Tulisanku “Doktor Cumlaude” dan “Gelar Doktor Dijual Bak Kacang Goreng” menjadi perbincangan serius di kalangan petinggi Sekolah Pascasarjana UGM. Karena dalam banyak sisi dianggap merugikan dan menyerang secara frontal institusi dan pribadi tertentu. Tapi di sinilah aku menemukan sebuah suasana  demokratis. Tidak ada ancaman pemecatan kerja ataupun intimidasi psikologis. Malah ruang dialog dibuka secara luas, karena orang-orang hebat di Sekolah Pascasarjana bukanlah sosok-sosok “alergi” dengan kritik.

Ada beberapa poin yang perlu aku klarifikasi, agar tidak menimbulkan fitnah dan merugikan pihak-pihak tertentu. Pertama terkait program studi Kajian Media dan Budaya yang “memberikan” gelar doktor untuk WAKASAL. Setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut, ternyata memang definisi Media dan Budaya yang dimaksudkan oleh pengelola prodi itu berbeda dengan apa yang aku pahami sebelumnya. Aku luput dari telaah “relasi kekuasaan”. Relasi kekuasaan dengan kebudayaan dan media massa adalah kajian kontemporer yang sedang asyik-asyiknya dibahas oleh dunia akademik. Dalam sudut pandang inilah disertasi Pak WAKASAL mendapat justifikasi ilmiah sebagai disertasi kajian Media dan Budaya.

Kedua, terkait dengan keraguanku tentang pembagiaan waktu sebagai pejabat negara dan mahasiswa S3. Informasi internal yang kudapatkan, Pak WAKASAL adalah salah satu mahasiswa unik yang beda dengan mahasiswa pejabat lainnya. Saat terdaftar sebagai mahasiswa S3 UGM, beliau masih belum menjabat sebagai WAKASAL. Memposisikan diri secara egaliter, beliau mengikuti perkuliahan sesuai dengan jadwal semestinya. Tidak ada kelas ekslusif, tidak ada perlakuan khusus. Semua berjalan normal. Sehingga beliaupun di awal-awal sempat keteteran dengan ilmu baru yang dipelajarinya. Tapi terlahir sebagai tentara yang ulet dan salah satu lulusan terbaik TNI AL, beliau berhasil melewati masa-masa sulit itu dengan manis.

Sehubungan dengan effort orang-orang yang dididik di sekolah militer, aku punya kesan bagus dengan seorang teman sewaktu masih bergulat di komunitas Salafi Pogung. Ada seorang teman, lulusan SMA Taruna Nusantara Magelang, yang kuliah di Kedokteran UGM. Di antara teman-teman yang tinggal di wisma Salafi, beliau tampak berbeda. Dia mengatur waktu lebih ketat dibandingkan penghuni-penghuni lain yang berasal dari SMA biasa.

Berkaca dari pengalaman ini, aku secara pribadi tidak meragukan kemampuan intelektual dan kedisiplinan Pak WAKASAL ketika menjalani program S3 di UGM. Karena keuletan beliau diakui oleh para pengajar yang berinteraksi lebih intens.

Ketiga, soal validitas data. Sebagai petinggi di TNI AL tentu beliau punya akses kuat untuk bepergian ke daerah-daerah terluar Indonesia, termasuk Natuna yang menjadi tempat penelitian. Tetapi ketika FGD, observasi, dan penelitian dilakukan, beliau tidak menempatkan diri sebagai “orang penting”. Pak WAKASAL berbaur dengan masyarakat dan mencoba menjalin komunikasi secara terbuka penuh kejujuran. Atas dasar itulah, kita akan merasakan sebuah empati di dalam disertasi beliau terhadap kondisi miris masyarakat Natuna. Sebagai “orang pusat”, dengan rendah hati beliau mengakui kesalahan pemerintah pusat selama ini dan mencoba menawarkan konsep pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dengan istilah “The Center of Margin”. Mencoba memandang Indonesia dari pulau-pulau terluar, sehingga tidak terjadi lagi ketidakadilan dan potensi-potensi konflik di daerah perbatasan.

Jujur, setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar, aku disadarkan oleh banyak hal. Pertama, perlunya verifikasi langsung. Berbekal dengan informasi di website sangatlah lemah untuk mengambil sebuah kesimpulan. Kedua, jangan menjadikan Ujian Promosi Doktor sebagai penilaian kualitas seorang doktor. Aku teringat dengan kisah seorang doktor UGM yang melakukan kesalahan fatal ketika menjawab pertanyaan salah seorang penguji saat Ujian Terbuka berlangsung. Ketika aku tanya lebih lanjut, ternyata saat itu beliau diserang kelelahan teramat sangat, karena harus mengurus keluarga yang datang dari kampung. Sampai-sampai beliau tidak tidur semalaman.

Aku pikir dalam aspek tertentu, “ketidakmaksimalan” terjadi saat ujian terbuka Pak WAKASAL. Mungkin bukan soal kelelahan. Namun, pertanyaan para penguji yang lebih senang dengan isu-isu nasionalisme dan relasi kekuasaan, telah menggiring beliau memberikan jawaban yang terkesan politis dan birokratis. Sebenarnya, kalau kita dengarkan dengan seksama, tetap terasa kekuatan argumen akademisnya. Saya tidak mengatakan ini adalah kesalahan para penguji, karena bisa jadi pertanyaan-pertanyaan rumit soal epistemologi, metodologis dan kekhasan ilmiah sudah ditumpahkan saat ujian tertutup.

Lewat forum ini, dengan rendah hati, aku hendak mengucapkan permintaan maaf atas “kecurigaan berlebihan” yang melingkupi tulisan terdahulu kepada Pengelola, Mahasiswa serta Alumni Program Studi Kajian Media dan Budaya Sekolah Pascasarjana UGM. Terutama sekali, permintaan maaf secara tulus aku haturkan kepada Pak WAKASAL. Karena tulisan nir verifikasi yang kubuat beberapa waktu lalu telah merugikan mereka.

Ini akan menjadi pembelajaran berharga bagiku untuk lebih hati-hati dan kritis dalam membuat sebuah tulisan. Mengkritisi orang lain adalah ciri khas akademisi. Tetapi kritik terhadap diri sendiri adalah sikap yang harus dimiliki seorang akademisi… Terima buat teman-teman kantor yang telah memberikan pelajaran berharga bagiku untuk kasus ini…

SELAMAT BERJUANG PAK WAKASAL. MUDAH-MUDAHAN ALLAH MEMBERIKAN JALAN DAN BERKAH ATAS ILMU DAN JABATAN YANG BAPAK PEGANG… AMIEN…

Iklan