Menyambangi kampus tempat 7,5 tahun menempa diri, hadirkan suasana tersendiri. Kampus sederhana yang telah melahirkan banyak orang-orang kreatif. Sapaan adik-adik kelas yang dulu masih bertemu di tahun-tahun akhir sebelum wisuda dan obrolan singkat dengan 2 pejabat teras fakultas Dr. Mukhtasar (Dekan) dan Dr. Arqom Kuswanjono (Wakil Dekan I) menjadi teman pengusir sepi.

Lalu lalang mobil yang memasuki parkiran fakultas Filsafat UGM, memunculkan harap kedatangan tamu dari Jakarta yang sudah janji ketemuan hari ini. Bukannya turun dari mobil berplat B, tapi seorang yang berjalan santai ke arah perpustakaan ternyata adalah orang yang ditunggu-tunggu.

Tampilannya sederhana. Berbatik dengan bawahan celana dasar. Wajahnya lusuh, rambutnya putih dipenuhi uban, tapi matanya penuh gairah. Perkenalan awal sambil menyebutkan nama sudah cukup menjadi pemicu mengalirnya cerita. Seminggu yang lalu bapak tua yang sedang berada di hadapanku menelpon dengan nomor telepon Jakarta untuk memesan buku “Manusia Minangkabau” untuk dikirim ke Amerika Serikat dan Australia.

Namanya Goris. Singkatan dari nama baptis Georgerius. Setelah menamatkan sarjana di seminari terbesar di Indonesia Flores NTT, beliau merantau ke Jakarta. Awalnya bekerja pada seorang Romo dengan tugas melakukan editan naskah berbahasa Jerman.

Tuntutan biaya hidup yang tinggi di Jakarta, membuatnya harus mencari pekerjaan dengan salary lebih. Lamaran dimasukkan ke Penerbit Yayasan Obor dan Harian Suara Karya. Keduanya lolos dan bisa dijalani bersamaan. Menjadi editor dari pagi sampai sore. Jadi wartawan kantoran dari 4 sore sampai 9 malam.

Selama 3 tahun menekuni 2 pekerjaan itu telah membuat Pak Goris berkenalan dengan banyak peneliti luar negeri yang mengurus penerbitan buku di Yayasan Obor dan membangun jaringan  pertemanan para kuli tinta. Seringkali peneliti-peneliti asing itu meminta tolong kepadanya untuk mencari naskah-naskah langka yang tidak beredar di pasaran. Lewat bantuan kawan-kawan wartawan dari berbagai penjuru daerah, ia hampir selalu berhasil memenuhi pesanan peneliti-peneliti asing itu. Awalnya hanya kerja sambilan di tengah kesibukan utama sebagai editor dan wartawan kantoran.

Merasa jenuh terus menjadi anak buah orang, Pak Goris memutuskan berhenti dan bilang mau buka usaha sendiri. Ketika niat itu diutarakan kepada teman-teman sekampung yang juga berjuang hidup di Jakarta, mereka pada ketawa. “Hi Goris. Kita ini orang Flores. Sudah terbiasa jadi anak buah orang. Sekarang kau berpikir mau jadi pengusaha. Tak normal kau ini.” Tapi cemoohan itu dianggap angin lalu saja.

Kalau dibanding-bandingkan, gaji sebagai editor dan wartawan kalah dengan kerja sela-sela waktu membantu peneliti asing mencari naskah-naskah langka. Bulatlah tekadnya bantir stir. Berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Sulawesi disabangi untuk mendapatkan naskah atau rekaman suara yang diorder oleh kolega luar negeri. Dari naskah-naskah pesantren, buku-buku dosen proyek inpres, jurnal-jurnal universitas, pidato-pidato bupati, sampai rekaman ceramah dan kuliah. Dan kebanyakan semua itu sangat sulit ditemukan di pasaran.

Meski seorang penganut Katolik, Pak Goris ternyata cukup melek dengan wacana negara Islam di Indonesia. Suatu hari seorang peneliti  asing mengatakan kepadanya, “Salah satu penolak gagasan negara Islam di Indonesia adalah kalangan pesantren. Meskipun sangat didominasi pengaruh Kiyai, pesantren tetaplah lembaga yang memberi ruang kebebasan berpikir. Lihatlah pelajaran mantiq yang sampai hari ini masih menjadi kurikulum wajib. Mereka tidak suka dengan wacana negara Islam karena berpotensi memberangus kebebasan berpikir yang mereka rasakan sampai saat ini.”

Para peneliti asing berani membeli mahal naskah-naskah dari Pak Goris karena selain sangat penting untuk riset, juga didorong oleh cara berpikir futuristik. Barang-barang arkeologis saat ini menjadi barang antik yang rela dibeli ratusan juta oleh kolektor. Dengan logika yang sama, naskah-naskah yang hari ini tak diacuhkan sama sekali, 50 atau 100 tahun yang akan datang akan menjadi barang langka yang nilainya tak terkira. Karena akan menjadi kunci menguak sejarah pemikiran suatu bangsa.

Jogja adalah kota favorit Pak Goris. Selain istrinya adalah orang Jogja, ketersediaan naskah-naskah akademik unik yang melimpah membuatnya sering bolak-bolak mengunjungi kota ini. Kereta Senja Malam Solo menjadi teman pengantar setianya. Selain memborong buku “Manusia Minangkabau” milikku, Pak Goris memperlihatkan koleksi lain yang didapatkannya 2 hari ini di Jogja. Ada kumpulan puisi penulis-penulis pemula mahasiswa sastra UGM, dan beberapa jurnal yang diterbitkan oleh universitas di Jogja. Yang menarik adalah buletin mahasiswa UIN Sunan Kalijaga turut masuk tas beliau. Katanya, di luar negeri “naskah-naskah ecek-ecek” kek gini jadi bahan penelitian menarik dan punya daya jual tinggi.

Semakin tua omzetnya semakin naik. Begitulah penuturan Pak Goris kepadaku. Meski usianya sudah 63 tahun, ia belum terpikir untuk pensiun.

Terima kasih Pak Goris atas pertemuan yang telah membuka cakrawala baru tentang ruang-ruang misteri perbukuan yang selama ini  gelap bagiku…