Bahasa Inggris telah menjadi mata pelajaran yang didapatkan oleh banyak orang sejak SMP, SMA bahkan sampai kuliah. Tetapi masih banyak yang belum menguasainya secara baik, hingga menemui kesulitan mencari kerja selepas wisuda sarjana ataupun melanjutkan studi ke jenjang S2.

Itulah yang saya alami selepas lulus dari UGM 2010 yang lalu. Berbekal IPK 3,61 dengan pede saya melamar program ODP Bank Mandiri. Terhenti di tahap wawancara bahasa Inggris membuat saya benar-benar malu. Alumni UGM kok ngak bisa bahasa Inggris. Terpukul karena kegagalan itu, sayapun mulai mengambil kursus bahasa Inggris di beberapa tempat termasuk di Pare, sebuah kampung Inggris di Kediri yang telah tersohor kemana-mana.

Kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman mengikuti kursus bahasa Inggris di English Extention Course Universitas Sanata Dharma. Saya tercatat sebagai mahasiswa di sana sejak Februari 2011 setelah melewati test masuk yang lumayan sulit. Calon mahasiswa diberikan 100 soal seputar reading, vocab serta structure dan minimal harus betul 50. Kalau tak sanggup melewati ambang minimal, silahkan mengulang lagi di gelombang berikutnya (biasanya EEC mengadakan 2 gelombang tes setiap semester). Standar itu terus dipakai dari tahun ke tahun tanpa mempertimbangkan kuota ataupun latar belakang peserta tes. Ada kejadian seorang mahasiswa pascasarjana salah satu kampus terbaik di Jogja mencak-mencak ke Sekretariat EEC karena tidak diluluskan. Dengan santai pegawai sekretariat menjawab, “Silahkan Bapak ikut tes lagi di gelombang berikutnya.” Pernah suatu kali EEC membuka 8 kelas karena memang yang memenuhi standar kelulusan sangat banyak. Pas angkatan saya cuma 90-an orang yang lulus (3 kelas).

Nasib baik diterima sebagai pegawai honorer di CRCS UGM pada bulan April 2011, membuat saya kelabakan. Maklumlah metode kursus di Sanata Dharma mirip kuliah. Setiap minggu masuk 4 hari dari jam 2 siang sampai jam setengah 6 sore. Hingga dari 8 mata kuliah yang diambil tak ada satupun yang lulus. Hal ini terus berlanjut sampai semester 2. Hingga sia-sialah waktu satu tahun.

Setelah kontrak kerja habis di UGM bulan April 2012 lalu, pilihan meneruskan usaha penerbitan (GRE PUBLISHING) menjadi solusi untuk mempertahankan kelangsungan hidup di rantau orang. Mengelola usaha sendiri, relatif membuat saya agak longgar mengatur  jam kerja. Ngak mesti harus masuk jam 7 pulang jam 4. Yang penting deadline yang diberikan pelanggan bisa ditepati. Kuliah di EEC Sanata Dharmapun mulai teratur. Tak ada lagi absensi yang kosong. Dan nilai A dan B tersenyum di papan pengumuman.

Satu mata kuliah yang menarik bagiku semester kemarin adalah Writing A yang diampu oleh Ibu Yuseva Wardhana. Aku seolah-olah menemukan sosok guru yang kuidam-idamkan selama ini. Cantik, smart, dan bisa menyampaikan materi secara mudah kepada mahasiswa. Mungkin latar belakang Bu Yuseva yang bersekolah di SMA Stella Duce, SMA Katolik yang dikelola secara unik dan berbeda dari SMA kebanyakan, terus melanjutkan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Sanata Dharma, serta meraih master of education dari Arizona State University USA menjadikan beliau sosok guru yang selalu menghadirkan inspirasi setiap minggu.

Di pertengahan semester, Bu Yuseva diminta oleh Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris mengikuti training di Jakarta. Karena beliau dinilai paling layak untuk mewakili universitas. Fasilitas hotel mewah, uang saku dan pesawat sudah tersedia. Boro-boro antusias menyambut kepercayaan itu, Bu Yuseva malah memilih mengajar kami dan tetap stay di Jogja dibandingkan harus berangkat ke kota sumpek, macet dan ngak ramah kek Jakarta.

Nilai yang diberikan oleh Bu Yuseva untuk Writing A kepadaku adalah A. Beliau bilang, tulisanku punya alur yang berbeda dari tulisan teman-teman yang lain. Cuma perlu sedikit kehati-hatian dalam structure dan sedikit polesan dalam pemilihan kata. Ketika artikelku muncul di koran Republika, Bu Yuseva malah bilang, “Kok ngak coba nulis dalam Bahasa Inggris. Kalau kamu mau, saya bisa jadi editornya.” Langsung saja deh, hatiku berbunga-bunga, belum pernah ada guru bahasa Inggrisku yang menawarkan bantuan seperti ini.

Selain Bu Yuseva, EEC memiliki banyak lagi dosen-dosen lulusan luar negeri. Saat ini saja, ada 12 pengajar yang sedang studi S3 di Australia, Eropa dan Amerika. Diajar oleh orang-orang berlatar belakang S1 Pendidikan dan sudah merasakan atmosfer di lingkungan penutur asli bahasa Inggris, tentu tak bisa dibandingkan dengan kursusan yang hanya diajar oleh mahasiswa tingkat akhir yang miskin pengalaman dan menjadi guru hanya karena kesulitan ekonomi.

EEC Sanata Dharma sudah berdiri semenjak 1977. Telah banyak yang merasakan kesuksesan pasca melewati kuliah di sana. Salah satunya adalah Hanafi Rais dan Hanum Rais, anak tokoh reformasi Amien Rais. Ada juga seorang lulusan Ekonomi UGM yang memangkir ijazah S1-nya dan memakai sertifikat EEC untuk melamar sebagai Guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah favorit di Jakarta.

Kualitas tinggi tidak serta merta membuat EEC tergiur untuk memahalkan uang kuliah. Kenaikan tiap semester hanya Rp. 50.000. Saat terdaftar di awal 2011, SPP yang harus kubayar hanya Rp. 850.000 untuk 8 mata kuliah selama satu semester. Sama dengan Rp. 142.000 perbulan. Bandingkan dengan rata-rata Rp. 500.000 yang dipatok oleh lembaga kursus lainnya di Jogja.

Mungkin ada yang berpikiran dan mengira kursus di Pare lebih murah. Tapi menurutku, dengan perbandingan kualitas materi dan pengajar, EEC jauh lebih murah. Pare memang bagus untuk speaking dan daily english. Tapi kalau mau mempersiapkan diri untuk studi ke luar negeri, kurikulum yang dipakai oleh EEC jauh lebih kompetibel dibandingkan kursusan yang ada di Pare. Seorang temanku yang ambil kursus EEC, setelah setahun berhasil menaikkan lebih 100 poin score TOEFLnya dari raihan 457 sebelum kursus menjadi 587.

So, mau kursus bahasa Inggris murah dan berkualitas, masuk aja ke EEC Sanata Dharma…