Berhenti di perempatan jalan sambil menunggu traffic light memunculkan lampu hijau seringkali mengesalkan banyak orang. Meskipun hanya menyita waktu sekian menit, tapi banyak yang tak bisa sabar. Momen lampu kuning sebagai rotasi lampu hijau ke lampu merah menjadi ajang kebut-kebutan. Malah kalau taat aturan lalu lintas (dengan memelankan kendaraan saat lampu kuning menyala) alamat akan ditabrak orang dari belakang.

Bertarung dengan tebaran karbondioksida dari knalpot-knalpot motor dan mobil, beberapa orang mengantungkan nasib dari “kebaikan” sekian menit lampu merah. Pengamen dengan macam-ragamnya. Dari dengan alat musim ecek-ecek, gitar dan gendang, sampai pertunjukan kesenian daerah (jika pembaca pernah melewati jalan ring road di Jogja, akan menemui ngamen unik lewat pertunjukan para penari bercambuk panjang di tengah perempatan yang diringi alunan gamelan dari pinggir jalan). Ada juga anak-anak kecil berbekal kain lap mengusap-usap bagian depan motor, ibu-ibu mengendong bayi sambil memasang raut memelas demi uang recehan, para penyandang cacat yang mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil meringis kesakitan, terselip juga para banci yang tampil begitu menggoda dengan ciri “swer-sewernya”.

Di antara pengais rizki di perempatan jalan itu, ada sosok-sosok yang abai kita perhatikan. Mereka adalah para penjual koran ataupun para pedagang asongan. Dagangan yang sama sekali tidak menarik. Banyak di antara kita yang bisa membaca koran tanpa harus membeli karena sudah tersedia gratis di kantor. Sebagian dari kita bahkan tidak lagi membutuhkan koran karena mengakses informasi via gadget/mobile phone. Minuman dan makanan ringan yang dijajakanpun tidak mengundang selera. Tak lagi fresh karena sudah terkontaminasi keringat sang penjual yang bercucuran di tengah teriknya mentari. Beda dengan minuman dan makanan di super/mini market yang bertebaran di sepanjang jalan. Jadilah belanja di perempatan jalan adalah sesuatu yang jarang kita lakukan.

Sebagian orang lebih ringan tangan kepada pengemis/pengamen dibanding pedagang koran/asongan. Kadang menginfakkan lembaran 500 atau 1000 rupiah. Tetapi kepada pedagang yang belum tentu dapat untung 500 rupiah dari tiap barang yang dijualnya, kita teramat pelit.

Sadar atau tidak sadar, perilaku lebih peduli kita kepada pengemis/pengamen dibandingkan kepada para “pedagang jalanan” telah menumbuhsuburkan praktek meminta-minta. Sudahlah capek, kemudian barang tak laku pula, lebih baik jadi pengemis/ngamen saja. Cuma modal baju lusuh, wajah memelas (untuk pengemis) dan “krecek-krecek” (alat musik yang terbuat dari tutup botol minuman yang dipipihkan) atau gitar mini dengan lagu yang tak pernah tuntas, bisa mendapatkan uang yang lumayan. Mengemis/ngamen ngak mengenal kata rugi. Beda sama jual koran/ngasong, yang kalau barang tak laku alamat rugi akan ditanggung.

Seringkali kita memang tak butuh koran, tak butuh minum dan tak perlu membeli makanan ringan di perempatan jalan. Tapi maukah kita memberikan secercah harapan kepada mereka bahwa apa yang sedang mereka lakukan “lebih terhormat” daripada mengamen/meminta-minta. Harapan yang membuat mereka tetap percaya bahwa kerja keras itu lebih membahagiakan.

Koran bisa kita tumpuk, kemudian diberikan kepada pemulung. Soft drink ataupun snack bisa kita kasih kepada pengayuh becak yang lagi bersandar kelelahan di emperan jalan. Dengan uang 1000-2000 rupiah, kita telah memberikan semangat kepada mereka untuk terus berjuang dan tak banting stir jadi pengemis/pengamen jalanan.