Revrisond Baswir atau oleh teman-teman mahasiswa akrab disapa “Bang Soni” masih tetap memukau (paling tidak bagiku) hingga kemarin (Jum’at Sore, 27 April 2012), dalam kesempatan diskusi “Gadjah Mada Membangun Bangsa” yang dihelat oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Minangkabau Universitas Gadjah Mada di Auditorium Kedokteran UGM. Awal masuk UGM pada tahun 2002, aku  sudah mulai mendatangi seminar-seminar yang menghadirkan Bang Soni sebagai pembicara. Mungkin sudah mendekati angka 30 kali aku hadir sebagai pendengar setia beliau di berbagai forum yang dihelat di seputaran Jogja.

Bang Soni berdiri di barisan pembela ekonomi Kerakyatan yang dulu dikonsep Bung Hatta dan diteruskan oleh Prof. Mubyarto. Bertarung dengan mayoritas ekonom neo liberalis (termasuk Anggito Abimanyu yang mendapatkan simpati luar biasa dari masyarakat karena tersingkir dari kancah perebutan kursi wakil menteri keuangan beberapa waktu yang lalu). Di saat para koleganya di UGM bertimbun harta, buah “kerja keras” sebagai hamba kapitalis, Bang Soni bersama-sama dengan serikat buruh berjuang di Mahkamah Konstitusi, mengajukan judicial review terhadap beberapa Undang-Undangan pesanan kapitalis (UU. Kelistrikan. UU Penanaman Modal, UU Agraria, UU Migas).

Jalan idealis yang ditempuh oleh Bang Soni bukan tanpa rintangan. Dari godaan jabatan, uang sampai somasi dan ancaman pembunuhan datang silih berganti. Tapi tak sekalipun menyurutkan langkah dan menyiutkan nyali beliau untuk mundur dari gelanggang melawan kapitalis dan neoimperialisme.

Sudah jadi cerita umum bagi kita tentang para aktivis yang tumbang dari “jalan idealis” karena rayuan materi dan posisi. Tapi di usia yang sudah 54 tahun, Bang Soni masih tetap garang. Bertahun-tahun aku mencoba mencari jawaban, tapi baru kemarin beliau mau membukanya.

Revrisond Baswir adalah putra sulung dari seorang buruh Caltex Pacific Indonesia (sekarang bernama Chevron). Perumahan karyawan Caltex kala itu sudah dipisahkan dengan status kepangkatan di perusahaan. Perumahan buruh berada di bagian bawah dengan fasilitas sederhana. Sedangan kompleks petinggi berbalut kemewahan dan berbagai sarana hiburan, salah satunya bioskop. Bioskop itu haram dimasuki oleh keluarga buruh kelas bawah. Suatu hari, Bang Soni kecil bersama teman-temannya yang begitu ingin menonton film anak-anak yang populer kala itu,  berkumpul mencari jalan bagaimana cara bisa masuk ke dalam bioskop. Setelah berkeliling dan melakukan pemantauan, dapatlah celah  melalui got pembuangan air. Mulailah misi dilancarkan. Perlahan Bang Soni dan teman-teman menelusuri terowongan yang busuknya minta ampun itu. Setelah melewati perjalanan “heroik” berkubang air comberan, sampai juga “pasukan katak” itu di pintu masuk. Namun sial, di depan pintu masuk, satpam sudah sigap siaga mengusir mereka.

Masa-masa sulit kembali dialami ketika kelulusan dari SMA di Don Bosko Padang. Kerja keras berlatih soal-soal ujian masuk perguruan tinggi negeri, sirna ketika sang Bapak bilang tak mampu membiayai. “Cukuik sampai SMA sajo waang. Carilah karajo lai. Adiak-adiak ang masih butuh banyak biaya.” (Cukup sampai SMA saja. Carilah kerja. Adik-adikmu masih butuh banyak biaya). Niat kuliah di UGM dan bertemu dengan Rendra yang kala itu masih di Jogja perlahan sirna. Sejak itu ia banyak melamun dan bermuka murung.

Suatu pagi, ketika bapaknya sudah pergi kerja dan adik-adiknya berangkat sekolah, sang Ibu menghampiri. “Son, iyo ka kuliah juo waang ka Jogja? (Son, apakah kamu memang ingin kuliah ke Jogja?).” “Iyo mak. Kok indak buliah juo dek ayah, ambo kabur sajo dari rumah. Soal biaya indak usah amak pikiakan. Nanti ambo bisa karajo sambia kuliah (Iya ibu. Kalau ayah tetap tidak membolehkan, saya akan kabur dari rumah. Soal biaya tidak usah dirisaukan. Nanti saya bisa kerja sambil kuliah).” Melihat tekad anaknya yang tak bisa dibendung lagi, sang ibu malah menawarkan untuk “kabur bersama”. Dengan bekal seadanya, berjalanlah anak dan ibu itu ke jalan besar. Menyetop bus ke Jawa. Dengan keprihatinan, tapi membawa sebuah semangat besar. Masa depan yang lebih baik.

Di Jogja, Bang Soni berhasil masuk Akuntansi UGM. Sebuah jurusan dengan grade paling tinggi di rumpun IPS, sepopuler kedokteran di cluster IPA. Tak jarang Bang Soni harus puasa, karena di saku tak ada uang pembeli makan.

