melakukan mark up harga. Tapi “kebaikan” hati distributor barang, berbuah amplop selipan di akhirnya setiap jual beli.

3 bulan terakhir setelah mengabdi lebih kurang 20 tahun, ia dilanda resah. Makan tak enak, tidur tak nyeyak. Hampir saban malam, tubuhnya berkeringat, panas mendera tubuh meski AC sudah disetting sedingin mungkin. Diburu oleh gundah, apakah uang yang diterima selama ini halal?

Saat mata tak kunjung mau dipejamkan, iseng-iseng ia memutar radio.  Memutar gelombang, memilih chanel yang asyik untuk didengar, ia bertemu dengan ceramah malam menjelang siaran ditutup oleh penyiar terakhir malam itu. Bahasa pelan, intonasinya rendah. Perlahan ia ikuti suara lirih radio yang bertanding dengan suara jangkrik yang begadang malam. Nasehat-nasehat sang kiyai ia simak. Tausyiah tentang ancaman Allah terhadap orang-orang yang memakan harta haram, tiba-tiba membuat terpengkur dan mengingat apa ia kerjakan selama ini. Tangisnya pecah. Tapi gelisah tak kunjung pergi membelit hatinya.

Malam-malam berikutnya tetap saja mata enggan untuk dilelapkan meskipun seharian letih bekerja. Lagi-lagi ceramah malam menjadi teman. Semakin ia dengarkan, semakin ia dihantui siksa kubur dan neraka. Hanya tangis jadi penumpah ketakutan.

Hingga di satu pagi, ia serahkan surat pengunduran diri kepada direksi. Setelah itu pulang. Sang Direktur yang baru tahu soal surat itu beberapa hari kemudian kaget. Kok tak angin tak ada hujan, manajer logistik perusahaannya tiba-tiba berhenti. Setelah ditelpon dan dimintai penjelasan, ia dibujuk untuk membatalkan keinginan keluar. Rayuan hanya tinggal rayuan. Tekadnya sudah bulat.

“Apa sieh yang kita cari dalam hidup Mas? Punya deposito miliaran, rumah mewah, dan mobil banyak tak ada artinya kalau malam tak bisa tidur karena diburu dosa?”

Sebenarnya, iapun tak pernah menumpuk setiap tips yang diberikan. Setiap bonus penjualan itu dikasih, ia selalu bagi dengan bawahannya dan lebih sering dikembalikan ke perusahaan. Tapi terus-menerus bersinggungan dengan “uang terima kasih” membuatnya tak pernah merasa nyaman.

Curhatan itu tadi malam ku dengarkan dari tetangga asramaku. Lebih 3 tahun bergaul, aku hanya tahu bapak gemuk dengan istri cantik yang tiap pagi sudah siap-siap mengantar anaknya ke sekolah itu adalah bapak-bapak yang hidup santai karena uang mengalir setiap bulan dari bisnis kos-kosan. Tampilan kesehariannya sederhana. Cara bicaranya juga biasa-biasa saja. Tak sempat terlintas kalau ia adalah mantan manajer perusahaan sekelas Sari Husada.

Selepas meletakan jabatan, 2 tahun ia berkelana dari satu pengajian ke pengajian. Tabungan dan pesangon bekerja 20 tahun lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga. Ketika saldo uang di bank mulai menipis, iapun memulai usaha baru, bisnis properti. Meski di awal-awal keuntungan yang didapat tak sebesar gaji terakhir sebagai manajer, tapi perlahan bisnis perumahannya mulai laris manis. Saat ini waktunya lebih banyak untuk keluarga, kegiatan-kegiatan sosial dan jadi aktivis pengajian.

Allah sesungguhnya akan menganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik apabila kita mau meninggalkan hal-hal yang diharamkanNya.