Sampai saat ini UGM telah meluluskan 1600 doktor dari berbagai bidang keilmuan. Sebuah raihan yang membanggakan dan memperlihatkan dominasi UGM jika dibandingkan dengan total keseluruhan doktor lulusan dalam negeri dan luar negeri yang dimiliki Indonesia, 23.000-an orang. Walaupun dikomparasikan secara global, jumlah itu masih jauh dibandingkan  Amerika Serikat yang memiliki 3,1 juta Doktor dan India dengan 1,69 juta doktor.

Kondisi ini menjadi sebuah keprihatinan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk membuka program S3. Namun, amat disayangkan “program percepatan doktor” ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk meraih pundi-pundi materi dengan menyelenggarakan “S3 Abal-Abal”.

Sejak memproklamirkan visi World Class Research University, UGM telah melakukan berbagai peningkatan kualitas riset dan seleksi ketat mahasiswa. Karena bagi UGM pendidikan bukan sekedar institusi pemberi gelar, tetapi untuk mencetak orang-orang berkualitas.

Dulu memang ada selentingan dengan uang sekian ratus juta, “doktor” bisa diraih dengan mudah. Tapi hari ini, jika pola pikir seperti masih anda pertahankan, bersiap-siaplah untuk kecewa. Regulasi penerimaan mahasiswa UGM, apalagi doktor, sudah sedemikian ketat. Berbagai macam kualifikasi harus dipenuhi. Tidak sekedar sudah mengantongi ijazah S2, tetapi juga kemampuan bahasa (TOEFL 500) dan kemampuan analitis (TPA 550) harus dipenuhi.

Belum lagi ketika memasuki bangku perkuliahan. Kehadiran doktor-doktor baru lulusan luar negeri, telah membawa angin perubahan dalam sistem pembelajaran. Kurikulum lama dibongkar habis dengan metodologi-metodologi baru. Jika masih terpatron dengan “arus lama” siap-siaplah mendekonstruksi habis “paradigma” yang terlanjur dianggap kebenaran selama ini. Dan siap-siap juga untuk lulus dalam jangka waktu yang lama karena harus “membersihkan” dulu kekeliruan yang terlanjur mengendap di pikiran.

UGM tidak pandang bulu. Mau pejabat negara, orang kaya, ataupun dosen biasa, semua harus siap-siap dengan pembelajaran baru ala UGM. Dicecoki dengan literatur terbaru yang dipakai oleh universitas-universitas kenamaan dunia agar mereka terkoneksi baik dengan wacana keilmuan internasional. Tak hanya itu, professor-professor asing dihadirkan untuk memberikan kuliah, baik dalam bentuk guest lecture ataupun visiting professor yang mengajar selama satu semester. Jangan heran jika anda menemukan hampir tiap minggu di UGM ada publikasi guest lecture bersama professor-professor universitas ternama luar negeri dan banyaknya dosen-dosen londo yang berlalu-lalang di gedung-gedung megah UGM.

So, jangan remehkan para doktor lulusan UGM…