Hidup prihatin menjadikan orang berpikir lebih keras untuk tetap survive. Bukan jalan menghiba-hiba yang beliau tempuh. Tampil dengan intelektualnya, Bang Soni mulai mengirimkan tulisan-tulisan ke koran. Dari honor tulisan itulah beliau mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Revrisond Baswir lulus dengan predikat mahasiswa berprestasi UGM. Di masa itu, dengan ijazah akuntasi dari universitas sekelas UGM sangat mudah mencari kerja. Masuk CALTEX tinggal menyerahkan ijazah saja. Tetapi, traumatik masa kecil akan disparitas buruh dan karyawan atas di sana, membuatnya urung mengirimkan lamaran ke CALTEX.

Alhamdulillah, selang beberapa waktu setelah wisuda, Bang Soni diminta mengajar di almamaternya sendiri. Hingga kesempatan kuliah di USA diperolehnya. Dari Western Michigan University, beliau memperoleh gelar MBA.

Kuliah di USA tidak membuatnya kemudian bergabung dengan barisan Mafia Berkeley. Sepulang dari Amerika, malah membuat beliau semakin akrab dengan Prof. Mubyarto dan tertarik mendalami konsep ekonomi Hatta. Buku-buku Hatta beliau buru. Tidak di toko-toko keren di seputaran Jogja, tapi di toko-toko buku loak.

Kekaguman kepada Hatta mengantarkan Bang Soni masyuk dengan “Sejarah Ekonomi Indonesia” yang berbeda dengan jabatannya sebagai dosen Akuntansi. Semakin mempelajari, semakin beliau tersadar bahwa pergantian rezim Soekarno bukan karena peristiwa G30S PKI semata, tetapi lebih disebabkan, Soekarno sudah tidak bisa diajak kompromi lagi oleh AS. Maka tak salah setelah Soeharto berkuasa, kontrak karya dengan perusahaan asing diperpanjang secara besar-besaran.

Di saat koleganya di UGM berbondong-bondong meneruskan S3 ke AS, Bang Soni malah memilih S3 ke Universitas Airlangga. Padahal, MBA di Michigan sudah menjadi modal untuk lanjut S3 ke luar negeri. Rasanya, tidak mau di-brainwashing-lah yang menjadi alasan terkuat.

Banyak para aktivis yang berubah haluan pasca wisuda. Ketika godaan untuk bekerja di tempat yang mampu memberikan gaji besar, dengan antusias mereka mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan multinasional yang telah mengeruk kekayaan negeri ini dengan sangat rakus. Mereka tak peduli lagi dengan nasionalisme. Yang penting, bagaimana bisa dapat gaji gede, bisa beli rumah, mobil, dan hidup senang dengan istri yang cantik. Selesai. Syukur-syukur nanti bisa nanti haji setelah memasuki 5 tahun masa kerja.

Tapi tidak bagi Bang Soni. Lebih baik gaji kecil sebagai dosen, daripada harus menggadaikan idealisme. “Ketika kita sudah berkompromi dengan kapitalis, saat itulah perjuangan finish.”

Bang Soni percaya bahwa rizki, jodoh, dan maut sudah diatur oleh Tuhan. Kenapa harus khawatir dengan masa depan? Tak alasan untuk berpindah haluan, hanya karena takut miskin, disomasi ataupun dikucilkan dari pergaulan.

Keteguhan hati Bang Soni tentu tak lepas dari peran sang Istri. Gadis yang membuatnya jatuh hati ketika kuliah itu, sudah tak ambil pusing dengan permusuhan banyak orang yang tidak suka dengan omongan dan tulisan Bang Soni. Bukan tipe istri materialis yang merengek kepada suaminya untuk dibelikan barang-barang mewah ini dan itu.

Maka tak salah dari pasangan ini lahir anak-anak pemberani. Diceritakan oleh Prof. Siti Muslimah (Petinggi di Majelis Guru Besar UGM), putri sulung Bang Soni (yang kebetulan satu kelas dengan putra Prof. Siti) ketika ada guru yang overacting dengan cerita gelang baru, sepatu baru, tas baru, langsung membuat gaduh di kelas sebagai tanda protes ketidaksukaan atas kesombongan yang dipertontonan. Sang Guru tak mampu berbuat apa-apa karena putri Bang Soni memang anak yang pintar dan dikagumi oleh banyak guru karena keberaniannya mengemukakan sesuatu yang sebenarnya tak pantas diperbuat oleh seorang guru.

Setahuku, Bang Soni bukanlah orang-orang yang alim-alim banget. Tapi, aku merasa pemahaman Islam beliau lebih hebat dibandingkan dari beberapa ustadz yang berbusa-busa mulutnya menyampaikan Qur’an dan Hadist, tapi tak pernah mengajari muridnya realita ketidakadilan yang sangat nyata terpampang di depan mata. Mereka teriakan al wala’ wal bara’. Tetapi, turut senang ketika murid-muridnya bekerja di perusahaan kapitalistik yang telah merampok kekayaan negeri ini…

Terus berjuang Bang Soni… Izinkan aku menjadi masuk dalam barisan perjuanganmu… Demi sebuah cita-cita yang diteriakan oleh Tan Malaka… Indonesia Merdeka Seutuhnya…