Aku kagum dengan sekelompok mahasiswa yang masih mau turun ke jalan untuk berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang dianggap akan semakin menyengsarakan rakyat. Meskipun ketika berteriak-teriak di pinggir atau perempatan jalan, ratusan bahkan ribuan kendaraan berlalu-lalang tampak acuh tak acuh dengan aksi mereka. Walaupun sebagian besar mahasiswa yang lain lebih memilih masuk ruang kelas ber-AC mendengarkan dengan suntuk uraian dosen agar bisa meraih predikat  cumlaude, lulus cepat, dan bisa bekerja di BUMN yang menyediakan gaji besar.

Para politisi non Demokrat sibuk memanfaatkan rencana kenaikan BBM untuk menaikkan citra partainya. Dengan argumen-argumen manis, mereka tampak begitu peduli dengan efek domino kebijakan tersebut bagi rakyat kecil. Sementara lembaga-lembaga survey sibuk menyebar polling untuk melihat fluktuasi popularitas SBY akibat langkah penaikan harga BBM yang diklaim sebagai penyelamatan keuangan negara.

Dua minggu yang lalu, aku kedatangan tamu seorang kakak asrama yang hampir 10 tahun bekerja di kapal pengangkutan barang. Laut Cina Selatan adalah trayek yang biasa dilaluinya, termasuk perairan Selat Malaka. Bekerja di laut memang profesi yang tak terlalu menarik bagi banyak orang. Harus meninggalkan keluarga berbulan-bulan lamanya, bertarung dengan ganasnya ombak laut dan resiko disandera perompak.

Bermula dari cerita-cerita ringan tentang pengalamanku pulang kampung dengan kapal perang Tanjung Native milik TNI AL yang super lambat, tiba-tiba obrolan beralih serius. Tentu teman-teman masih ingat dengan Kapal Sinar Kudus yang disandera oleh perompak Somalia. Kata kakak asramaku itu, sebenarnya ombak yang diakibatkan oleh kapal itu sudah bisa membuat kapal kecil perompak terjungkal. Tapi gara-gara sang kapten kapal memperlambat kecepatan, perompak-pun leluasa menjalankan aksinya. Sudah menjadi rahasia umum di antara “orang laut”, bahwa penghematan minyak selama perjalanan bisa menambah uang saku.

Logikanya begini, setiap kapal yang hendak berlayar diberi stok bahan bakar yang dipaket akan habis selama perjalanan. Oleh kapten kapal, stok itu diakali agar tersisa. Dan salah satu caranya adalah memperlambat laju kapal. Ketika sampai di pelabuhan yang dituju, kapal disandarkan dan minyak yang tersisa dijual. Kakak asramaku itu bilang ketika pelayaran ke Jepang, dia berhasil menjual bahan bakar yang tersisa senilai 50 juta. Kenapa kapten kapal melakukan tindakan memperlambat laju kapal yang sangat beresiko itu? Salah satu alasannya adalah gaji yang kecil.

Praktek mafia sebenarnya tak terjadi di daratan saja. Di lautpun aksi kejahatan berlangsung lebih ngeri lagi. Salah seorang sahabat kecilku yang lulusan STAN dan pernah ditempatkan di Batam mengatakan, “Kalau mau transaksi gelap secara bebas, lakukanlah di laut. Aman dan kemungkinan tertangkap sangat kecil.”

Dan mafia perminyakan juga terjadi di lautan. Ketika kapal-kapal tanker Pertamina Hulu mendistribusi minyak ke kilang-kilang pengolahan, mereka hanya menurunkan sebagian dari isi muatan, kemudian berputar ke Singapura untuk mendrop “sisa” di sana dan menjualnya kepada cukong-cukong minyak. Anehnya, minyak yang berasal dari titik-titik tambang pertamina itu, dibeli lagi oleh Pertamina dari tangan para cukong dengan harga yang lebih mahal.

Praktek itu dilegalkan dengan keberadaan PT. Petral di Singapura yang merupakan anak perusahaan Pertamina yang diplot sebagai pengatur distribusi minyak mentah. Padahal, orang-orang Pertamina sendiri mengatakan minyak dari kilang-kilang penambangan bisa dikirim langsung ke kilang-kilang pengolahan Pertamina tanpa mesti mampir dulu di Singapura.

Saya hanya termanggu… Kasihan teman-teman mahasiswa yang harus meninggalkan kuliah untuk berdemonstrasi dan terkadang harus bentrok dengan polisi yang cuma tahu bagaimana menertibkan keadaan. Sementara, segelintir orang-orang Pertamina, pejabat negara, dan pengusaha tertawa terbahak-bahak di hotel-hotel mewah bintang 5 menikmati “uang haram” dari margin penjualan minyak di Singapura yang dianggap seolah-olah wajar.